Adicandra datang ke warung Sundari sendirian pada suatu senja yang merah, tanpa rombongan pengawal, tanpa map berisi penawaran resmi, hanya seorang lelaki berjas mahal yang duduk di kursi plastik di warung nasi uduk seakan ia datang untuk makan. Sundari, yang sedang membereskan dagangan, berhenti dan menatapnya. Sudah lama ia tidak melihat pengacara itu sedekat ini, dan ia melihat sesuatu yang berbeda di wajahnya; bukan kesombongan yang biasa, melainkan keletihan, dan di balik keletihan itu, sesuatu yang nyaris seperti rasa ingin tahu.
"Saya tidak ke sini untuk menggertak, Bu Sundari," kata Adicandra, suaranya tenang. "Saya ke sini untuk bicara jujur, sekali ini saja, dari satu orang ke orang lain. Boleh saya minta segelas teh?"
Sundari menuangkan teh, meletakkannya di hadapan lelaki itu, dan duduk di seberangnya. Di belakang, di dalam, Lintang mengintip dari balik tirai.
Adicandra menyeruput tehnya, lalu meletakkannya pelan. "Saya akan sampaikan apa yang klien saya tawarkan, dan saya akan sampaikan juga apa yang akan terjadi kalau Ibu menolak. Setelah itu, terserah Ibu." Ia menatap Sundari lurus. "Tawarannya adalah penyelesaian terbesar yang pernah kami ajukan. Bukan lima ratus juta. Jauh lebih besar, untuk Ibu dan untuk semua keluarga korban, ditambah jaminan keamanan penuh; tidak akan ada lagi gangguan, tidak akan ada lagi gugatan, tidak akan ada lagi api di tengah malam. Anak Ibu bisa sekolah dengan tenang. Warung Ibu bisa buka tanpa takut. Ibu bisa hidup, akhirnya, hidup yang layak."
"Syaratnya?" tanya Sundari, walau ia sudah tahu.
"Syaratnya tetap sama seperti dua tahun lalu, Bu. Kasus ditutup. Tanpa pengakuan bersalah. Disebut penyelesaian damai atas musibah." Adicandra menatapnya. "Itu pintu pertama. Dan saya jujur pada Ibu, itu pintu terbaik yang akan pernah Ibu dapat."
"Dan kalau saya tolak?"
Wajah Adicandra tidak berubah, tapi suaranya turun beberapa derajat, menjadi lebih dingin. "Kalau Ibu tolak, maka pintu kedua yang terbuka. Dan pintu kedua itu tidak akan menyenangkan. Klien saya punya sumber daya yang Ibu bahkan tidak bisa bayangkan. Akan ada gugatan baru, dan lagi, dan lagi; gugatan yang masing-masing akan menguras tenaga, waktu, dan uang yang tidak Ibu punya. Bu Ratri sudah disibukkan urusan etiknya. Saksi Ibu, Haryanto, posisinya rapuh; cukup satu tekanan lagi dan dia bisa menarik semuanya. Para relawan muda itu bisa kami buat sibuk dengan urusan mereka sendiri. Satu per satu, semua yang Ibu bangun bisa kami urai. Dan di ujungnya, Bu, kalaupun Ibu menang, kemenangan itu akan datang ketika Ibu sudah hancur; sakit, miskin, sendiri, dan anak Ibu sudah dewasa tanpa ibu yang utuh. Itu yang akan terjadi. Saya tidak mengarang. Saya hanya menggambarkan apa yang saya tahu pasti bisa kami lakukan."
Ia berhenti, lalu menambahkan, dengan nada yang anehnya lebih lembut, hampir seperti memohon, "Saya sudah lama di dunia ini, Bu. Saya sudah melihat banyak orang seperti Ibu. Mereka semua punya kebenaran. Tapi kebenaran tidak memberi makan anak. Kebenaran tidak menyembuhkan stroke. Ambil tawaran ini. Menangkan hidup Ibu yang tersisa. Kebenaran sudah cukup Ibu perjuangkan; tidak ada yang akan menyalahkan Ibu kalau berhenti sekarang."
Sundari diam lama. Di luar, langit semakin merah, lalu mulai gelap. Ia memikirkan tawaran itu, dan ia tidak akan berbohong pada dirinya sendiri; tawaran itu menggoda. Hidup yang layak. Lintang yang sekolah dengan tenang. Tidak ada lagi api di tengah malam. Tubuhnya yang sakit bisa beristirahat. Selama beberapa detik, ia membiarkan dirinya membayangkan menerima, membayangkan beban yang turun dari pundaknya, membayangkan tidur tanpa takut.
Lalu ia teringat pada Lintang yang mengintip dari balik tirai. Pada anak yang kemarin memilih berdiri di trotoar bukan karena dipaksa. Pada anak yang berkata ini juga perjuangan aku, buat kakak aku. Kalau ia menerima sekarang, kalau ia menutup kasus ini disebut musibah, ia tidak hanya mengubur nama Bagas. Ia akan menjadi orang yang mengajari Lintang bahwa kebenaran punya harga, dan ketika harganya cukup tinggi, kebenaran bisa dijual. Ia akan menjadi orang yang membuat anaknya, yang baru saja belajar untuk berdiri, mengerti bahwa berdiri itu sia-sia.
Sundari mengangkat wajahnya. Ketika ia bicara, suaranya tidak keras, tidak marah, hanya lelah dan tenang dan sekeras karang. "Pak Adicandra," katanya. "Bapak bilang kebenaran nggak memberi makan anak. Bapak benar. Tapi Bapak salah satu hal. Kalau saya ambil uang ini, saya kasih makan anak saya hari ini, tapi saya kasih dia pelajaran buat seumur hidup: bahwa kalau orang punya cukup uang, dia bisa beli diam siapa aja, bahkan ibu yang anaknya mati. Saya nggak mau anak saya tumbuh di dunia kayak gitu. Saya mau dia tumbuh di dunia di mana orang kecil kayak kami pun bisa bikin orang besar kayak bos Bapak gemetar. Dan saya tahu dia gemetar, Pak. Saya lihat tirainya ditutup waktu kami berdiri di bawah."
Ia berdiri, mengambil gelas teh yang sudah kosong. "Bilang sama bos Bapak, jawaban saya sama kayak dua tahun lalu. Anak saya bukan barang yang bisa dibeli. Sampai sekarang harganya nggak berubah, walau angkanya naik terus. Dan satu lagi, Pak." Ia menatap lelaki itu, dan ada sesuatu yang nyaris seperti iba di matanya. "Bapak datang ke sini sendirian. Bapak ngomong soal kebenaran yang nggak ngasih makan. Saya rasa, Pak, yang Bapak ceritain barusan itu bukan ke saya. Itu ke diri Bapak sendiri. Hati-hati, Pak. Orang yang terlalu lama belain kebohongan, lama-lama lupa caranya pulang."
Adicandra menatapnya lama, tehnya tak tersentuh, dan untuk sesaat sesuatu bergerak di balik matanya, sesuatu yang ia kira sudah lama mati. Lalu ia berdiri, merapikan jasnya, dan keluar dari warung itu ke dalam senja yang menggelap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sundari memandang punggung lelaki itu menjauh, dan ia tahu, dengan kepastian yang aneh, bahwa pertarungan ini telah memasuki babak terakhirnya; babak yang tak bisa lagi dihindari oleh siapa pun, di mana kedua pihak telah membakar semua jembatan di belakang mereka, dan satu-satunya jalan yang tersisa adalah ke depan, menuju puncak yang akan menentukan apakah seorang ibu penjual nasi uduk benar-benar bisa membuat sebuah menara runtuh dengan tidak melakukan apa pun selain menolak untuk tutup mulut.