Lintang berulang tahun keempat belas pada minggu setelah wawancara itu, dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Sundari merayakannya dengan benar; bukan dengan pesta, mereka tak punya uang untuk itu, melainkan dengan sepiring nasi kuning kecil yang dimasak Sundari sendiri di sela kesibukan, dengan lilin tunggal dari sisa lilin warung, dan dengan Marni, Wening, Wulan, Pram, dan Bang Jali yang berdesakan di ruang depan warung yang sempit, menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara fals dan tawa yang tulus. Lintang meniup lilinnya, dan ketika ditanya apa permintaannya, ia hanya tersenyum dan menggeleng, menyimpannya sendiri.
Sundari tahu anaknya telah berubah. Lintang yang dulu, dua tahun lalu, adalah anak tiga belas tahun yang meledak marah, yang berteriak kenapa Emak nggak ambil aja uangnya, yang merasa ditelantarkan demi seorang kakak yang sudah mati. Lintang yang sekarang adalah seseorang yang lain, seseorang yang telah membaca buku catatan biru Bagas sampai lecek, yang telah merawat ibunya yang pingsan, yang telah membuat janji di bawah pohon trembesi, yang telah tumbuh terlalu cepat melalui api yang seharusnya tidak pernah menyentuh anak seusianya. Sundari berkali-kali merasa bersalah atas kedewasaan paksa itu, atas masa kecil yang terenggut. Tapi ia juga, diam-diam, merasakan sesuatu yang menyerupai bangga.
Maka ketika Lintang datang menemuinya pada suatu sore, dengan ekspresi serius yang Sundari kenal sebagai pertanda anak ini sudah memikirkan sesuatu lama-lama, Sundari menyiapkan diri untuk apa saja.
"Mak," kata Lintang, duduk di seberangnya di meja warung yang sepi. "Besok Emak ke trotoar lagi, kan? Berdiri di depan menara?"
Sundari mengangguk hati-hati. Sejak api itu, sejak janji di bawah pohon, ia selalu pergi sendiri ke trotoar dan tidak pernah, sekali pun, membawa Lintang ke sana. Itu bagian dari janjinya: perjuangan ini tidak akan menyentuh anaknya yang masih hidup. "Iya, Nduk. Tapi kamu di rumah Bu Marni aja, ya. Sama Wening."
"Aku mau ikut."
Sundari membeku. "Nggak, Nduk. Nggak boleh. Itu bahaya. Emak udah janji sama kamu, Emak nggak akan..."
"Emak janji nggak akan mengorbankan aku," Lintang memotong, pelan tapi tegas, dengan ketenangan yang membuat Sundari terdiam. "Itu beda, Mak. Mengorbankan itu kalau Emak yang nyuruh aku. Kalau Emak yang maksa aku. Ini aku yang mau. Aku yang milih sendiri."
"Lintang..."
"Dengerin aku dulu, Mak." Suara anak itu bergetar, tapi ia tidak berhenti. "Dulu aku marah sama Emak. Aku pikir Emak lebih sayang sama Mas Bagas yang udah nggak ada daripada sama aku yang masih ada. Aku pikir Emak egois, ngejar keadilan sampai lupa aku. Aku benci sama Mas Bagas, Mak. Aku benci sama orang mati. Itu jahat, aku tahu, tapi itu yang aku rasa." Air matanya mulai turun, tapi suaranya tetap. "Terus aku baca buku biru Mas Bagas. Aku baca dia nulis pengen jadi insinyur, biar bikin jembatan yang kuat, biar nggak ada yang mati kayak yang murahan. Mak, Mas Bagas itu mati gara-gara hal yang persis dia takutin. Dia mati di jembatan murahan, padahal dia pengen bikin yang kuat."
Sundari menutup mulutnya dengan tangan, air matanya sendiri mulai jatuh.
"Dan aku ngerti sekarang, Mak," lanjut Lintang. "Emak bukan ngejar keadilan buat orang mati. Emak ngejar keadilan biar nggak ada ibu lain yang kayak Emak. Biar nggak ada adik lain yang kayak aku, yang kehilangan kakaknya gara-gara orang lebih sayang sama jadwal daripada sama nyawa. Itu bukan soal Mas Bagas doang. Itu soal semua orang." Ia menyeka matanya dengan punggung tangan, gestur kecil yang membuat Sundari teringat pada Bagas, pada cara anak laki-lakinya dulu menyeka mata dengan cara yang sama. "Aku nggak mau cuma jadi anak yang Emak lindungi, Mak. Aku mau jadi anak yang berdiri di samping Emak. Bukan karena dipaksa. Karena aku percaya. Karena ini juga perjuangan aku, buat kakak aku."
Sundari tidak bisa bicara. Selama dua tahun ini ia berperang untuk melindungi anak ini dari beban perjuangannya, untuk memastikan keadilan tidak menelan keluarga yang ia perjuangkan untuk lindungi. Dan kini anak itu, dengan pilihannya sendiri, dengan kematangan yang lahir dari penderitaan, memilih untuk memikul beban itu bukan sebagai korban, melainkan sebagai sekutu. Itu adalah perbedaan yang halus tapi mengubah segalanya. Mengorbankan anak adalah dosa. Tapi menerima anak yang memilih untuk berdiri adalah sesuatu yang lain sama sekali; itu adalah anugerah yang tak pernah ia berani harapkan.
Keesokan paginya, mereka berangkat bersama ke trotoar di depan menara. Sundari membawa kardus dengan tujuh nama korban. Lintang, di sampingnya, membawa foto kakaknya, dipegang erat dengan dua tangan, dagunya terangkat. Mereka berdiri berdampingan di bawah bayangan menara kaca yang menjulang, seorang ibu dan seorang anak perempuan empat belas tahun, diam dan tegak. Orang-orang yang lewat memperlambat langkah. Beberapa berhenti. Beberapa mengeluarkan ponsel.
Dan di lantai empat puluh, Brotoseno berdiri di balik jendela seperti yang ia lakukan di hari pertama dua tahun lalu, menatap ke bawah. Dulu ia melihat seorang perempuan kecil yang ia yakin akan capek sendiri. Sekarang ia melihat dua orang. Seorang ibu, dan seorang anak yang seumur cucunya, berdiri bersisian dengan martabat yang tak bisa ia beli, tak bisa ia takuti, tak bisa ia bakar. Dan untuk pertama kalinya, lelaki tua itu mengerti bahwa ia tidak sedang melawan seorang perempuan yang akan capek sendiri. Ia sedang melawan sesuatu yang menurun dari satu generasi ke generasi berikutnya, sesuatu yang justru semakin kuat setiap kali ia mencoba memadamkannya. Ia menutup tirai, dan tangannya, lagi, gemetar.