Ide itu datang dari para relawan muda, tapi keberaniannya datang dari Sundari sendiri. Salah satu mahasiswa pendukungnya punya kenalan di sebuah kanal berita daring yang menyiarkan wawancara secara langsung, tanpa rekaman yang bisa dipotong, tanpa editan yang bisa memilih kalimat mana yang ditayangkan. Penonton menyaksikan apa yang terjadi pada saat itu juga, lengkap dengan jeda canggung, suara gemetar, dan air mata yang tak bisa diatur ulang. Inilah, kata anak muda itu, satu-satunya ruang yang tidak bisa dimasuki tangan humas bayaran. Mereka tidak bisa mengedit sesuatu yang ditonton sambil terjadi.
Sundari setuju. Tapi malam sebelum wawancara, ia hampir mundur. Ia duduk di rumah Marni, tempat Lintang kini menginap, dan tangannya dingin membayangkan dirinya, perempuan lulusan SMP yang tak pernah bicara di depan kamera, harus menghadapi sorotan seluruh kota. Bagaimana kalau ia salah bicara? Bagaimana kalau ia gugup dan terlihat seperti yang dituduhkan, seperti orang yang berbohong? Bagaimana kalau, alih-alih membantu, ia justru menghancurkan segalanya dengan satu kalimat yang keliru?
Lintang yang menemukannya duduk gemetar di dapur. Anak itu, yang sebenarnya tidak tahu detail wawancara besok, hanya duduk di sampingnya dan menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Emak takut?" tanyanya pelan.
Sundari mengangguk, jujur untuk pertama kalinya pada anaknya tentang ketakutan. "Emak takut salah ngomong, Nduk. Emak orang bodoh. Nggak sekolah tinggi. Nanti orang ketawa."
Lintang diam sebentar. Lalu ia berkata, dengan kematangan yang membuat Sundari teringat betapa cepat anak ini dipaksa tumbuh, "Emak nggak usah pinter ngomong. Emak cuma cerita aja apa adanya. Cerita soal Mas Bagas. Emak kan paling ngerti soal Mas Bagas. Nggak ada yang bisa cerita soal Mas Bagas lebih bener dari Emak."
Kata-kata itu menjadi jangkar yang Sundari bawa ke depan kamera keesokan harinya.
Studio kecil itu sederhana, hanya dua kursi, satu meja, dan beberapa kamera yang menyala dengan lampu merah kecil. Pewawancaranya, seorang perempuan muda dengan suara tenang, menjelaskan bahwa ini disiarkan langsung, bahwa Sundari boleh bicara apa adanya, bahwa tidak ada yang akan dipotong. Di seberang kota, di lantai empat puluh, Brotoseno menonton. Adicandra menonton. Di rumah-rumah keluarga korban, di warung-warung, di kos para mahasiswa, di mana-mana, layar-layar menyala menampilkan wajah seorang perempuan paruh baya dengan kerudung sederhana dan mata yang lelah.
Dan Sundari bicara.
Ia tidak bicara seperti aktivis. Ia tidak bicara seperti pengacara. Ia tidak menggunakan istilah hukum atau angka teknis. Ia hanya bercerita, dengan logat dan tata bahasa seorang penjual nasi, tentang seorang anak laki-laki bernama Bagas yang suka menggambar jembatan dan gedung-gedung di buku tulisnya, yang bercita-cita jadi insinyur biar bikin yang kuat, nggak yang murahan. Ia bercerita tentang pagi terakhir, tentang nasi uduk yang ia siapkan, tentang Bagas yang pamit dengan mencium tangannya seperti biasa. Ia bercerita tentang sirene, tentang berlari, tentang ponsel retak yang diserahkan polisi ke tangannya.
Ketika pewawancara bertanya tentang tuduhan bahwa ia menyuap saksi, Sundari tidak marah. Ia justru tersenyum kecil, senyum yang getir dan letih. "Mbak," katanya pelan, menatap langsung ke kamera, "saya ini jualan nasi uduk. Sepiring lima belas ribu. Untungnya nggak seberapa. Saya disuruh nyuap orang pakai uang apa? Anak saya yang satu lagi sampai nunggak SPP karena saya sibuk ngurusin ini. Warung saya hampir dibakar. Kalau saya punya banyak uang, mana mungkin hidup saya begini?" Ia berhenti, dan suaranya turun jadi nyaris berbisik. "Saya nggak mau uang dari mereka, Mbak. Mereka udah nawarin saya ratusan juta, sampai lima ratus juta, supaya saya diam. Saya tolak. Orang yang nolak setengah miliar buat diam, masa dituduh nyuap orang biar bicara? Yang nawarin uang biar diam itu siapa, coba pikir. Bukan saya."
Di seberang kota, di lantai empat puluh, Brotoseno menonton kalimat itu dan menundukkan kepala.
Lalu Sundari melakukan sesuatu yang tidak direncanakan. Ia mengeluarkan dari tasnya sebuah foto, foto Bagas yang sudah lusuh di pinggirnya karena terlalu sering dipegang, dan mengangkatnya ke kamera. "Ini anak saya," katanya, dan untuk pertama kalinya suaranya pecah, air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan, jatuh di depan seluruh kota yang menonton. "Namanya Bagas. Umurnya enam belas. Dia bukan angka. Dia bukan korban kelebihan beban. Dia bukan musibah cuaca. Dia anak saya, dan dia mati karena ada orang yang lebih sayang sama jadwal peresmian daripada sama nyawa anak-anak yang lewat jembatan itu. Saya nggak minta uang. Saya nggak minta apa-apa. Saya cuma minta satu: jangan suruh saya diam. Karena kalau saya diam, anak saya mati dua kali. Sekali waktu jembatannya runtuh, sekali lagi waktu namanya dilupakan. Dan saya, sebagai ibu, nggak akan biarin anak saya mati dua kali."
Studio itu hening. Pewawancara muda itu sendiri menyeka matanya. Dan di seluruh kota, di ribuan layar, sesuatu bergeser yang tak bisa diukur dengan jumlah pengikut atau jumlah bagikan: ketulusan seorang ibu yang menangis tanpa malu, yang bicara tanpa pintar, yang mengangkat foto anaknya tanpa skenario, melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh seluruh tim humas bayaran dengan anggaran tak terbatas. Karena kebohongan bisa membayar seribu akun, tapi tidak bisa membayar satu wajah yang benar-benar berduka.
Keesokan paginya, angin sudah berbalik lagi. Tagar yang menyebar bukan lagi tentang saksi bayaran, melainkan tentang seorang ibu yang menolak setengah miliar demi nama anaknya. Tuduhan keraguan itu, yang kemarin tampak begitu kuat, runtuh di hadapan empat menit air mata yang tak bisa diedit. Dan untuk pertama kalinya, Sundari mengerti bahwa senjata terkuatnya bukanlah bukti yang ia kumpulkan dengan susah payah, melainkan satu hal sederhana yang sejak awal ia miliki dan yang tak akan pernah bisa dibeli atau dipalsukan oleh menara mana pun: kejujuran seorang ibu.