Kemenangan kecil di ruang sidang itu tidak bertahan lama di luar tembok pengadilan. Karena di dunia yang sebenarnya, di tempat opini publik dibentuk bukan oleh palu hakim melainkan oleh jempol yang menggeser layar, menara melancarkan serangan balik yang tidak menyerang kebenaran secara langsung, melainkan menenggelamkannya dalam banjir keraguan.
Itu dimulai dengan satu unggahan dari sebuah akun yang tampak biasa, lalu menyebar dalam hitungan jam. Sebuah narasi yang disusun rapi: bahwa Haryanto, sang subkontraktor yang bersaksi, sebenarnya telah dibayar. Bahwa Sundari dan timnya, dengan dana yang mereka galang dari publik, telah menyuap lelaki yang sedang bangkrut itu untuk mengarang kesaksian palsu. Lihat saja, kata narasi itu, betapa sempurnanya waktunya: subkontraktor ditinggalkan, lalu tiba-tiba muncul dengan cerita yang menyalahkan taipan. Bukankah itu pola orang yang dibeli? Dan dari mana ibu penjual nasi punya uang untuk membayar saksi, kalau bukan dari dana sumbangan yang ia kumpulkan atas nama duka?
Narasi itu dibumbui dengan setengah-setengah kebenaran yang membuatnya licin. Memang benar tim Sundari menggalang dana untuk biaya hukum. Memang benar Haryanto sedang bangkrut. Memang benar waktunya tampak kebetulan. Dan dari potongan-potongan fakta yang benar itu, dibangunlah sebuah kebohongan yang terdengar masuk akal, yang menyebar lebih cepat daripada bantahan apa pun bisa mengejarnya.
Dalam dua hari, angin yang sempat berbalik ke pihak korban berbalik lagi. Komentar-komentar yang dulu bersimpati kini berubah jadi curiga. Orang-orang yang dulu membela Sundari kini menulis mungkin selama ini kita semua ditipu. Akun-akun yang membahas kasus mulai menambahkan kata diduga dan katanya dan masih simpang siur, dan dalam dunia di mana keraguan lebih mudah dipercaya daripada keyakinan, simpang siur itu cukup untuk membunuh momentum.
Sundari menyaksikan semua itu dari ponsel jadulnya yang layarnya kecil, ditunjukkan oleh Wening yang lebih paham dunia maya. Ia membaca tuduhan-tuduhan itu, dan sesuatu di dalam dirinya, yang sudah lelah oleh setahun pertempuran, terasa hampir patah. Bukan karena ia takut tuduhan itu dipercaya pengadilan; pengadilan menilai bukti, bukan komentar. Tapi karena ia menyadari, dengan keperihan yang dalam, bahwa kebenaran tidak pernah cukup dengan sendirinya. Bahwa ia bisa punya rekaman Bagas, video Yoga, laporan tandingan para insinyur muda, kesaksian Haryanto, dan tetap saja, di luar sana, kebenaran itu bisa ditenggelamkan, bukan oleh satu kebohongan besar, melainkan oleh seribu keraguan kecil yang dibayar dan disebar.
"Ini yang paling licik, Bu," kata Pram, suaranya lelah, ketika mereka berkumpul di kantor. "Mereka tidak bilang Ibu pasti salah. Mereka cuma bilang siapa tahu. Dan siapa tahu itu lebih susah dilawan daripada tuduhan langsung. Kalau mereka menuduh kita berbohong, kita bisa buktikan kita benar. Tapi kalau mereka cuma menanam ragu, kita harus membuktikan ketiadaan, dan tidak ada yang bisa membuktikan ketiadaan."
Haryanto, di rumah aman, mendengar tuduhan itu dan jatuh ke titik terendahnya. Ia menelepon Pram dengan suara yang nyaris putus asa, berkata bahwa mungkin ia memang seharusnya tidak bicara, bahwa sekarang ia disebut saksi bayaran, bahwa keluarganya membaca semua itu, bahwa ia menyesal. Pram menghabiskan satu jam menenangkannya, meyakinkannya bahwa pengadilan tidak menilai dari komentar, bahwa keaslian buktinya tidak terpengaruh oleh tudingan apa pun. Tapi ia menutup telepon dengan tangan dingin, karena ia tahu bahwa seorang saksi yang ketakutan dan dihina publik adalah saksi yang bisa, kapan saja, memutuskan bahwa diam lebih murah daripada kebenaran.
Malam itu Sundari duduk di trotoar yang sepi di depan menara, sendiri, seperti hari-hari pertama dulu. Ia tidak membawa spanduk. Ia hanya duduk, lelah, menatap menara kaca yang menjulang dengan cahaya-cahayanya yang dingin. Ia memikirkan betapa tidak adilnya semua ini; bahwa untuk membela kebenaran, ia harus terus-menerus membuktikan dirinya, sementara menara cukup menanam ragu dan duduk diam. Bahwa kebenaran harus berlari sementara kebohongan cukup berbisik.
Dan di tengah keletihan itu, ia teringat sesuatu yang dulu pernah dikatakan oleh seorang relawan muda, salah satu mahasiswa yang membantunya. Anak itu berkata, ketika mereka membahas perang opini yang tak pernah usai, bahwa kebohongan yang terstruktur memang selalu lebih lincah, tapi kebohongan punya satu kelemahan yang tak bisa ditiru kebenaran: ia tidak punya wajah. Ia disebar oleh akun-akun tanpa nama, oleh suara-suara yang tak berani muncul. Sementara kebenaran, kalau berani, bisa punya wajah. Bisa menatap kamera, bisa menangis, bisa bicara dengan suara yang gemetar tapi nyata.
Sundari bangkit dari trotoar itu. Ia tidak tahu persis apa yang akan ia lakukan. Tapi ia tahu satu hal: ia lelah dituduh dari balik bayangan, lelah dihina oleh suara-suara tanpa muka. Kalau menara ingin menenggelamkannya dalam keraguan, ia akan melakukan satu-satunya hal yang tidak bisa mereka tiru. Ia akan menunjukkan wajahnya. Wajah seorang ibu yang anaknya mati di jembatan murahan. Dan ia akan membiarkan seluruh kota menatap wajah itu, langsung, tanpa bisa diedit, tanpa bisa dipelintir, dan menilai sendiri apakah itu wajah seorang penipu atau wajah seorang ibu yang hanya menolak tutup mulut.