Pram tidak tidur malam sebelum sidang pertamanya sebagai advokat penuh. Ia duduk di kamar kosnya yang sempit, dikelilingi tumpukan berkas yang ia hafal hampir di luar kepala, dan membaca ulang segalanya untuk kesekian kali bukan karena perlu, melainkan karena membaca adalah satu-satunya cara menahan tangannya agar tidak gemetar. Di dinding kamar itu tertempel selembar foto yang sudah pudar: dirinya tujuh tahun lalu, lulus kuliah hukum, tersenyum lebar dengan toga, yakin akan menaklukkan dunia. Tujuh tahun, empat kali gagal ujian, puluhan kasus orang kecil yang ia bela dan kebanyakan ia kalahkan, dan kini ia akan berdiri untuk pertama kalinya di pengadilan besar, sendiri, melawan tim hukum paling tajam di kota.
Ia hampir menelepon Bu Ratri dini hari itu, hampir memohon agar advokat senior itu mencari cara untuk hadir, untuk menggantikannya, untuk apa saja selain membiarkannya berdiri sendiri. Tapi ia tidak menelepon. Karena ia tahu apa yang akan Bu Ratri katakan, dan ia tahu jawabannya benar: kalau ia mundur sekarang, ia tidak akan pernah bisa berdiri kapan pun.
Pagi itu Sundari datang ke kos Pram membawa rantang. Ia tidak banyak bicara. Ia hanya meletakkan rantang berisi nasi uduk hangat di meja, lengkap dengan tempe orek dan sambal yang Pram tahu adalah masakan terbaiknya, dan berkata, "Makan dulu, Mas. Orang lapar nggak bisa mikir." Lalu ia menatap lelaki muda yang sudah tiga tahun membela keluarganya tanpa pernah dibayar selayaknya itu, dan menambahkan dengan suara yang serak, "Mas, saya nggak ngerti hukum. Tapi saya ngerti orang. Dan saya tahu Mas ini orang yang bener. Bagas... kalau Bagas masih ada, dia pasti bangga ada orang kayak Mas yang mau bela kami. Berdiri aja, Mas. Yang penting Mas berdiri."
Kata-kata sederhana dari seorang ibu penjual nasi itu melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh ribuan halaman berkas. Pram makan nasi uduk itu sampai habis, dan ketika ia berdiri untuk pergi ke pengadilan, tangannya sudah tidak gemetar.
Ruang sidang itu terasa lebih besar dan lebih dingin ketika ia masuk sebagai penanggung jawab, bukan lagi sekadar pendamping yang duduk di belakang mencatat. Di seberang sana, Adicandra dan timnya yang berjumlah lima orang menatapnya dengan ekspresi yang nyaris meremehkan; mereka jelas sudah tahu Bu Ratri tersibukkan urusan etik, dan jelas mengira mereka kini menghadapi anak bawang. Adicandra bahkan tersenyum sopan ke arahnya, senyum yang berkata aku tahu kamu, kamu yang gagal empat kali itu.
Tapi Pram punya satu hal yang tidak dimiliki lima pengacara mahal di seberang sana: ia mengenal kasus ini bukan sebagai berkas, melainkan sebagai luka. Ia tahu nama ketujuh korban. Ia tahu warna ponsel Bagas. Ia tahu bagaimana Sundari menangis tiga tahun lalu di kantor LBH ketika hampir semua orang menolaknya. Dan ketika sidang dimulai, ketika tim Adicandra mengajukan keberatan demi keberatan untuk menggugurkan kesaksian Haryanto dengan istilah-istilah prosedural yang rumit, Pram menjawab bukan dengan kerumitan tandingan, melainkan dengan kejernihan yang justru lebih sulit dilawan.
"Yang Mulia," katanya, dan suaranya, yang ia kira akan pecah, keluar mantap mengisi ruangan, "pihak tergugat ingin agar kesaksian saksi dianggap tidak sah karena ia memiliki sengketa dengan tergugat. Tapi izinkan saya bertanya: apakah seorang saksi yang tidak punya kepentingan apa pun, yang tidak pernah terlibat dalam proyek, justru yang lebih kita percaya untuk tahu apa yang terjadi di dalam proyek itu? Justru karena Pak Haryanto ada di dalamnya, justru karena tangannyalah yang memasang baja itu, kesaksiannya berbobot. Beban dosanya yang membuatnya bicara, bukan dendamnya. Dan pesan-pesan yang ia serahkan, Yang Mulia, bukanlah perkara percaya atau tidak percaya pada orangnya. Tanggalnya bisa diuji. Keasliannya bisa diuji secara digital. Pihak tergugat boleh menyerang orangnya sampai habis, tapi mereka belum sekali pun menyentuh keaslian buktinya. Mengapa? Karena buktinya benar."
Adicandra bangkit untuk menanggapi, lancar dan tajam seperti biasa, dan untuk beberapa menit Pram merasa seperti perahu kecil yang dihantam ombak. Tapi ia bertahan. Ia tidak mencoba menjadi Bu Ratri. Ia tidak mencoba menjadi lebih lincah dari Adicandra. Ia hanya, setiap kali, menarik perdebatan kembali ke pertanyaan paling sederhana yang tak bisa dijawab lawan: apakah baja itu di bawah spesifikasi atau tidak. Apakah ada peringatan yang diabaikan atau tidak. Apakah tujuh orang mati atau tidak. Setiap kali Adicandra membuat ruangan rumit, Pram membuatnya sederhana lagi, dan kesederhanaan, di hadapan tujuh nyawa, jauh lebih sulit dilawan daripada kelincahan.
Ketika palu diketuk untuk menutup sidang hari itu, tidak ada kemenangan yang diumumkan, tidak ada vonis yang dijatuhkan. Tapi Adicandra, ketika melewati Pram di pintu keluar, tidak lagi tersenyum meremehkan. Ia menatap lelaki muda itu sebentar dengan ekspresi yang sulit dibaca, lalu mengangguk pendek, satu gestur kecil dari seorang ahli kepada lawan yang ternyata bukan anak bawang. Dan Pram, yang tujuh tahun mengumpulkan kekalahan, berjalan keluar dari ruang sidang itu dengan sesuatu yang asing dan hangat di dadanya, sambil di luar, di tangga pengadilan, Sundari menunggunya dengan rantang kosong dan mata yang berbinar, sudah tahu, dari wajah lelaki itu, bahwa hari ini ia tidak kalah.