Serangan itu datang pada Bu Ratri tiga hari setelah Haryanto bersaksi, dan datang dari arah yang bahkan ia, dengan pengalaman puluhan tahun melawan kekuatan besar, tidak sepenuhnya antisipasi. Bukan ke kasusnya. Ke izinnya.
Surat itu berkop organisasi advokat, resmi, dengan nomor dan stempel. Sebuah laporan dugaan pelanggaran kode etik telah diajukan terhadap dirinya, dan dewan kehormatan memanggilnya untuk pemeriksaan. Tuduhannya disusun dengan licik: bahwa Bu Ratri telah menggalang dana publik atas nama klien tanpa izin yang sah, bahwa ia memberikan keterangan ke media yang menghasut opini terhadap pihak yang berperkara, bahwa ia memanfaatkan kasus untuk kepentingan politik dan popularitas pribadi. Semuanya dipelintir dari fakta-fakta yang sebenarnya bisa dijelaskan, tapi yang, selama proses pemeriksaan berlangsung, bisa dipakai untuk meminta agar Bu Ratri dinonaktifkan sementara dari beracara.
Dan di situlah racunnya. Bukan soal apakah tuduhan itu akan terbukti pada akhirnya. Yang penting adalah waktunya. Tepat ketika kasus Sundari memasuki tahap paling genting, tepat ketika kesaksian Haryanto mulai menggeser neraca, senjata terkuat Sundari, pembela yang bisa berdiri tegak di pengadilan dan menerjemahkan kebenaran ke dalam bahasa hukum, terancam dilucuti. Kalaupun Bu Ratri menang dalam pemeriksaan etik itu, ia akan menghabiskan berminggu-minggu, mungkin berbulan-bulan, membela dirinya sendiri alih-alih membela Sundari. Mereka tidak perlu mengalahkan Bu Ratri. Mereka hanya perlu menyibukkannya.
"Ini bukan kebetulan," kata Pram, menatap surat itu dengan wajah membara, di kantor kecil yang berbau kertas tua dan kopi. "Pelapornya pakai nama orang yang tidak jelas, tapi tuduhannya disusun oleh orang yang paham betul cara kerja organisasi. Ini tangan Adicandra, atau setidaknya orang yang dibayar dengan cara yang sama."
Bu Ratri membaca surat itu untuk kedua kalinya dengan tenang yang membuat Sundari, yang duduk di sudut ruangan, gemetar bukan oleh takut melainkan oleh kagum. Advokat senior itu tidak mengumpat. Ia tidak meremas kertas. Ia hanya meletakkannya di meja, melepas kacamatanya, dan tersenyum tipis, senyum yang dingin dan letih sekaligus.
"Saya sudah pernah mengalami ini," katanya. "Tiga kali, dalam karier saya. Setiap kali saya melawan orang yang terlalu besar, mereka selalu menemukan cara yang sama: kalau tidak bisa membantah argumenmu, lumpuhkan tanganmu. Ini bukan tentang etika. Ini tentang waktu." Ia memandang Sundari. "Mereka tahu kita sedang menang sedikit. Maka mereka mencoba mencabut pedang dari tangan kita di tengah pertarungan."
"Jadi Ibu... tidak bisa membela kami lagi?" Sundari bertanya, dan suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia inginkan. Ia membayangkan kembali sendirian, kembali ke ruang sidang penuh istilah asing tanpa orang yang bisa berdiri membela. Membayangkan menara menang bukan dengan argumen melainkan dengan mengamputasi sekutunya satu per satu.
Bu Ratri menatapnya lama. "Saya akan tetap melawan," katanya. "Tapi saya jujur pada Ibu: untuk beberapa minggu ke depan, sebagian tenaga saya harus saya pakai membela diri sendiri. Saya tidak bisa hadir di setiap sidang. Saya tidak bisa fokus penuh. Mereka berhasil, sebagian." Ia berhenti. "Tapi mereka membuat satu kesalahan."
"Kesalahan apa?" Pram bertanya.
"Mereka pikir kalau saya lumpuh, kasus ini lumpuh. Mereka pikir Sundari hanya punya satu pengacara." Bu Ratri memandang Pram, dan ada sesuatu di matanya yang membuat lelaki muda itu tegak. "Mereka lupa bahwa selama tiga tahun, ada seorang paralegal yang ikut menyusun setiap berkas kasus ini, yang hafal setiap detailnya lebih dari saya, yang sudah empat kali gagal ujian advokat bukan karena bodoh tapi karena dia terlalu sibuk membela orang-orang yang tidak bisa membayarnya."
Pram membeku. "Bu..."
"Pengumuman hasil ujian advokat keluar minggu lalu, Pram," kata Bu Ratri pelan. "Saya sudah cek. Kamu belum berani membukanya, kan?"
Ruangan itu hening. Pram mengeluarkan ponselnya dengan tangan yang mendadak gemetar, membuka surel yang sudah seminggu ia hindari karena terlalu takut pada kekecewaan yang kelima. Sundari memperhatikan wajahnya berubah, dari tegang, ke tidak percaya, ke sesuatu yang seperti tangis yang tertahan.
Ia lulus.
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Di luar, klakson kota berbunyi, kehidupan berjalan acuh tak acuh seperti biasa. Tapi di kantor kecil itu, sesuatu telah bergeser. Bu Ratri mengulurkan tangan dan menepuk bahu Pram, satu kali, gestur yang dari perempuan sedingin itu setara dengan pelukan.
"Mereka melumpuhkan satu pengacara," kata Bu Ratri, suaranya kembali ke baja dinginnya yang biasa, tapi kali ini dengan nyala kecil di baliknya. "Mereka tidak tahu bahwa hari ini, di ruangan ini, mereka justru membuat satu pengacara baru lahir tepat pada waktunya. Kebenaran punya cara aneh untuk membalas. Sekarang, Pram, berhenti menangis. Kamu punya sidang untuk dipersiapkan, dan kali ini kamu yang akan berdiri di depan."