Ruang sidang itu pengap seperti biasa, dengan kipas angin di langit-langit yang berputar malas dan tidak menghasilkan apa-apa selain bunyi. Sundari duduk di bangku pengunjung, di antara Marni dan Pak Hasan yang akhirnya datang lagi setelah berbulan-bulan menjauh, dan ia menggenggam tangan Marni terlalu erat ketika nama itu dipanggil. Haryanto. Pemilik PT Cakra Beton Perkasa. Subkontraktor yang besinya membunuh anaknya, dan kini saksi terkuat yang ia punya.
Haryanto berjalan ke kursi saksi dengan langkah seorang lelaki yang sudah kehilangan segalanya. Tubuhnya yang dulu mungkin tegap kini bungkuk, bajunya kebesaran karena ia menyusut dalam beberapa bulan terakhir, dan tangannya gemetar ketika ia mengangkatnya untuk disumpah. Rekeningnya beku. Proyek-proyeknya berhenti. Keluarganya disembunyikan di rumah aman. Ia datang ke pengadilan ini bukan karena berani, melainkan karena sudah tidak punya tempat lain untuk bersembunyi selain di balik kebenaran.
Bu Ratri memulai dengan lembut, dengan cara yang membuat Sundari heran bagaimana perempuan sedingin es itu bisa, ketika perlu, menjadi sehangat ini. Ia menuntun Haryanto pelan-pelan; dari awal proyek, dari kontrak, dari anggaran. Dan Haryanto, dengan suara yang awalnya nyaris tak terdengar lalu perlahan menguat, bercerita.
Ia bercerita tentang angka biaya yang diturunkan setelah kontrak diteken, tentang perintah yang turun dari pelaksana proyek untuk menekan harga material apa pun caranya. Ia bercerita tentang mandornya, seorang lelaki tua bernama Wagiman yang kini sudah tiada, yang berkali-kali memperingatkan bahwa baja yang dikirim mutunya tidak sesuai, bahwa sambungan las dikerjakan terlalu cepat karena dikejar tenggat peresmian. Ia bercerita tentang pesan-pesan yang ia terima, yang screenshot-nya kini ada di tangan pengadilan: yang penting kuat sampai peresmian, dan kalimat yang membuat ruang sidang itu hening total ketika dibacakan, beres nggak beres harus jadi, mal mau buka, jangan bikin masalah.
"Saya tahu itu salah," kata Haryanto, dan suaranya pecah di kata terakhir. "Saya tahu. Tapi saya... kalau saya berhenti, kontrak putus, perusahaan saya bangkrut, pekerja saya tidak makan. Saya pikir... saya pikir nanti diperkuat. Mereka bilang nanti diperkuat setelah peresmian." Ia menunduk, dan air matanya jatuh ke lantai pengadilan. "Tapi tidak ada nanti. Jembatannya runtuh sebelum nanti."
Sundari merasakan sesuatu yang aneh dan menyakitkan di dadanya. Ia datang ke ruang ini membawa kebencian pada lelaki itu, kebencian yang ia rawat selama setahun. Tapi mendengar Haryanto bicara, mendengar kepengecutan dan ketakutan dan penyesalan yang terlalu terlambat itu, ia menemukan kebenciannya bercampur dengan sesuatu yang lain. Karena bukankah Haryanto, dengan caranya yang hancur, adalah juga korban dari mesin yang sama? Lelaki yang menutup mata bukan karena jahat, melainkan karena takut kehilangan, sama seperti puluhan orang lain yang takut bersaksi, sama seperti Reno yang takut kehilangan beasiswa. Bedanya hanya satu: ketakutan Haryanto kali ini ikut membunuh anaknya.
Lalu giliran Adicandra. Dan kelembutan ruang sidang itu berubah jadi pisau.
Adicandra bangkit dengan tenang, merapikan jasnya, dan tersenyum tipis pada saksi seperti seorang predator yang sopan. "Pak Haryanto," katanya, "benar Anda saat ini sedang dalam masalah keuangan yang berat? Rekening dibekukan, perusahaan terlilit utang, ditetapkan sebagai tersangka?"
"Benar," Haryanto menjawab pelan.
"Dan benar bahwa klien saya, Megah City, adalah pihak yang menyerahkan nama Anda kepada aparat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penyimpangan material?"
"Benar."
"Jadi," Adicandra menoleh ke majelis hakim, lalu kembali ke Haryanto, suaranya melembut secara berbahaya, "Anda punya alasan kuat untuk membenci klien saya. Anda merasa dikorbankan. Dan sekarang, secara kebetulan, Anda muncul dengan kesaksian yang menyalahkan klien saya, dan dengan pesan-pesan yang Anda sebut bukti tapi yang tidak ada satu pun mencantumkan nama Bapak Brotoseno secara langsung. Apakah mungkin, Pak Haryanto, bahwa kesaksian ini bukan tentang kebenaran, melainkan tentang dendam orang yang merasa ditinggalkan?"
Haryanto terdiam. Dan untuk beberapa detik yang menyiksa, Sundari melihat keraguan menjalar di wajah lelaki itu, melihat tubuhnya menciut di kursi saksi, melihat bagaimana kebenaran bisa dibuat terlihat seperti dendam hanya dengan menyusun kata-kata secara tepat. Ini taktik yang sama yang dulu dipakai pada dirinya, ketika Adicandra menggambarkannya sebagai ibu emosional yang menyebar fitnah demi simpati. Mengubah luka jadi motif. Mengubah korban jadi pendendam.
Tapi Haryanto, setelah jeda panjang itu, mengangkat wajahnya. Matanya basah, tapi suaranya, anehnya, lebih mantap dari sebelumnya. "Pak," katanya pada Adicandra, "saya memang dendam. Saya tidak akan bohong. Saya marah karena ditinggalkan. Tapi pesan-pesan itu tidak saya karang. Tanggalnya ada, nomornya ada, sebelum jembatan runtuh, sebelum saya tahu akan ada masalah. Bapak boleh bilang saya pendendam. Tapi seorang pendendam tidak bisa mengarang pesan yang sudah terkirim setahun lalu. Dan tujuh orang itu, Pak, mereka tidak mati karena dendam saya. Mereka mati karena besi yang saya pasang. Itu yang tidak bisa saya tarik kembali sampai saya mati."
Ruang sidang itu hening. Adicandra membuka mulut, lalu menutupnya. Kesaksian itu goyah, tapi tidak runtuh. Dan untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan duduk di ruang ini, Sundari merasakan neraca yang tak terlihat itu, yang selama ini selalu miring ke arah menara, bergeser sedikit. Hanya sedikit. Belum cukup untuk menang. Tapi cukup untuk membuat Adicandra, ketika kembali ke kursinya, untuk pertama kalinya tidak tersenyum.