Adicandra tahu kliennya berubah sebelum Brotoseno mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu dari cara lelaki tua itu menatap ke luar jendela terlalu lama, dari secangkir kopi yang dibiarkan dingin, dari map cokelat yang tiba-tiba ada di laci meja dan yang Adicandra, dengan instingnya yang setajam pisau, tahu pasti tidak melewati tangannya. Sesuatu telah masuk ke ruangan ini tanpa izinnya, dan apa pun itu sedang menggerogoti tembok yang selama setahun ini ia bangun dengan susah payah di sekeliling kliennya.
"Pak," kata Adicandra hati-hati, ketika mereka berdua sendirian di ruang kerja itu pada sore yang mendung, "saya dengar ada dokumen lama yang dibuka. Tanpa sepengetahuan saya."
Brotoseno tidak berpura-pura. Itu sendiri sudah mengejutkan. "Aku yang suruh gali," katanya pelan. "Aku perlu tahu sendiri, Adi. Tanpa kamu saring dulu."
Kalimat tanpa kamu saring dulu itu menusuk Adicandra lebih dalam dari yang ia tunjukkan. Selama bertahun-tahun, tugasnya justru menyaring; menjadi penyaring antara kebenaran yang berbahaya dan ketenangan kliennya. Sekarang Brotoseno telah memotongnya, telah pergi ke sumber sendiri, dan apa yang ia temukan di sana telah meracuni keyakinan yang membuat lelaki tua ini bisa tidur.
"Dan apa yang Bapak temukan," Adicandra berkata, suaranya hati-hati, "tidak mengubah posisi hukum kita sedikit pun. Posisi hukum kita kuat. Subkontraktor yang menyimpang dari spesifikasi. Pelaksana yang lalai. Bapak yang memberi mandat membangun, bukan mandat mengurangi material. Garis itu tidak berubah hanya karena Bapak membaca selembar memo."
"Memo itu pernah lewat di mejaku, Adi."
"Dalam bentuk ringkasan, di antara ratusan dokumen, yang tidak mungkin Bapak baca satu per satu. Tidak ada pengadilan yang bisa membuktikan Bapak benar-benar membacanya, apalagi memahaminya, apalagi menyetujuinya." Adicandra mendekat, dan untuk pertama kalinya dalam karier panjangnya membela orang ini, ia merasa harus bertarung bukan melawan jaksa atau lawan, melainkan melawan hati nurani kliennya sendiri. "Pak, dengar saya. Kalau Bapak goyah sekarang, kalau Bapak biarkan rasa bersalah ini bicara di tempat yang salah, bukan cuma Bapak yang jatuh. Ada delapan ribu pegawai di seluruh grup ini. Ada tiga proyek besar yang kreditornya menunggu alasan untuk menarik pendanaan. Begitu Bapak menunjukkan satu retak, mereka semua akan menerkam. Delapan ribu keluarga, Pak. Mereka juga punya anak yang sekolah, juga punya cicilan. Apakah keadilan untuk satu anak penjual nasi sepadan dengan delapan ribu keluarga yang kehilangan nafkah?"
Ini adalah senjata terbaik Adicandra, dan ia tahu itu. Bukan kebohongan kasar, melainkan kebenaran yang dipelintir jadi belenggu. Ia tidak berkata Bapak tidak bersalah. Ia berkata kesalahan Bapak terlalu mahal untuk diakui. Ia mengubah hati nurani menjadi kemewahan egois, dan tanggung jawab menjadi kekejaman pada ribuan orang lain. Dan selama bertahun-tahun, argumen seperti inilah yang membuat Brotoseno bisa hidup dengan dirinya sendiri.
Brotoseno terdiam lama. Di luar, hujan mulai turun, mengaburkan kota di bawah jadi noda-noda cahaya yang berair. "Aku punya cucu seumur anak itu, Adi," katanya akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
"Justru karena itu, Pak," Adicandra menyambar, "Bapak harus melindungi yang masih bisa dilindungi. Anak itu sudah tidak ada. Tidak ada pengakuan Bapak yang bisa menghidupkannya kembali. Tapi cucu Bapak, perusahaan Bapak, nama keluarga Bapak yang Damar akan warisi, semua itu masih bisa diselamatkan. Jangan korbankan yang hidup demi rasa bersalah pada yang sudah mati."
Itu adalah kalimat yang ironisnya persis kebalikan dari pertempuran yang sedang terjadi di rumah Sundari, di mana seorang ibu sedang belajar untuk tidak mengorbankan yang hidup demi yang mati. Tapi di lantai empat puluh, kalimat yang sama dipakai untuk mengubur kebenaran, bukan untuk menyelamatkan keluarga. Dan di situlah letak racunnya: argumen yang nyaris selalu bisa dipakai untuk dua arah, tergantung siapa yang mengucapkannya dan demi apa.
Brotoseno tidak menjawab. Ia mengangguk pelan, gestur yang bisa berarti setuju atau sekadar lelah, dan menyuruh Adicandra pulang. Tapi ketika pengacara itu sudah pergi, ketika ruangan kembali sunyi kecuali oleh hujan, Brotoseno membuka laci dan menatap map cokelat itu lagi. Dua suara berperang di dalam kepalanya. Suara Adicandra, yang masuk akal, yang bertanggung jawab, yang melindungi delapan ribu keluarga. Dan suara lain, yang lebih tua, yang ia kira sudah mati puluhan tahun lalu ketika ia masih insinyur muda yang percaya bahwa membangun sesuatu yang kuat adalah bentuk pengabdian, bukan sekadar bisnis. Suara yang berbisik bahwa delapan ribu keluarga itu pun butuh hidup di kota yang jembatannya tidak runtuh, dan bahwa seorang lelaki yang sanggup menutup mata sekali akan sanggup menutup mata seribu kali, sampai akhirnya tak ada lagi yang ia lihat selain bayangannya sendiri.
Ia tahu Adicandra benar tentang risiko. Ia juga mulai tahu, dengan keperihan yang tumbuh tiap malam, bahwa benar tentang risiko tidak sama dengan benar tentang yang harus dilakukan. Dan untuk seorang lelaki yang seumur hidupnya selalu menemukan jalan agar yang menguntungkan terasa sama dengan yang benar, perbedaan kecil itu kini menjadi jurang yang tak bisa ia seberangi tanpa kehilangan sesuatu, entah kerajaannya, entah dirinya.