Map itu tiba di meja Brotoseno tanpa diantar oleh siapa pun yang tahu isinya. Pak Wirya, manajer senior yang sudah ikut Brotoseno sejak menara ini masih lubang galian, meletakkannya di sudut meja kerja di lantai empat puluh, di bawah tumpukan laporan keuangan kuartalan, persis seperti yang diperintahkan. Diam-diam. Tanpa sepengetahuan Adicandra. Tanpa nomor surat, tanpa catatan distribusi. Sebuah map cokelat biasa, lecek di sudut, yang berisi salinan dokumen-dokumen asli proyek jembatan penyeberangan itu, digali dari arsip yang seharusnya sudah dimusnahkan, dikumpulkan dengan susah payah selama berminggu-minggu oleh orang kepercayaan yang Brotoseno sumpah untuk bungkam.
Brotoseno membiarkan map itu tergeletak di sana selama dua hari. Ia melewatinya pagi dan sore. Ia rapat di ruangan itu, menandatangani kontrak, menerima tamu, sambil map cokelat itu duduk di sudut pandangnya seperti binatang kecil yang sabar menunggu. Ia tahu apa yang ada di dalamnya. Itulah sebabnya ia takut membukanya. Selama setahun ini, ia membangun seluruh ketenangannya di atas satu keyakinan yang ia genggam erat-erat: bahwa runtuhnya jembatan itu adalah kelalaian subkontraktor, ulah orang-orang di bawah yang mengkhianati standar, dan bahwa dirinya, sang pemilik nama besar, tidak tahu apa-apa. Ia memerintahkan agar dibangun jembatan; ia tidak memerintahkan agar baja dikurangi. Itu garis yang ia pertahankan, di hadapan pers, di hadapan pengacaranya, dan yang paling penting, di hadapan cermin.
Di malam ketiga, ketika menara sudah sepi dan kota di bawah berubah jadi lautan cahaya kuning, Brotoseno duduk sendirian dan membuka map itu.
Ia membaca perlahan, dengan kacamata baca yang melorot di hidungnya. Halaman pertama adalah salinan rencana anggaran awal, lengkap dengan spesifikasi material yang benar, baja dengan mutu yang seharusnya. Halaman berikutnya adalah revisi anggaran. Angka biaya proyek dipangkas. Ia ingat rapat itu, samar-samar, lebih dari setahun lalu; ia ingat berkata pada timnya bahwa proyek-proyek sosial seperti jembatan penyeberangan harus efisien, jangan boros, ini hanya penyeberangan bukan jembatan layang. Ia ingat mengetuk meja dan berkata yang penting jadi sebelum peresmian mal, sebelum gunting pita, sebelua menteri datang. Ia tidak ingat berkata kurangi baja. Tapi ia ingat sekarang, dengan perih yang dingin, bahwa ia tidak pernah bertanya bagaimana caranya tim mencapai angka yang ia tuntut. Ia hanya menuntut angka, dan menutup mata pada cara.
Dan di antara halaman-halaman itu, ia menemukannya. Sebuah memo internal. Catatan dari mandor proyek yang diteruskan ke pelaksana, memperingatkan bahwa mutu baja tulangan yang dibeli berada di bawah spesifikasi, bahwa sambungan las dikerjakan terburu-buru, bahwa struktur tidak aman untuk beban penuh. Dan di bawah memo itu, disposisi dengan tulisan tangan yang ia kenali, tulisan tangan salah satu direktur kepercayaannya: lanjutkan, kejar peresmian, urusan kuat-tidaknya nanti diperkuat setelah acara. Catatan itu beredar di lingkaran dalam. Catatan itu pasti pernah, suatu saat, lewat di mejanya juga dalam bentuk ringkasan. Dan ia, Brotoseno, telah memilih untuk tidak membacanya dengan saksama, karena membacanya berarti harus bertanggung jawab atasnya.
Lelaki tua itu menutup map. Ia melepas kacamatanya dan menekan pangkal hidungnya dengan jari telunjuk dan ibu jari, lama, seolah menahan sesuatu yang naik dari dalam dada. Selama ini ia berkata pada dirinya bahwa Sundari salah, bahwa perempuan nasi itu menyalahkan orang yang keliru, bahwa dukanya membuatnya membabi buta. Selama ini ia mengasihani Sundari dari ketinggian lantai empat puluh, perempuan kecil yang berdiri di trotoarnya, dan keyakinannya bahwa ia tak bersalah adalah satu-satunya hal yang membuat belas kasihnya terasa bersih.
Sekarang map cokelat itu telah merobek keyakinan itu. Tujuh orang mati. Salah satunya anak laki-laki enam belas tahun yang ibunya menjual nasi uduk, anak yang sempat merekam baja keropos beberapa menit sebelum jatuh, anak yang seusia dengan cucunya sendiri, Damar, yang setiap akhir pekan datang ke rumahnya dan memanjat ke pangkuannya minta dibelikan ini-itu. Brotoseno membayangkan Damar berjalan di jembatan itu pada jam pulang sekolah, membayangkan baja keropos di bawah kaki cucunya, dan untuk pertama kalinya dalam setahun, lelaki yang sudah menyembelih ribuan keraguan dengan ketenangan seorang penguasa, merasakan tangannya gemetar.
Ia tidak berubah malam itu. Ia ingin memberitahu pembaca yang tak terlihat di kepalanya bahwa kebenaran sudah cukup mengubahnya, tapi tidak. Ia masih seorang lelaki dengan kerajaan, dengan ribuan pegawai yang menggantungkan nasib, dengan kreditor yang akan menerkam begitu menara goyah, dengan keluarga yang nama baiknya akan ternoda. Mengakui berarti menjatuhkan semua itu. Penyangkalan adalah kemewahan yang masih ia sanggup beli, dan separuh dirinya masih ingin membelinya.
Tapi malam itu ia tidak bisa tidur. Ia berbaring di kamarnya yang luas, dengan istrinya yang sudah tertidur di sisi lain ranjang besar, dan menatap langit-langit yang gelap. Setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar suara yang belum pernah ia dengar tapi bisa ia bayangkan: derak baja yang menyerah, jerit-jerit di jam pulang sekolah, dan satu suara remaja di rekaman yang katanya tersebar ke seluruh kota, suara yang ia belum pernah dengar tapi sudah menghantuinya, bertanya entah pada siapa, serem nggak sih.
Ketika fajar mulai menggores tepi langit, Brotoseno masih terjaga, map cokelat itu di laci yang ia kunci, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa serangan paling berbahaya terhadap dirinya bukan datang dari trotoar di bawah sana, bukan dari pengadilan, bukan dari opini publik. Serangan itu datang dari dalam, dari sebuah map cokelat yang ia perintahkan sendiri untuk digali, dari sebuah pertanyaan yang tak bisa lagi ia hindari: kalau aku tahu, walau hanya sedikit, walau hanya dengan menutup mata, lalu siapa sebenarnya yang membunuh anak perempuan itu.