Bang Jali tidak bisa tidur malam itu. Sudah dua minggu ia tidur di emperan dekat warung Sundari, di atas tikar plastik dengan jaket kulitnya sebagai bantal, motornya diparkir miring menutupi mulut gang. Ia tidak diminta. Suatu sore ia hanya berkata, sambil menyeruput kopi di warung, bahwa pangkalan ojek di mulut gang itu kosong dari jam dua belas malam, dan bahwa ia kebetulan sering tidak ngantuk. Sundari tahu itu bohong. Bang Jali ngantuk seperti orang biasa. Tapi ia membiarkan lelaki itu menjaga, karena sejak warung subkontraktor itu dibekukan rekeningnya, sejak somasi-somasi baru berdatangan, ia merasakan sesuatu di udara yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Firasat itu benar pada pukul dua dini hari.
Bang Jali terbangun oleh bau. Bukan bau santan atau pandan yang biasa, melainkan bau bensin, tipis dan tajam, menyelinap masuk ke hidungnya sebelum matanya benar-benar terbuka. Ia bangkit. Di sela papan warung yang ditutup terpal, ia melihat dua bayangan bergerak cepat, menyiramkan sesuatu dari jeriken kecil ke tumpukan kardus bekas di samping dapur. Salah satunya menyalakan pemantik.
Apa yang terjadi setelah itu terjadi dalam hitungan detik. Bang Jali berteriak sekuat tenaga, suara yang memecah malam gang Mawar, dan melompat sambil menyambar tutup panci besar yang tergeletak di emperan. Pemantik itu jatuh. Api kecil sempat menjalar di kardus, lidahnya menjilat terpal, tapi Bang Jali sudah menggebuk dan menginjaknya, menggebuk lagi, sementara dua bayangan itu lari terbirit ke ujung gang dan lenyap ditelan gelap sebelum tetangga sempat keluar. Yang tersisa hanya kardus hangus, terpal bolong, bau bensin yang memuakkan, dan Bang Jali yang berdiri terengah-engah dengan tangan melepuh, menatap api kecil yang nyaris memakan satu-satunya sumber nasi keluarga itu.
Sundari datang berlari dari dalam, daster lusuh, rambut terurai, dan Lintang di belakangnya menjerit pelan menutup mulut. Ketika Sundari melihat noda hitam yang menjalar dari kardus ke dinding triplek warungnya, ke arah dapur tempat tabung gas berdiri, lututnya lemas. Bukan karena warungnya. Karena dapur itu menempel ke dinding kamar, dan di balik dinding kamar itu, biasanya, Lintang tidur.
Malam itu Lintang kebetulan tidur di ruang depan karena belajar sampai larut. Kebetulan. Satu kata yang membuat Sundari menggigil bukan oleh dingin.
Polisi datang menjelang subuh, mencatat dengan wajah datar. Seorang petugas, sambil mengetuk-ngetukkan pulpennya, menyebut kata yang sudah Sundari hafal sampai mual: kemungkinan korsleting, atau pembakaran sampah yang lepas kendali. Tidak ada saksi yang jelas, katanya. Penerangan gang kurang. Bang Jali, dengan tangan diperban, hampir naik darah, tapi Pram yang sudah datang menahan lengannya, menggeleng kecil. Tidak ada gunanya berdebat dengan laporan yang sudah selesai sebelum ditulis.
Yang membuat Sundari paham betul apa yang sebenarnya terjadi adalah teleponnya. Pukul setengah enam pagi, ponsel jadulnya berdering dari nomor tak dikenal. Tidak ada suara. Hanya napas, beberapa detik, lalu sambungan diputus. Pesan tanpa kata. Mereka tahu di mana ia tinggal. Mereka tahu Bang Jali berjaga. Mereka tahu, dan mereka ingin ia tahu bahwa mereka tahu.
"Ini bukan korsleting, Bu," kata Pram pelan, setelah polisi pergi. Wajahnya pucat. Selama ini ia memperingatkan tentang gugatan, tentang biaya, tentang opini. Tapi ini sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia urus dengan berkas. "Ini peringatan. Haryanto sudah bicara, dan mereka mulai panik. Orang yang panik berhenti main halus."
Sundari tidak menjawab. Ia berjalan ke dalam, ke sudut tempat foto Bagas tergantung, dan berdiri lama menatapnya. Lalu ia menatap Lintang yang duduk di kursi plastik, memeluk lutut, gemetar walau pagi sudah hangat. Anak itu tidak menangis. Justru itu yang membuat hati Sundari pecah. Lintang yang dulu meledak, yang dulu berteriak, kini hanya diam dengan mata yang terlalu tua untuk anak hampir empat belas tahun.
Selama setahun ini, ketakutan Sundari selalu untuk Bagas yang sudah tiada, untuk nama yang harus ia bersihkan. Pagi itu, untuk pertama kalinya, ketakutannya bergeser sepenuhnya pada yang masih hidup. Ia membayangkan api itu menjalar beberapa meter lebih jauh, beberapa menit lebih cepat, dan tubuhnya menolak membayangkannya sampai habis.
Ia duduk di samping Lintang, melingkarkan lengan, menarik kepala anak itu ke bahunya. "Mulai hari ini," katanya, suaranya rendah dan tegas dengan cara yang baru, "kamu tidur di rumah Bu Marni. Sama Wening dan Wulan. Emak yang antar, Bang Jali yang jaga."
Lintang mengangkat wajah. "Terus Emak gimana?"
Sundari tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya mengusap rambut anaknya. Di dalam dirinya, sebuah pikiran yang selama ini ia tolak mentah-mentah kini bersinar dingin dan jelas: bahwa kemenangan dalam pertarungan ini, kalau pun datang, mungkin tidak akan datang gratis. Mungkin ada harga yang dibayar bukan dengan uang, bukan dengan waktu, bukan dengan kesehatan. Mungkin dengan darah. Dan untuk pertama kalinya ia harus berpikir keras, di pagi yang berbau bensin dan abu itu, apakah ia sanggup terus maju ketika yang dipertaruhkan bukan lagi nama anaknya yang mati, melainkan tubuh anaknya yang masih bernapas di sampingnya.
Pram menelepon Bu Ratri. Bu Ratri mendengarkan, lalu berkata satu kalimat yang membuat Sundari justru menegakkan punggung. "Kalau mereka sudah berani membakar," kata advokat itu di seberang sana, suaranya dingin seperti biasa tapi ada baja di dalamnya, "artinya kita sudah dekat. Orang tidak membakar rumah lawan yang akan kalah. Mereka membakar rumah lawan yang mulai mereka takuti."
Kata itu menempel di kepala Sundari sepanjang hari, sementara ia menyapu abu dari emperan warungnya, sementara ia mengantar Lintang dengan tas berisi seragam ke rumah Marni, sementara tangannya yang lelah memperbaiki terpal yang bolong. Mereka mulai takut. Itu bukan penghiburan. Itu peringatan. Karena orang yang takut, ia tahu sekarang, adalah orang yang paling berbahaya.