Ruangan itu bukan ruang sidang. Hanya aula pinjaman di lantai dua kantor sebuah lembaga bantuan hukum, dengan kipas angin yang berputar malas dan kursi-kursi plastik yang tak seragam warnanya. Tapi ketika Gayatri masuk dan melihat siapa saja yang hadir, dadanya berdesir oleh sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan: bukan takut, bukan bersalah, melainkan semacam gugup yang bersih. Di deret depan duduk dua orang dari asosiasi juru bahasa. Di seberang, mengelompok rapat, orang-orang komunitas Tuli — Sekar di antara mereka, tangannya sudah bergerak menyapa seseorang. Dan di meja panjang, Wulan sedang menata setumpuk map, wajahnya serius seperti orang yang tahu hari itu penting.
Gayatri memilih kursi di pinggir. Ia datang sebagai apa, ia sendiri belum yakin. Sertifikatnya sedang dalam status skors; namanya, kalau disebut orang, masih disebut dengan jeda kecil, seolah menimbang. Ia tak lagi juru bahasa yang dibooking pengadilan. Tapi seseorang — ia menduga Wulan — tetap menuliskan namanya di daftar undangan.
Forum itu dibuka tanpa seremoni. Seorang perempuan dari lembaga bantuan hukum berdiri, dan di sebelahnya seorang CDI menerjemahkan ke ruang dengan tangan yang lapang dan tenang. Gayatri memperhatikan cara CDI itu bekerja: bukan sekadar mengalihkan kata, tapi mengatur ruang isyarat, menandai siapa bicara, memberi jeda agar peserta Tuli bisa menyela. Begitu seharusnya. Begitu yang tidak ada di ruang keterangan tempat Damar dulu didudukkan.
"Kami menyusun ini," kata perempuan itu, mengangkat lembaran, "sebagai usulan standar. Bukan undang-undang, belum. Tapi kalau cukup banyak yang menandatangani — pengacara, asosiasi, organisasi Tuli — kami bisa membawanya ke kepolisian daerah, ke pengadilan, sebagai desakan resmi."
Lembaran itu beredar dari tangan ke tangan. Ketika sampai padanya, Gayatri membacanya pelan. Poin pertama: pada setiap pemeriksaan yang melibatkan penutur bahasa isyarat, wajib dihadirkan CDI di samping juru bahasa dengar. Poin kedua: keterangan direkam utuh secara video, bukan hanya dituliskan ke dalam kalimat lisan. Poin ketiga: penerjemah berhak — dan wajib — menandai bagian yang ambigu, dan tidak boleh dipaksa merender makna yang tak pasti sebagai pernyataan tegas.
Ia membaca poin ketiga itu dua kali. Kalimatnya kaku, bahasa birokrasi, tapi Gayatri tahu persis dari luka mana ia lahir. Ia bisa menunjuk ruang keterangan itu, kursi itu, isyarat ruang Damar yang tangannya dulu ubah menjadi pengakuan. Seluruh kalimat itu adalah bekas yang dicetak jadi aturan.
Diskusi bergulir. Seorang dari asosiasi mengangkat tangan, suaranya hati-hati. "Kalau CDI wajib di setiap pemeriksaan, dari mana tenaganya? Kita tak punya cukup CDI tersertifikasi. Ini bisa jadi memperlambat semua proses."
"Memang memperlambat," sahut Wulan, tak menunggu lama. "Tapi kita sudah tahu apa yang terjadi kalau dipercepat." Ia tidak menoleh ke arah Gayatri, dan justru karena itu Gayatri merasa seluruh ruangan menoleh. Ia menahan diri untuk tidak menunduk. Ia tetap menatap Wulan, dan mengangguk kecil — bukan membela diri, hanya membenarkan.
Lalu Sekar berdiri. Tangannya bicara, dan seorang juru bahasa muda menyuarakannya untuk yang mendengar. "Kami tidak minta segalanya sempurna hari ini," kata Sekar lewat perantara itu. "Kami minta jangan lagi ada saudara kami yang dijelaskan oleh mulut orang lain tanpa ia sempat membetulkan. Perlambat kalau perlu. Kami sudah biasa menunggu. Yang tidak bisa kami tanggung adalah salah yang tak bisa ditarik."
Ruangan hening sebentar. Gayatri merasa matanya panas dan ia mengedip cepat. Sekar tidak menatapnya saat mengisyaratkan itu, tapi juga tidak menghindarinya. Di antara mereka masih ada retak yang belum sembuh benar — pintu yang baru terbuka sedikit, belum lebar. Tapi Sekar mengucapkan "salah yang tak bisa ditarik" tanpa memandangnya seperti musuh, dan bagi Gayatri itu sudah lebih dari yang ia berani harap.
Ketika lembaran kembali dibicarakan poin demi poin, seseorang dari lembaga menoleh ke arahnya. "Mbak Gayatri," katanya, dan seluruh perhatian berpindah. "Mbak pernah ada di ruang itu. Dari sisi juru bahasa dengar, apa yang paling perlu diatur supaya kekeliruan seperti kemarin tak terulang?"
Ada jeda saat Gayatri menimbang apakah ia berhak menjawab. Statusnya sedang tergantung; suaranya, secara profesi, sedang tak berbunyi. Tapi pertanyaan itu bukan soal wewenang. Itu soal apa yang ia tahu dengan tubuhnya sendiri.
"Kecepatan," katanya akhirnya, pelan tapi jelas. "Yang paling menekan di ruang itu bukan niat jahat siapa-siapa. Tapi semua orang buru-buru. Aparat ingin keterangan cepat selesai, dan juru bahasa sendirian dituntut memberi kalimat yang bulat, yang enak dicatat. Padahal isyarat ruang tidak selalu bulat. Kadang ia menggantung. Kalau tak ada yang boleh berkata 'ini belum jelas' tanpa dianggap tidak becus — kekeliruan itu akan lahir lagi. Dari orang lain. Di kasus lain."
Ia berhenti. Ia tidak menyebut Damar. Ia tidak perlu.
Wulan menuliskan sesuatu. Perempuan dari lembaga mengangguk perlahan dan berkata bahwa itu akan dimasukkan ke bagian latar usulan — bukan sebagai kesaksian, hanya sebagai catatan dari yang pernah berdiri di sana.
Menjelang forum bubar, Gayatri melihat orang-orang asosiasi berbicara dengan CDI dan pengacara, nada mereka berubah — tak lagi bertahan, mulai menghitung. Sesuatu yang kaku sedang mencair, meski lambat. Ia tahu ini belum kemenangan. Usulan ini bisa mengendap di laci, bertahun-tahun. Standar tak berubah dalam satu sore beraula pinjaman.
Tapi di pintu, Wulan menyusulnya, menyerahkan salinan lembaran itu. "Kalau nanti sertifikatmu pulih," kata Wulan, "kami butuh orang yang bisa melatih ini. Yang tahu rasanya salah."
Gayatri menerima lembaran itu. Ia tak menjawab ya, tak menjawab tidak. Ia hanya melipatnya rapi dan memasukkannya ke tas, seolah menyimpan sesuatu yang masih harus dipikul jauh.