Ruang rapat asosiasi itu terlalu terang untuk sore yang mendung. Gayatri duduk di kursi yang bukan miliknya—bukan kursi juru bahasa, sebab sertifikatnya masih ditahan sampai batas skors berakhir—melainkan kursi tamu di ujung meja panjang, tempat orang yang diminta hadir tapi tak lagi punya nama resmi untuk disandang. Di dinding, seseorang telah menempel kertas plano dengan tulisan tangan yang belum rapi: Rancangan Standar Pendampingan Bahasa Isyarat di Ranah Hukum. Judul yang panjang untuk sesuatu yang, tiga tahun lalu, tak ada yang merasa perlu menuliskannya.
Rani datang paling awal, seperti biasa. Ia meletakkan map di depannya, membukanya, menutupnya lagi tanpa membaca. Wulan datang belakangan, membawa map yang lebih tebal dan wajah yang sudah siap berdebat. Keduanya duduk berseberangan, dan Gayatri tahu betul apa artinya geometri itu. Ia pernah menghabiskan berbulan-bulan terjepit di garis lurus yang menghubungkan mereka.
"Aku sudah baca draf yang dikirim Wulan," kata Rani, membuka tanpa basa-basi. "Ada frasa yang aku tak bisa terima. 'Juru bahasa wajib menandai ketaksaan dan, bila perlu, menyampaikan keprihatinan pada majelis.' Menyampaikan keprihatinan itu sudah membela, bukan menerjemahkan."
Wulan tidak langsung menyahut. Itu sendiri sudah perubahan; setahun lalu ia akan menyergap kalimat itu di udara. "Bukan membela orangnya," ujarnya akhirnya. "Membela maknanya. Ada bedanya, Bu."
"Bedanya tipis."
"Semua yang penting bedanya tipis."
Gayatri diam. Ia sudah belajar bahwa ada saat di mana peran terbaiknya adalah tidak mengisi keheningan. Ia menatap kertas plano itu, lalu menatap tangannya sendiri—tangan yang di ruang sidang beberapa bulan lalu menerjemahkan-ulang isyarat Damar di depan majelis, membongkar penempatan ruang dan klasifikator yang dulu ia render keliru menjadi kalimat berniat. Tangan yang sama, yang kini tak boleh dipakai untuk pekerjaan yang membuatnya menjadi dirinya.
"Boleh aku bicara?" katanya.
Keduanya menoleh. Ada sesuatu dalam cara mereka menoleh yang membuat dadanya sesak sebentar—bukan curiga, bukan pula memuja. Menunggu. Seolah keduanya diam-diam sepakat bahwa perempuan yang pernah salah dan berani mengakuinya di depan majelis mungkin memegang sesuatu yang tak dimiliki oleh yang tak pernah tergelincir.
"Kalimat Bu Rani benar," kata Gayatri pelan. "Netralitas itu kode etik, bukan hiasan. Kalau juru bahasa mulai menyampaikan keprihatinan, ia menaruh dirinya di kursi yang bukan haknya." Ia berhenti. Rani mengangguk kecil, terlalu dini. "Tapi Wulan juga benar. Aku dulu netral. Aku menyampaikan, bukan membela. Dan justru karena aku merasa netral, aku tidak menandai apa-apa. Aku merender isyarat ruang Damar jadi kalimat lisan yang bunyinya bulat, yakin, berniat—dan aku tidak berhenti sedetik pun untuk bilang: ini bisa berarti lain."
Ruangan itu senyap. Di luar, hujan mulai turun tanpa suara di kaca.
"Kesalahanku bukan karena aku tidak cukup membela," lanjutnya. "Kesalahanku karena aku mengira diam adalah bentuk paling murni dari netral. Padahal diam atas ketaksaan itu sendiri sebuah pilihan. Aku memilih kalimat yang paling licin, dan aku menyebutnya setia."
Wulan membuka mulut, lalu menutupnya. Untuk sekali ini ia tidak buru-buru mengklaim kemenangan.
Gayatri berdiri, mengambil spidol yang tergeletak di bawah kertas plano. Ia mencoret frasa yang diperdebatkan tadi—menyampaikan keprihatinan pada majelis—lalu di bawahnya ia menulis dengan tangan yang, ia sadari, tidak gemetar seperti berbulan-bulan lalu: menandai ketaksaan secara transparan, meminta CDI bila maknanya bergantung pada ruang atau klasifikator, dan menolak merender niat yang tidak pasti.
"Ini bukan membela," katanya, menghadap Rani. "Juru bahasa tidak bilang terdakwa bersalah atau tidak. Ia cuma bilang: isyarat ini punya dua jalan, dan aku tidak berwenang memilihkan satu untuk kalian." Ia berpaling pada Wulan. "Dan ini bukan diam. Ketaksaan itu ditaruh di meja, terlihat, jadi tanggung jawab majelis, bukan disembunyikan di balik kalimat yang mulus."
Rani menatap tulisan itu lama sekali. "Itu memperlambat semuanya," ujarnya, tapi nadanya bukan menolak. Nada seseorang yang sedang menimbang ongkos dan mulai mengira ongkos itu pantas.
"Kasus Damar juga lambat," sahut Gayatri. "Bertahun-tahun lambat. Yang cepat kemarin cuma kekeliruannya."
Wulan tertawa kecil, getir, dan untuk pertama kalinya sore itu ia dan Rani bertukar pandang tanpa dinding di antara mereka. Bukan sepakat penuh—dua orang seperti itu mungkin tak akan pernah sepakat penuh—tapi seperti dua sungai yang menemukan bahwa mereka bermuara ke laut yang sama.
"Kau yang harus mengajarkan ini," kata Rani tiba-tiba. Ia menutup mapnya. "Bukan aku, bukan Wulan. Kami dua kutub. Yang muda-muda butuh melihat orang yang pernah berdiri di tengah dan tahu persis di mana tengah itu retak."
Gayatri meletakkan spidol. Sesuatu bergeser di dalam dadanya, pelan, seperti batu yang selama ini menindih akhirnya sedikit berputar dan menemukan tumpuan baru. Ia bukan lagi saluran—pipa netral yang dilewati suara orang lain tanpa jejak. Ia juga tak akan pernah jadi aktivis yang mengibarkan bendera di ruang sidang. Barangkali yang tersisa untuknya adalah ini: menjaga standar, menempa orang, menurunkan pengetahuan mahal yang ia beli dengan kariernya sendiri.
"Sertifikatku masih ditahan," katanya, hampir tersenyum.
"Untuk menerjemahkan," Rani menukas. "Bukan untuk mengajar orang menerjemahkan dengan jujur."
Di kertas plano itu, di antara tulisan tangan tiga orang yang dulu tak bisa berada dalam satu ruangan tanpa bertengkar, judul yang panjang tadi kini terasa sedikit lebih ringan. Bukan karena masalahnya selesai. Melainkan karena, untuk pertama kalinya, ketiganya sedang menuliskan hal yang sama.