Selama skors, waktu Gayatri melar seperti sore yang enggan habis. Ia mengisi hari dengan hal-hal kecil: menyapu teras, menyeduh teh yang lupa ia minum, membaca ulang buku yang endingnya sudah ia hafal. Gawai yang dulu berdenting oleh jadwal penugasan kini diam di meja. Pelan-pelan ia belajar mendengar keheningan itu tanpa langsung menganggapnya hukuman.
Bagas pulang menjelang magrib, sepatunya basah oleh hujan yang baru reda. Ia menutup pintu, lalu tangannya sudah bergerak sebelum tas lepas dari bahunya. "Besok," isyaratnya, "syukuran kecil di rumah Damar. Dia sudah pulang."
Gayatri menahan tangannya sendiri di udara. Ia teringat acara komunitas beberapa bulan silam, ketika ia berdiri di tepi ruangan dan tak seorang pun menoleh untuk menyapa, ketika kursi di sebelahnya tetap kosong seolah ada yang menandainya jangan-diduduki. "Aku tidak yakin mereka ingin aku datang," isyaratnya.
Bagas menatapnya lama. "Kamu tidak diundang untuk jadi tamu kehormatan," jawabnya, tangannya tenang. "Kamu diundang karena kamu keluargaku. Sisanya biar mereka yang putuskan."
Rumah Damar sebuah petak sempit di gang yang harus dimasuki dengan menunduk. Lampu neon dinyalakan terang-benderang, jauh lebih terang dari rumah dengar mana pun—Gayatri selalu suka detail itu, cara ruang Tuli membuat cahaya bekerja untuk mata. Belasan orang sudah berkumpul, tangan-tangan berterbangan, tawa yang keluar sebagai embusan napas dan bahu yang berguncang. Saat Gayatri melangkah masuk di belakang Bagas, beberapa kepala menoleh. Percakapan tak berhenti, tapi ada jeda—sepersekian detik ketika mata menimbang, mengenali, memutuskan.
Sekar ada di sudut, membantu menata piring. Ia melihat Gayatri, dan untuk sesaat wajahnya tak menyimpan apa pun yang bisa dibaca. Lalu ia mengangkat dagunya sedikit—bukan pelukan, bukan senyum lebar, hanya pengakuan bahwa ia melihat, bahwa Gayatri diperbolehkan berada di ruang itu. Setelah semua yang retak di antara mereka, isyarat sekecil itu terasa seperti pintu yang dibiarkan tak terkunci.
Ibu Damar keluar dari dapur membawa nampan berisi gelas. Perempuan itu dengar, tapi tangannya sudah luwes oleh bertahun-tahun hidup dengan anak Tuli; ia berisyarat sambil bersuara, campur aduk seperti kebanyakan orang tua di komunitas ini. Ketika pandangannya jatuh pada Gayatri, langkahnya melambat. Gayatri menyiapkan diri untuk apa pun—dingin, sindiran, pintu yang ditutup dengan sopan.
Perempuan itu meletakkan nampan. Ia menghampiri, lalu berdiri terlalu dekat, cara orang yang tak tahu harus bagaimana. "Kamu yang menerjemahkan," katanya. Bukan pertanyaan.
"Iya, Bu." Gayatri tidak menunduk. Ia sudah berjanji pada dirinya untuk tidak lagi bersembunyi di balik keheningan yang nyaman. "Saya yang keliru merender isyarat Damar. Dan saya juga yang datang untuk membetulkannya."
Ibu Damar diam. Matanya berkaca, tapi tak ada air yang jatuh. "Waktu di sidang pertama itu," ucapnya lambat, "saya benci kamu. Saya kira kamu orang mereka. Orang yang pakai bahasa kami untuk menjebak anak saya." Ia menarik napas. "Lalu Damar cerita, pakai tangannya sendiri, di depan majelis. Dan saya lihat kamu duduk di sana. Kamu bisa diam. Kamu bisa selamatkan diri sendiri. Tapi kamu bicara melawan pekerjaan kamu sendiri."
Gayatri merasa sesuatu mengetat di tenggorokannya. "Itu bukan kepahlawanan, Bu," katanya pelan. "Itu cuma jujur atas apa yang tangan saya lakukan. Terlambat pun."
"Terlambat," ulang ibu itu, dan untuk pertama kalinya sudut bibirnya bergerak, nyaris senyum yang letih. "Tapi datang." Ia mengambil satu gelas dari nampan dan menyodorkannya ke tangan Gayatri—teh manis yang terlalu panas, uapnya naik. Bukan maaf. Sebuah gelas teh bukanlah pengampunan. Tapi di rumah ini, di ruang yang tak pernah menyodorkan apa pun pada orang yang tak diakui, gelas itu punya berat sendiri.
Dari seberang ruangan, Damar melihat mereka. Pemuda itu tampak berbeda dari sosok kebingungan yang dulu Gayatri jenguk di balik kaca. Punggungnya lebih tegak, matanya lebih hadir. Ia melintasi ruangan, dan orang-orang memberinya jalan dengan cara yang tak diberikan pada tamu biasa—ini rumahnya, malam ini miliknya.
Damar berhenti di depan Gayatri. Ia tidak tersenyum sopan. Ia menatapnya seperti menimbang, lalu tangannya mulai bergerak—perlahan, sengaja, memakai ruang di antara mereka dengan cermat. Ia membentuk sebuah isyarat ruang: menempatkan satu sosok di kiri, satu di kanan, lalu menunjuk jarak di antaranya. Gayatri mengenali tata bahasa itu seketika. Bukan "terima kasih". Sesuatu yang lebih rumit, lebih jujur.
"Kamu menaruh aku salah tempat," isyarat Damar, klasifikatornya bergeser di udara. "Dulu. Di berkas itu." Ia berhenti, memastikan Gayatri mengikuti. "Lalu kamu kembali dan menaruhku di tempat yang benar. Di depan semua orang." Tangannya turun sebentar. "Aku tidak bilang tidak apa-apa. Yang dulu tetap terjadi. Tapi aku lihat kamu."
Aku lihat kamu. Isyarat yang sama yang dipakai Sekar, yang dipakai komunitas ini untuk hal yang lebih dalam dari sekadar memandang. Gayatri merasa matanya panas. Ia tidak membalas dengan kata-kata pembelaan, tidak dengan permintaan agar dimaafkan. Ia hanya mengangkat tangan dan menjawab dalam BISINDO, tanpa suara, tanpa perantara: "Aku lihat kamu juga. Dan aku minta maaf, bukan supaya kamu ringankan aku. Cuma karena itu benar."
Damar mengangguk sekali. Lalu, seolah malam terlalu berat untuk dibawa terus-menerus, ia menyeringai dan menepuk lengan Gayatri—dorongan kecil ke arah meja makanan, gestur tuan rumah yang mengusir tamu dari kesungkanan. Ruangan kembali riuh oleh tangan-tangan. Seseorang mengedipkan lampu untuk memanggil perhatian, mengumumkan makanan siap.
Gayatri tidak lagi berdiri di tepi. Ia membaur, menerima piring, tertawa pada lelucon tangan yang berdesing terlalu cepat sampai ia harus meminta diulang. Ia tahu ini belum pulih. Sekar masih menjaga jarak yang sopan; sebagian orang di ruangan itu masih memilih tak menyapanya. Retak tidak dilem dalam satu malam oleh segelas teh dan sebuah isyarat.
Tapi di gang sempit itu, di bawah neon yang menyala untuk mata, sesuatu telah bergeser satu jengkal. Dari curiga menuju sesuatu yang belum bernama—bukan pengampunan penuh, hanya pengakuan bahwa ia ada, bahwa ia kembali, bahwa tangannya yang sama bisa keliru dan bisa membetulkan. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak sekian lama, Gayatri pulang dengan dada yang sedikit lebih ringan.