Gayatri tiba di gedung pengadilan dua jam sebelum sidang, bukan karena gugup, melainkan karena ada hal-hal teknis yang kalau diabaikan akan menghancurkan segalanya, dan tidak ada orang lain di gedung itu yang akan memikirkannya selain dirinya. Inilah bagian dari pekerjaannya yang tak pernah terlihat dan tak pernah dihargai: memastikan bahwa kondisi fisik ruangan memungkinkan bahasa lewat tanpa cacat.
Ia masuk ke ruang sidang yang masih kosong dan langsung membaca cahayanya. Buruk. Jendela besar di satu sisi membuat cahaya datang dari belakang tempat saksi akan berdiri, artinya tangan Sigit akan tampak sebagai siluet gelap, sulit dibaca, dan tangannya sendiri saat menerjemahkan ke Sigit akan tenggelam dalam silau. Ia memanggil petugas dan menjelaskan, dengan sabar dan teknis, bahwa posisi duduk perlu diatur ulang. Tangan yang dibaca melawan cahaya akan kehilangan maknanya, katanya, dan kehilangan makna di ruang ini berarti kehilangan keadilan. Petugas itu mula-mula enggan, menganggapnya rewel, tapi Gayatri tidak mundur, dan akhirnya mereka menggeser kursi, menutup sebagian tirai, menyalakan lampu tambahan, sampai cahaya jatuh merata ke tangan, bukan melawannya.
Lalu posisi duduk. Ia menjelaskan kepada panitera tentang posisi segitiga, prinsip yang sudah jadi tulang punggung kerjanya: Sigit harus bisa melihat tangan Gayatri dengan jelas, Gayatri harus bisa melihat tangan Sigit, dan majelis hakim harus bisa melihat wajah Sigit, bukan punggung Gayatri. Juru bahasa bukan tembok antara saksi dan hakim; juru bahasa adalah jendela. Ia mengatur agar dirinya duduk sedikit ke samping, tak menghalangi, dekat tapi tak terlalu dekat. Setiap senti diperhitungkan.
Ia juga menyiapkan satu hal yang membuatnya paling gelisah: protokol bila ia harus mengoreksi dirinya sendiri di tengah persidangan. Sebab ia manusia, dan tangannya bisa salah, dan dalam ruang setegang ini bahkan satu isyarat keliru bisa berakibat fatal. Ia meminta izin kepada panitera, untuk disampaikan kepada majelis, bahwa bila sewaktu-waktu ia menyadari telah salah menerjemahkan, ia akan mengangkat tangan, menyatakan koreksi terjemahan dengan jelas, dan mengulang dengan benar; bahwa ini bukan tanda ketidakcakapan melainkan bagian dari menjaga ketepatan, dan diakui dalam praktik profesi. Ia ingin majelis tahu sebelumnya, supaya saat ia melakukannya, itu tidak ditafsirkan sebagai kekacauan atau keberpihakan. Ia sedang, tanpa benar-benar menyadarinya, mempersiapkan jalan keluar untuk momen yang belum ia tahu akan datang.
Setelah semua teknis selesai, masih ada waktu, dan Sigit dibawa masuk untuk persiapan singkat yang diizinkan, didampingi penasihat hukumnya. Untuk pertama kalinya sejak ruang tanpa jendela itu, Gayatri berhadapan dengan Sigit dalam keadaan yang relatif tenang, dengan cahaya yang cukup, tanpa penyidik yang mengejar waktu. Dan sesuatu terjadi di antara mereka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Sigit menatap tangan Gayatri, lalu menatap wajahnya, lalu mulai berisyarat, perlahan, dengan kejelasan seseorang yang telah memutuskan sesuatu. Saya ingin menceritakan semuanya, persis seperti yang terjadi, isyaratnya. Bukan supaya kamu menyelamatkan saya. Saya tahu kamu tidak bisa menyelamatkan saya, itu bukan tugasmu. Saya hanya ingin, untuk sekali saja, ceritaku didengar persis seperti yang saya katakan. Bukan versi yang dibuat orang lain. Versiku.
Gayatri menahan sesuatu yang naik di tenggorokannya, dan ia bersyukur tidak ada yang menuntut suaranya saat itu, karena ia tidak yakin suaranya akan stabil. Inilah yang selama ini ia perjuangkan tanpa pernah bisa menamainya. Bukan menyelamatkan. Bukan menolong. Bukan menjadi pengacara. Tapi memastikan bahwa seorang manusia Tuli, untuk sekali dalam hidupnya yang penuh dengan orang yang berbicara untuknya, atas namanya, di atas kepalanya, akhirnya bisa berbicara dengan suaranya sendiri dan didengar persis. Itu bukan pelanggaran netralitas. Itu justru jantung paling murni dari netralitas yang sesungguhnya: bukan ketiadaan, melainkan kesetiaan total pada suara orang lain.
Ceritakan, Gayatri berisyarat. Saya akan membawa setiap katamu utuh. Saya tidak akan menambah. Saya tidak akan mengurangi. Kalau ada kata yang sulit, saya akan berhenti dan memastikan, bukan menebak. Suaramu akan sampai sebagai suaramu.
Dan Sigit bercerita. Tentang kiosnya, tentang radio yang dititipkan, tentang pemilik yang tak datang-datang, tentang bagaimana ia menyimpan barang itu dengan jujur dan menunggu, tentang bagaimana di suatu hari seseorang datang, dan tentang apa yang sebenarnya ia lihat. Ia menekankan satu hal dengan isyarat yang jelas dan berulang, satu hal yang Gayatri tanamkan dalam-dalam ke ingatannya seperti orang menanam batu penanda: saya melihat. Saya hanya melihat orang itu mengambil. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya melihat.
Tangannya membentuk isyarat melihat dengan begitu jelas, dua jari menunjuk dari mata ke arah suatu titik di ruang, sebuah isyarat yang dalam BISINDO tidak mungkin dikacaukan dengan melakukan, yang isyaratnya sama sekali berbeda, melibatkan tangan yang bertindak, bukan mata yang menyaksikan. Dua konsep yang sejauh langit dari bumi dalam bahasa isyarat, tapi dalam bahasa Indonesia tulisan, kalau seseorang yang tidak cakap menerjemahkannya, bisa saja tergelincir dari satu ke yang lain hanya dengan salah pilih satu kata kerja.
Gayatri menyerap semuanya, dan beban kesetiaan makna yang ia panggul sepanjang cerita ini memuncak menjadi sesuatu yang hampir tak tertanggung. Karena sekarang ia tahu, dengan kepastian yang dingin, persis apa yang Sigit lihat dan persis apa yang Sigit katakan. Ia memegang versi yang utuh, versi yang dipercayakan kepadanya, bukan untuk diselamatkan, tapi untuk didengar. Dan besok, di ruang yang sama, jaksa akan membacakan berita acara, terjemahan resmi yang dibangun dari pemeriksaan-pemeriksaan yang mungkin sudah retak sejak siang itu, terjemahan yang akan menjadi dasar vonis. Dua versi akan bertemu di ruang yang sama. Versi yang Sigit percayakan kepada Gayatri, dan versi yang ditulis oleh tangan-tangan lain.
Saat petugas membawa Sigit keluar untuk menunggu giliran, lelaki itu menoleh sekali, dan tangannya membentuk satu isyarat pendek kepada Gayatri. Terima kasih sudah mau mendengar persis. Lalu ia hilang di balik pintu, dan Gayatri berdiri sendirian di ruang sidang yang kini terang merata, dengan posisi duduk yang sudah segitiga sempurna, dengan protokol koreksi yang sudah ia siapkan, dan dengan sebuah versi kebenaran yang utuh tertanam di tangannya seperti bara. Ia memandang kursi tempat ia akan duduk besok, kursi juru bahasa, kursi kaca bening, dan untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa kaca itu, esok hari, mungkin akan dipaksa memilih antara tetap diam dan membiarkan cahaya jatuh ke tempat yang salah, atau mengaku, di depan seluruh ruangan, bahwa ia selalu, sejak awal, ikut menentukan ke mana cahaya itu jatuh.