Ruang sidang penuh pada pagi itu, terang merata seperti yang Gayatri pastikan kemarin, dengan posisi duduk segitiga yang ia atur sampai ke senti terakhir. Ia duduk di kursi juru bahasa, tangannya yang sudah direndam air hangat subuh tadi terasa siap, dan di seberangnya Sigit berdiri di tempat saksi, pucat tapi tegak, dengan martabat yang mengingatkan Gayatri pada ibunya di dapur kecil bertahun lalu. Majelis hakim memasuki ruangan, semua berdiri, lalu duduk, dan persidangan dimulai dengan tata cara yang khusyuk dan dingin.
Gayatri menerjemahkan setiap kata dengan presisi yang ia bangun seumur hidup. Saat hakim ketua menjelaskan tata tertib, tangannya mengalihkannya ke dalam isyarat yang utuh untuk Sigit. Saat Sigit menjawab pertanyaan identitas, ia menyuarakannya tepat, kecepatan dijaga agar panitera bisa mencatat. Ruangan bergerak dalam ritme formal, dan untuk beberapa saat Gayatri membiarkan dirinya percaya bahwa hari ini mungkin akan berjalan dalam batas-batas yang bisa ia tanggung, bahwa kesetiaannya pada makna cukup, bahwa ia tidak akan dipaksa memilih.
Lalu tiba giliran jaksa membacakan berkas. Jaksa berdiri, mengangkat berita acara pemeriksaan, terjemahan resmi yang telah dibangun dari pemeriksaan-pemeriksaan sebelumnya, dokumen yang akan menjadi tulang punggung dakwaan dan dasar pertimbangan vonis. Suaranya jelas dan terukur saat ia membacakan keterangan terdakwa sebagaimana tercatat. Gayatri menerjemahkan pembacaan itu ke dalam isyarat untuk Sigit, sebagaimana tugasnya, agar Sigit tahu apa yang sedang dibacakan tentang dirinya.
Dan di tengah pembacaan itulah ia mendengarnya. Satu kalimat. Jaksa membacakan, dengan nada datar berwibawa, sebuah kalimat yang menyatakan bahwa terdakwa, sesuai keterangannya, berada di lokasi dan melakukan pengambilan barang tersebut.
Melakukan.
Gayatri merasakan seluruh tubuhnya menjadi dingin dalam sepersekian detik, dingin yang lebih dalam daripada di ruang tanpa jendela, lebih dalam daripada di koridor IGD. Karena ia tahu, dengan kepastian yang tidak menyisakan keraguan sedikit pun, persis apa yang Sigit lihat dan persis apa yang Sigit katakan, kemarin, dalam cahaya yang cukup, dengan isyarat yang berulang dan jelas. Saya melihat orang itu mengambil. Saya tidak melakukan apa-apa. Saya melihat. Isyarat dua jari dari mata ke titik di ruang, isyarat yang tak mungkin dikacaukan dengan tangan yang bertindak. Sigit melihat. Sigit menyaksikan. Sigit adalah saksi atas perbuatan orang lain.
Tapi di atas kertas yang sedang dibacakan jaksa, di dalam terjemahan resmi yang lahir entah dari tangan tak terlatih pada siang yang panas itu, entah dari simpul-simpul perjalanan dari isyarat ke suara ke tulisan baku, satu kata kerja telah tergelincir. Melihat telah menjadi melakukan. Saksi telah menjadi pelaku. Mata yang menyaksikan telah berubah menjadi tangan yang berbuat. Dan kata itu, kata tunggal itu, bukan sekadar kesalahan tata bahasa. Kata itu adalah jurang antara bebas dan terhukum. Kata itu akan menjadi dasar vonis. Kata itu akan menentukan apakah Sigit pulang ke kiosnya atau ke tempat yang lebih gelap dari segala ruang tanpa jendela yang pernah ia bayangkan.
Di kursi saksi, Sigit menatap tangan Gayatri, menunggu terjemahan dari apa yang sedang dibacakan, tidak tahu, belum tahu, bahwa hidupnya sedang dibalik oleh satu kata. Wajahnya masih memegang kepercayaan yang ia serahkan kemarin, kepercayaan bahwa untuk sekali saja ceritanya akan didengar persis seperti yang ia katakan, bukan versi yang dibuat orang lain.
Gayatri merasakan seluruh hidupnya menyempit ke titik ini. Semua yang ia bangun, dinding netralitas, disiplin menghilang, sumpah untuk tidak pernah lagi menukar suara orang dengan suaranya sendiri, kaca bening yang ia banggakan, semuanya kini berdiri di tepi satu keputusan yang harus ia ambil dalam waktu yang lebih singkat dari kedipan lampu neon. Protokolnya jelas, protokol yang ia hafal: tugas juru bahasa adalah menerjemahkan apa yang dibacakan, bukan menilai isi berkas. Berkas adalah wilayah jaksa, hakim, penasihat hukum. Bukan wilayahnya. Menyela pembacaan jaksa untuk menyatakan bahwa terjemahan resmi keliru berarti melampaui setiap batas peran yang menjadi syarat keberadaannya di ruang itu. Itu bisa membuatnya dianggap memihak, persis seperti yang dituduhkan penasihat hukum lawan kemarin. Itu bisa mendiskualifikasinya seketika, membatalkan kapasitasnya sebagai juru bahasa, dan kalau ia didiskualifikasi, siapa yang akan menerjemahkan untuk Sigit setelah ini, siapa yang akan melihat retakan ini, siapa yang akan menjaga agar suara Sigit tetap lewat utuh. Diam adalah jalan yang patuh, jalan yang bersih, jalan kaca bening.
Tapi diam berarti membiarkan melakukan berdiri menggantikan melihat. Diam berarti membiarkan makna palsu menjadi dasar vonis. Diam berarti menjadi, untuk terakhir dan paling fatal kalinya, persis seperti Gayatri kecil yang menyunat kemarahan ibunya menjadi permintaan maaf yang lemah karena ia takut pada lelaki besar yang berteriak. Diam, di ruang yang sudah timpang ini, bukanlah ketiadaan pilihan. Diam adalah sebuah perbuatan. Diam adalah ikut menjatuhkan orang Tuli yang ia jembatani.
Mursita pernah berkata: suatu hari ruangan akan memaksamu memilih, dan kamu akan tahu jawabannya bukan dari kode etik, tapi dari apa yang tubuhmu lakukan saat tidak ada waktu untuk berpikir.
Di seberang ruangan, Sigit masih menunggu tangannya. Hakim ketua menoleh ke arah Gayatri, mengharapkan terjemahan berikutnya berjalan seperti biasa, ruangan bergerak dalam ritmenya yang dingin dan formal, jaksa mengambil napas untuk melanjutkan ke kalimat berikutnya. Dan tangan Gayatri, tanpa benar-benar melewati keputusan yang sadar, tanpa izin dari pikirannya yang masih berputar di antara dua jurang, mulai terangkat. Naik perlahan dari pangkuannya ke udara, setengah jalan antara diam dan bicara, antara kaca bening yang patuh dan lensa yang mengaku bahwa ia selalu, sejak awal, ikut membentuk apa yang dilihat.
Hakim ketua menatapnya. Jaksa berhenti, kata berikutnya menggantung. Seluruh ruangan, untuk satu detik yang terasa seperti seluruh hidup Gayatri, menoleh ke arah tangan yang terangkat di udara itu. Sigit menatapnya, tidak mengerti, namun di matanya ada sesuatu yang menyerupai pertanyaan kemarin: kali ini, apakah ceritaku akan didengar persis.
Dan di sana, dengan tangannya setengah terangkat dan jeda menggantung di udara ruang sidang yang terang merata, di detik sebelum ia memutuskan apakah akan menyatakan koreksi terjemahan atau menurunkan tangannya kembali ke pangkuan dan membiarkan satu kata palsu menentukan nasib seorang manusia, Gayatri Wirjawan berdiri di ambang dua dunia yang selama ini ia diami tanpa pernah memilih, kunci di kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya seumur hidup, tidak ada tempat untuk bersembunyi.