Malam sebelum sidang utama, Gayatri membuka laci tempat ia menyimpan kartu sertifikasinya, kode etik profesi yang sudah lecek di lipatannya, dan salinan sumpah yang ia ucapkan bertahun lalu di hadapan organisasi profesi. Selama ini benda-benda itu baginya adalah jangkar, sesuatu yang menenangkan, bukti bahwa ia punya tempat berpijak. Malam ini ia membacanya bukan sebagai jangkar, melainkan sebagai pertanyaan.
Sumpah itu bicara tentang kesetiaan terhadap makna, tentang kerahasiaan, tentang ketidakberpihakan, tentang menolak menambah atau mengurangi. Ia hafal setiap barisnya. Tapi malam ini setiap baris itu seakan menatap balik kepadanya dan bertanya: dan kalau menerjemahkan dengan setia akan menghukum orang yang kau jembatani, sumpah ini berdiri di pihak siapa? Kode etik tidak menjawab. Kode etik ditulis oleh orang-orang yang membayangkan ruang yang adil, di mana kesetiaan pada makna otomatis berarti keadilan. Mereka tidak membayangkan ruang yang sudah miring sejak awal, di mana makna yang setia pun lewat melalui saringan yang membengkokkannya.
Ia membiarkan dirinya, untuk sekali, mengingat dengan sengaja, bukan dari samping seperti biasa, melainkan dari depan. Ibunya. Dapur kecil masa kecilnya. Telepon dinding yang berdering dan Gayatri berumur tujuh tahun melompat untuk mengangkatnya karena hanya ia yang bisa, lalu menoleh ke ibunya untuk menerjemahkan, lalu menoleh ke gagang telepon untuk menjawab, tubuh kecilnya jadi jembatan antara dua dunia yang tak pernah ia minta. Ia ingat satu sore tertentu, petugas penagih datang ke rumah, suaranya keras dan tidak sabar, dan ibunya berdiri tegak dengan martabat yang tidak dipahami lelaki itu, dan Gayatri di tengah, menerjemahkan kemarahan ibunya yang sah menjadi kalimat yang ia perhalus karena ia takut, takut pada lelaki besar yang berteriak, dan ia ingat wajah ibunya saat menyadari bahwa kemarahannya telah disunat oleh anaknya sendiri menjadi permintaan maaf yang lemah.
Itu luka pertama. Bukan luka dari orang dengar yang kasar. Luka dari menyadari bahwa ia, Gayatri, telah mencuri martabat ibunya demi rasa amannya sendiri. Ia telah menukar suara ibunya dengan suara ketakutannya. Dan sejak itu, menghilang menjadi aman baginya, karena kalau ia sebening mungkin, kalau ia tidak pernah menambah apa pun, ia tidak akan pernah lagi jadi pencuri. Disiplin menghilang itu lahir dari rasa bersalah, bukan dari kebajikan. Ia baru benar-benar mengerti itu malam ini, di usia tiga puluh satu, dengan kode etik terbuka di pangkuannya.
Tapi ada sisi lain dari ingatan itu yang selama ini ia tutup rapat. Bukan hanya bahwa ia pernah menghaluskan kemarahan ibunya. Tapi bahwa ada saat-saat lain, saat ibunya butuh sesuatu yang lebih dari sekadar terjemahan kata per kata, butuh anaknya menjelaskan konteks, menerjemahkan budaya, mengatakan kepada petugas bahwa cara mereka bicara melukai, dan Gayatri kecil yang ketakutan memilih diam dan menerjemahkan datar saja, dan diam itu juga melukai ibunya, dengan cara yang berbeda. Maka pelajaran yang sesungguhnya bukan menghaluskan itu dosa dan menerjemahkan datar itu suci. Pelajarannya lebih sulit: bahwa di ruang yang timpang, baik menghaluskan maupun mendatarkan adalah pilihan, dan keduanya punya korban, dan tidak ada tempat persembunyian yang sungguh bersih.
Ia menutup map kode etik dan duduk lama dalam keheningan apartemennya. Lalu ia mengambil keputusan, dua keputusan, yang masing-masing menempatkan sesuatu yang ia sayangi dalam risiko.
Pertama, ia akan tetap mengambil tugas sidang. Tidak mundur, tidak bersembunyi. Ia akan berdiri di ruang itu sebagai juru bahasa Sigit, dengan seluruh disiplinnya untuk menerjemahkan utuh, tapi juga dengan kesadaran baru bahwa kesetiaan pada makna kadang menuntut ia menggunakan satu-satunya hak yang dimiliki juru bahasa, yaitu hak untuk menyatakan ketika makna terancam hilang, dan hak untuk mengoreksi dirinya sendiri secara terbuka bila ia keliru.
Kedua, dan ini yang membuat tangannya gemetar saat menulis surel, ia akan melaporkan dugaan salah alih pada pemeriksaan awal Sigit. Ia menulis kepada organisasi profesinya dan, dengan tembusan yang tepat, kepada pihak pengadilan, sebuah keterangan teknis yang hati-hati: bahwa terdapat indikasi pemeriksaan awal dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki sertifikasi dan tidak menguasai bahasa isyarat alami, sehingga terdapat risiko penyimpangan makna pada keterangan yang menjadi bagian berkas, dan bahwa hal ini perlu ditinjau demi keadilan. Ia tidak menyebut nama, karena ia tidak tahu namanya. Ia tidak menuduh niat jahat. Ia menulis tentang risiko bahasa, tentang prosedur, tentang keabsahan. Tapi ia tahu bahwa dengan menekan tombol kirim, ia membuka kotak yang Pak Hendra peringatkan tidak akan mudah ditutup. Ia mempertaruhkan reputasinya, dianggap pengacau yang menuduh sistem, dianggap terlalu memihak. Ia mungkin mempertaruhkan kolega yang tidak ia kenal. Ia mempertaruhkan citra dirinya yang selama ini ia jaga sebagai juru bahasa yang tak pernah membuat masalah.
Tapi ia menekan kirim. Dan dalam detik setelah surel itu terbang, Gayatri merasakan sesuatu yang aneh, bukan kelegaan, bukan keberanian yang gagah, melainkan kesepian yang tenang. Kesepian seseorang yang akhirnya berhenti bersembunyi dan menemukan bahwa di luar persembunyian itu udaranya dingin dan terbuka dan tak ada yang melindunginya kecuali keyakinannya sendiri bahwa makna seseorang berhak lewat utuh.
Ia tidur sebentar malam itu, tangannya direndam air hangat lagi, karena besok tangan-tangan itu harus bekerja berjam-jam dalam ruang yang akan menentukan apakah seorang lelaki Tuli pulang ke kiosnya atau ke tempat yang lebih gelap dari ruang tanpa jendela. Dan dalam tidurnya yang tipis, ia tidak bermimpi tentang kemenangan. Ia bermimpi tentang ibunya, berdiri tegak di dapur, menatapnya bukan dengan kekecewaan kali ini, melainkan dengan sesuatu yang menyerupai pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan kode etik: kali ini, Nak, kau akan jadi kaca bening yang patuh, atau kau akan mengaku bahwa kau selalu, selalu, ikut membentuk apa yang dilihat.