Surat keputusan itu tiba dalam amplop cokelat yang terlalu biasa untuk isinya. Gayatri membacanya di meja dapur, kopi mendingin di sisi tangan, kalimat-kalimat resmi berbaris rapi seolah tak ada manusia di baliknya. Penghentian sementara sertifikasi. Enam bulan. Ada nomor pasal kode etik yang dikutip, ada tanda tangan ketua majelis pemeriksa, ada satu kalimat yang menyebut pelanggaran atas standar penerjemahan dalam proses hukum — kalimat yang, kalau ia jujur pada diri sendiri, tak sepenuhnya keliru.
Ia sudah menduga isinya sebelum amplop dibuka. Yang tak ia duga adalah betapa ringan kertasnya di tangan. Ia membalik-balik lembaran itu, mencari bobot yang sepadan dengan apa yang diambilnya, dan tak menemukannya. Enam bulan hidupnya diringkas dalam dua halaman berkop, dijepit satu steples di sudut kiri.
Ia menaruh surat itu di bawah toples gula, lalu menghabiskan kopinya yang sudah dingin sampai tegukan terakhir.
Hari-hari pertama terasa aneh justru karena tak ada yang meledak. Ia bangun pada jam yang sama seperti dulu, tubuhnya masih menyimpan disiplin bertahun-tahun; tangannya masih menggapai ponsel untuk memeriksa jadwal. Tapi tak ada jadwal. Layar itu bersih. Tak ada pesan dari koordinator sidang, tak ada permintaan dadakan dari ruang keterangan, tak ada nama rumah sakit dengan angka pukul di sebelahnya. Sepi yang biasanya ia rindukan setelah pekan-pekan padat kini terasa seperti ruang yang terlalu besar untuk satu orang.
Ia mengeluarkan tanda pengenal berpita hijau dari tas kerjanya. Fotonya di situ diambil empat tahun lalu, wajah yang belum tahu apa-apa, tersenyum tipis dengan percaya diri seseorang yang mengira netralitas adalah sesuatu yang bisa dipegang. Ia menyimpannya di laci paling bawah, di bawah tumpukan sertifikat pelatihan dan lembar-lembar penilaian lama. Menutup laci itu tidak terasa seperti kekalahan. Terasa seperti meletakkan beban yang terlalu lama ia gendong di bahu yang salah.
Suatu sore, seorang koordinator dari kepaniteraan meneleponnya — bukan untuk menugasi, melainkan untuk memastikan namanya sudah dicoret dari daftar rujukan. Suaranya sopan, agak canggung, seperti orang yang menagih sesuatu yang tak enak ditagih. "Sementara saja, Bu," katanya, dan Gayatri tahu keduanya sama-sama tak yakin pada kata itu. Ia mengucapkan terima kasih, entah untuk apa, lalu menutup telepon dan duduk cukup lama menatap dinding dapur yang catnya mulai mengelupas di sudut.
Bagas datang di akhir pekan, membawa dua kotak nasi dan wajah yang berusaha keras tampak biasa saja. Mereka makan di lantai ruang tengah, punggung bersandar ke sofa, seperti waktu kecil dulu. Tangan Bagas bergerak di antara suapan, cepat dan terang seperti biasa.
*Kakak sedih?* isyaratnya.
Gayatri menimbang pertanyaan itu dengan jujur, cara ia menimbang setiap makna sebelum meneruskannya. *Capek,* jawabnya akhirnya, jemarinya membentuk kata itu perlahan. *Tapi tidak menyesal. Dua hal yang berbeda.*
Bagas menatapnya lama, lalu mengangguk. Ia tak menawarkan penghiburan yang murah, dan Gayatri berterima kasih dalam hati untuk itu. Di dunia adiknya, orang tak buru-buru menambal sunyi dengan kata. Mereka membiarkannya ada, dan duduk bersama di dalamnya. Sisa sore itu mereka habiskan menonton siaran ulang pertandingan bulu tangkis tanpa suara, tertawa pada hal-hal kecil, dan untuk beberapa jam Gayatri merasa hampir utuh.
Malamnya, saat rumah kembali kosong, ia membuka buku catatan kerjanya. Bukan untuk membaca kasus — ia tak sanggup — melainkan halaman-halaman belakang yang selama ini kosong. Ia menuliskan daftar, sesuatu yang selalu ia lakukan ketika hidupnya kehilangan pegangan. Enam bulan. Ia mencoret dan menghitung. Tabungan cukup untuk sekian bulan bila ia berhemat. Ada tawaran menerjemahkan dokumen tertulis — bukan di ruang hukum, hanya surat-surat dan brosur — yang tak menyentuh larangan sertifikasinya. Ada permintaan lama dari sebuah komunitas untuk mengajar kelas dasar BISINDO bagi orang dengar, yang dulu selalu ia tolak karena jadwalnya penuh. Ia menuliskan itu, lalu menatapnya lama.
Mengajar. Kata itu terasa asing dan mungkin di saat bersamaan. Bukan menjembatani di ruang bertegangan tinggi, bukan berdiri di antara dua dunia dengan nyawa orang tergantung pada pilihan katanya. Hanya duduk di ruangan terang, mengajari orang cara menyapa, cara bertanya kabar, cara meminta maaf dengan tangan. Sesuatu yang lambat. Sesuatu yang tak bisa salah dengan cara yang menghancurkan.
Ia belum memutuskan apa-apa. Ia hanya membiarkan kemungkinan itu tinggal di halaman, seperti membiarkan sunyi tinggal bersama Bagas.
Pagi Senin, ketika seharusnya ia sudah berada di jalan menuju suatu ruang sidang, ia malah berdiri di dapur menggoreng telur. Radio menyala pelan di sudut, membicarakan lalu lintas dan cuaca dan hal-hal yang dulu tak sempat ia dengar. Cahaya masuk miring lewat jendela, jatuh di meja tempat surat keputusan itu masih tergeletak di bawah toples gula. Ia memandangnya sebentar, lalu mengangkatnya, melipatnya rapi, dan memasukkannya ke map bersama surat-surat penting lain. Bukan untuk disembunyikan. Untuk disimpan sebagaimana adanya: bagian dari riwayatnya, bukan aibnya.
Ia tahu apa yang orang bisikkan. Bahwa sertifikatnya dibekukan. Bahwa ia mencoreng profesinya. Sebagian dari itu benar, dan ia telah belajar untuk tak membantah kebenaran yang tak mengenakkan. Tapi ada satu hal yang tak bisa diambil surat mana pun dari laci mana pun: ia telah berdiri di depan majelis dan menerjemahkan ulang tangannya sendiri, dan ia tidur nyenyak sesudahnya untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.
Enam bulan akan berlalu. Ia belum tahu ke mana ia akan melangkah sesudahnya, atau apakah ruang-ruang itu akan menerimanya kembali, atau siapa dirinya nanti bila kembali. Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu besar untuk pagi yang tenang ini.
Ia mematikan kompor, menuang telur ke piring, dan duduk untuk sarapan sendirian tanpa terburu-buru — hal kecil yang sudah bertahun-tahun tak ia izinkan bagi dirinya. Di luar, hari mulai sibuk tanpanya. Untuk sekali ini, ia membiarkannya. Ada hidup lain yang menunggu ditata, pelan-pelan, sepotong demi sepotong, dengan tangan yang sama yang telah membuatnya kehilangan segalanya dan menyelamatkan satu-satunya hal yang tak bisa ia relakan.