Ruang sidang etik asosiasi jauh lebih kecil daripada ruang majelis tempat ia bersaksi dua pekan lalu. Tidak ada palu, tidak ada bendera, hanya meja panjang berlapis kain hijau tua dan tiga kursi di seberang tempat Gayatri duduk. Pendingin ruangan berderit pelan di sudut. Ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan, lalu memindahkannya ke atas meja, lalu ke pangkuan lagi—tangan yang sama yang dulu merender isyarat Damar menjadi kalimat yang keliru, tangan yang kini tak tahu harus diletakkan di mana.
Ketua majelis etik, seorang juru bahasa senior bernama Bu Tantri yang pernah menandatangani sertifikat Gayatri delapan tahun silam, membuka map di hadapannya. Kertas-kertas itu tampak tebal. Sebagian Gayatri kenali sebagai salinan berita acara, sebagian lagi transkrip kesaksiannya sendiri di sidang ulang, kata-katanya yang membongkar kerjanya sendiri kini menjadi bukti dalam perkara yang berbeda—perkara atas dirinya.
"Kami sudah membaca semuanya," kata Bu Tantri. Suaranya tidak dingin, tetapi juga tidak hangat. "Termasuk keterangan Saudari di persidangan, yang Saudari sampaikan atas kehendak sendiri, tanpa dipaksa."
"Betul," kata Gayatri.
"Saudari mengakui, di bawah sumpah, bahwa terjemahan Saudari atas keterangan Saudara Damar keliru merender isyarat ruang dan klasifikator menjadi pernyataan berniat."
"Betul."
Bu Tantri mengangkat wajahnya. "Saudari paham bahwa pengakuan itu, di ruang ini, memberatkan Saudari sendiri?"
Gayatri paham. Ia sudah memahaminya jauh sebelum ia melangkah ke kursi saksi. Ada jalan lain, dulu—Pram pernah menyebutnya nyaris tanpa nada, sekadar memberi tahu bahwa jalan itu ada—diam saja, biarkan banding berjalan tanpa kesaksiannya, selamatkan sertifikat. Ia memilih tidak. Bukan karena berani. Karena ia tak sanggup lagi menyimpan batu itu di dada.
"Saya paham," katanya.
Anggota kedua, seorang lelaki bernama Pak Hadi, mencondongkan tubuh. "Ada yang ingin kami luruskan. Sebagian rekan di asosiasi menganggap Saudari membawa aib profesi ke ruang publik. Bahwa Saudari mestinya menyelesaikan ini secara internal, tidak di depan majelis dan wartawan." Ia diam sejenak. "Bagaimana tanggapan Saudari?"
Gayatri menahan diri untuk tidak menoleh ke kursi kosong di belakangnya, tempat Rani seharusnya duduk seandainya mereka masih saling bicara seperti dulu. Rani tidak datang. Wulan yang datang, menunggu di luar, tetapi Wulan tak diizinkan masuk.
"Kalau saya menyelesaikannya secara internal," kata Gayatri pelan, memilih tiap kata seperti ia memilih register di ruang keterangan, "Damar tetap di dalam. Adendum, keterangan ahli, semua itu tetap butuh saya berkata di depan majelis bahwa saya keliru. Tidak ada versi dari ini yang bisa disembunyikan tanpa membiarkan seorang pemuda menanggung pasal atas kalimat yang tak pernah ia maksudkan."
"Jadi Saudari merasa benar." Pak Hadi tidak bertanya. Ia menguji.
"Tidak," kata Gayatri. Dan ini pun sudah ia pikirkan berulang malam. "Saya merasa jujur. Itu tidak sama dengan merasa benar. Saya tetap juru bahasa yang membuat kekeliruan itu. Tak ada kesaksian yang menghapusnya."
Ruangan hening. Pendingin berderit lagi. Bu Tantri menutup map dengan gerakan yang terukur.
"Majelis sudah bermusyawarah," katanya. "Kami tidak mempersoalkan integritas Saudari. Justru sebaliknya. Tetapi kami tidak bisa mengabaikan bahwa telah terjadi kekeliruan terjemahan dalam perkara pidana, dengan akibat yang nyata, dan bahwa kekeliruan itu—apa pun sebabnya, termasuk sebab-sebab yang di luar kendali Saudari: tidak adanya CDI, keterangan yang tergesa, tekanan aparat—tetap terjadi lewat tangan Saudari."
Gayatri mengangguk. Ia tahu apa yang akan datang. Ia sudah menuliskannya sendiri berminggu lalu, ongkos demi ongkos, di selembar kertas yang masih terlipat di dompetnya.
"Majelis menjatuhkan sanksi berupa penghentian sementara sertifikasi Saudari untuk penugasan di ranah hukum selama dua belas bulan, terhitung sejak keputusan ini." Bu Tantri membacanya dari kertas, seakan membaca lebih pelan bisa meringankan bunyinya. "Selama masa itu, Saudari diwajibkan mengikuti supervisi dan program penyegaran kode etik. Sertifikasi Saudari untuk ranah nonhukum—medis, pendidikan—tidak dicabut, tetapi berada dalam pengawasan."
Dua belas bulan. Bukan pencabutan penuh. Bukan pula tamparan yang bisa ia telan seakan tak terjadi apa-apa. Ranah hukum adalah tempat ia paling banyak bekerja, tempat ia dipercaya polisi dan jaksa, tempat namanya berarti. Selama setahun, nama itu tak akan muncul di daftar mana pun.
"Ada satu hal lagi," tambah Bu Tantri, dan untuk pertama kalinya nadanya melunak, hampir seperti seseorang yang pernah menandatangani sertifikat seorang murid muda dan berharap ia jadi baik. "Majelis mencatat, secara resmi, bahwa Saudari melaporkan kekeliruannya atas kehendak sendiri. Catatan itu akan melekat pada arsip. Saya tidak tahu apakah itu menghibur Saudari."
Gayatri menelan sesuatu yang terasa keras di tenggorokannya. "Terima kasih," katanya, dan ia sendiri tak yakin untuk apa ia berterima kasih—untuk sanksinya, untuk catatannya, atau sekadar karena semuanya akhirnya selesai diucapkan.
Ia menandatangani berita acara. Tangannya tidak gemetar. Ia sempat mengira akan gemetar, seperti berbulan-bulan lalu ketika mengisyarat pun terasa mustahil, tetapi kali ini tangannya tenang, sebagaimana tenangnya sesuatu yang sudah dibayar lunas.
Di luar, koridor asosiasi kosong. Wulan berdiri bersandar di dinding, memainkan tali tasnya, dan begitu melihat wajah Gayatri ia tidak bertanya apa-apa. Ia membaca jawabannya dari cara Gayatri berjalan.
"Dua belas bulan," kata Gayatri sebelum ditanya. "Ranah hukum."
Wulan mengembuskan napas panjang, marah dan lega dalam satu tarikan. "Mereka menghukummu karena jujur."
"Mereka menghukumku karena keliru," kata Gayatri. "Jujurnya mereka catat." Ia tersenyum tipis, letih. "Entah mana yang lebih penting."
Mereka berjalan keluar bersama, melewati papan pengumuman tempat nama-nama juru bahasa aktif dipajang. Gayatri tidak mencari namanya di sana. Ia sudah tahu, mulai hari ini, ia harus belajar menjadi seseorang yang bukan lagi juru bahasa yang sama—dan untuk pertama kalinya sejak rekaman itu mulai berputar di kepalanya berbulan-bulan lalu, pikiran itu tidak terasa seperti kehilangan. Terasa seperti tanah, tempat berpijak, tempat sesuatu yang baru mungkin tumbuh.