Damar berdiri di tempat yang sepanjang perkara ini selalu diisi orang lain yang bicara atas namanya. Kini ia sendiri di sana, dan untuk pertama kali sejak ruang keterangan di kepolisian dulu, tak ada satu kalimat lisan pun yang mendahului tangannya.
Di samping mimbar saksi berdiri Ascarya, CDI yang diminta majelis — perempuan Tuli bertubuh kecil dengan ketenangan yang membuat ruangan ikut melambat. Di sisi lain, seorang juru bahasa dengar bersiap menyuarakan. Rantainya jernih sekarang, sebagaimana seharusnya sejak awal: Damar mengisyarat, Ascarya membacanya dan menata ulang dalam isyarat yang menjembatani, barulah juru bahasa itu menuturkannya ke dalam bahasa yang dipahami majelis. Tiga simpul, bukan satu. Gayatri menghitungnya dari deret saksi, dan menyadari betapa ganjil bahwa dulu ia pernah mengira satu simpul saja cukup — bahwa cukup dirinya seorang, di ruang sempit itu, untuk memikul seluruh maksud seorang manusia.
Ketua majelis mempersilakan. Damar menarik napas — Gayatri melihat bahunya naik, turun — lalu mulai.
Ia tidak mulai dengan kata. Ia mulai dengan ruang. Tangan kirinya menegakkan sesuatu di udara sebelah kiri tubuhnya, kokoh, diam: sebuah tempat. Tangan kanannya menandai dirinya sendiri, lalu bergerak — bukan menyerang, melainkan melintas, arah yang condong menjauh. Ia menahan bentuk itu, membiarkan majelis melihatnya utuh sebelum melanjutkan. Ascarya tidak buru-buru. Ia menunggu Damar menyelesaikan penempatannya, baru mengangkat tangan, dan menjembatani.
Juru bahasa dengar itu berbicara pelan. "Saya berada di sini. Ia berada di sana. Ketika saya bergerak, saya bergerak ke arah pintu — menjauh darinya."
Gayatri mengenali isyarat itu. Ia mengenalinya seperti orang mengenali wajahnya sendiri di cermin yang retak. Klasifikator yang sama. Tangan yang menandai tubuh bergerak dalam ruang, arah dan jaraknya. Di ruang keterangan dulu, di bawah lampu yang terlalu terang dan aparat yang terlalu tergesa, ia telah merender gerak itu menjadi kalimat yang berujung niat — seolah tubuh yang bergerak itu adalah tubuh yang memburu. Ia telah memberi arah pada sesuatu yang sesungguhnya menjauh. Batu di dadanya, yang sudah berbulan-bulan ia kenal beratnya, menekan lebih dalam. Ia tidak menunduk. Ia memaksa dirinya menonton tangan Damar sampai habis.
Jaksa menyela. "Yang Mulia, saksi seolah memperagakan ulang. Kami keberatan pada—"
"Saksi Tuli berhak menyampaikan keterangan dalam bahasanya," kata ketua majelis. "Dan bahasa itu memakai ruang. Lanjutkan."
Damar melanjutkan. Ia mengulang bagian yang tadi, tetapi kali ini lebih lambat, seakan ia tahu betul di titik mana orang-orang selama ini keliru membacanya. Ketika juru bahasa dengar menuturkan sebuah frasa yang terdengar terlalu bulat, terlalu pasti, Ascarya mengangkat tangan — menahan. Ia berpaling pada Damar, menanyakan sesuatu dengan dua isyarat singkat. Damar menggeleng. Ia memperbaiki. Ia menunjukkan bahwa gerak tangannya yang tadi bukan keputusan, melainkan reaksi — sesuatu yang terjadi pada tubuhnya, bukan yang direncanakan oleh kepalanya. Perbedaan yang, dalam tata bahasa isyarat, terletak pada satu perubahan kecil pada bentuk dan tekanan tangan. Perbedaan yang dulu tak seorang pun di ruang itu tandai.
Ascarya menjembatani ulang. Juru bahasa dengar mengoreksi tuturannya. "Bukan — saya tidak memutuskan mendekat. Tangan saya terangkat karena kaget. Saya menariknya kembali."
Ruang sidang diam. Gayatri merasakan keheningan itu berbeda dari hening yang tegang; ini hening orang-orang yang sedang menyusun ulang sesuatu di kepala mereka. Ia melihat seorang anggota majelis berhenti mencatat, penanya menggantung, matanya pada tangan Damar. Ia melihat ibu Damar di bangku depan, tangannya menutup mulut, dan bahunya bergetar dengan cara yang tak bersuara.
Inilah yang tidak pernah bisa ia berikan pada Damar dulu: bukan terjemahan yang lebih baik, melainkan hak untuk berbicara sendiri. Selama ini pemuda itu hadir di berkas sebagai objek — subjek dari kalimat orang lain, terdakwa yang maksudnya sudah ditetapkan sebelum ia sempat menyusunnya. Sekarang ia menyusunnya. Dengan tangannya sendiri, dengan kesabaran Ascarya yang menolak memotong, dengan register yang akhirnya dibiarkan utuh. Gayatri hanya menonton, dan untuk pertama kali sepanjang perkara ini, menonton terasa seperti tempat yang benar untuknya.
Damar sampai pada bagian akhir. Ia menandai ruang itu sekali lagi — tempat, dirinya, jarak di antaranya — lalu menurunkan tangan. Ia tidak menambahkan pembelaan. Ia tidak memohon. Ia hanya berhenti, seperti orang yang telah meletakkan sesuatu yang lama ia gendong dan kini melihatnya berdiri sendiri di lantai, terlepas dari punggungnya.
Ascarya menuntaskan jembatannya. Juru bahasa dengar menuturkan kalimat terakhir, dan suaranya sendiri terdengar hati-hati, seolah ia pun tahu betapa jauh jarak antara apa yang baru ia suarakan dan apa yang pernah tercatat. "Itu yang terjadi. Saya tidak bisa mengubah bagaimana orang mendengarnya waktu itu. Saya cuma bisa menunjukkannya sekarang."
Ketua majelis menuliskan sesuatu. Jaksa tampak hendak bangkit, lalu memilih tidak. Damar berdiri di mimbar itu, dadanya masih naik-turun, tetapi wajahnya tenang — tenang orang yang, terlepas dari apa pun yang akan diputuskan, telah didengar dalam bahasanya sendiri.
Damar mengedarkan pandang. Sebentar, matanya menemukan Gayatri di deret saksi. Tidak ada tuduhan di sana, tidak ada pula pengampunan; hanya pengakuan sunyi bahwa mereka berdua tahu isyarat mana yang dulu keliru, dan bahwa kali ini isyarat itu telah diletakkan dengan benar. Gayatri menahan tatapan itu. Ia tidak berpaling. Ia berutang setidaknya itu — untuk tetap menatap, sampai isyarat terakhir dari tangan Damar selesai dibaca oleh seluruh ruangan.
Kemudian pemuda itu turun dari mimbar, dan langkahnya ke bangku terdakwa adalah langkah seseorang yang berjalan dengan kakinya sendiri.