Layar di dinding ruang majelis masih menyala, membeku pada satu bingkai: Damar, sembilan belas tahun, duduk di ruang keterangan kepolisian, tangan kanannya terangkat setengah jalan. Gambar itu diam. Tetapi bagi Gayatri tangan itu tak pernah benar-benar berhenti bergerak. Ia sudah menontonnya ratusan kali di kamar yang sunyi, sampai hafal setiap jeda. Kini ia menontonnya di depan orang banyak, dan tangan itu terasa seperti miliknya sendiri.
Hakim ketua bertanya, dengan suara datar yang sudah lelah oleh dua hari persidangan, apakah ia bersedia memperagakan. Bukan menjelaskan lagi dengan kata—itu sudah kemarin, kalimat demi kalimat, sampai jaksa menyerang setiap koma. Melainkan menunjukkan. Dengan tubuhnya sendiri, isyarat yang dulu keluar dari tangan Damar di ruang itu.
Di sisi mejanya berdiri seorang CDI, perempuan Tuli bertubuh kecil yang tenang, yang tadi pagi menjabat tangannya tanpa berkata apa-apa. Kehadirannya mengubah geometri ruangan. Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, Damar tidak sendirian di antara orang-orang dengar; ada mata Tuli lain yang akan membaca bersamanya, memastikan, membenarkan atau menyanggah. Gayatri tahu apa artinya berdiri di depan CDI dan mengulang kerjanya sendiri. Artinya tidak ada tempat sembunyi. Klasifikator tidak bisa dibohongi seperti kalimat.
Ia melangkah ke ruang kosong di depan majelis. Menegakkan bahu. Lalu, pelan, ia membangun ruang di udara.
“Di berkas,” katanya, suaranya sendiri terasa asing di telinganya, “keterangan ini saya alihkan menjadi: saya mendekatinya, lalu saya angkat tangan saya kepadanya.” Ia berhenti. “Kalimat itu berbunyi seperti niat. Seperti sebuah tindakan yang dipilih.”
Ia mengangkat tangan kirinya, membentuk satu klasifikator—jari-jari tegak, sebuah sosok berdiri. Ia menempatkannya di sebelah kiri, di titik yang tetap, sebuah locus. “Ini Damar,” ujarnya, dan CDI di sampingnya mengangguk kecil ke arah Damar, memastikan pemuda itu mengikuti. Damar menatap tangan Gayatri dengan wajah yang tak terbaca, tetapi ia mengikuti.
“Yang tidak saya rekam,” Gayatri melanjutkan, “adalah ini.” Tangan kanannya masuk. Bukan bergerak dari tubuh Damar ke luar—dari agen ke sasaran—melainkan datang dari arah berlawanan, menuju locus itu, lalu tertahan, terdorong. Ia membiarkan tubuhnya condong sedikit ke belakang mengikuti isyarat, cara seorang penutur menandai bahwa yang berdiri di sana menerima, bukan melakukan. “Arah gerak verbanya menuju Damar. Bukan dari Damar. Klasifikator tangan yang saya kira ‘memukul’—” ia mengulangnya, perlahan, lalu mengubah sudut pergelangan beberapa derajat, dan bentuk itu berubah menjadi sesuatu yang menahan, melindungi kepala, “—dalam ruang isyaratnya berfungsi sebagai penahan. Reaksi. Bukan pukulan yang ia layangkan.”
Ruangan sunyi. Ia mendengar kertas berhenti berdesir di meja jaksa.
“Saya membaca peran ruang ini terbalik,” kata Gayatri. Ia tidak menaikkan suaranya. Ia justru menurunkannya, register seseorang yang mengaku, bukan yang membela. “Locus, arah, siapa agen dan siapa yang menerima—semuanya terkandung di penempatan tangan, bukan di leksikon. Saya, waktu itu, mengejar kalimat yang rapi untuk penyidik yang terburu-buru. Saya isi keheningan gramatikal BISINDO dengan tata bahasa Indonesia. Dan tata bahasa saya menyelipkan sebuah subjek yang bertindak, di tempat yang seharusnya kosong.”
Ia menoleh ke CDI. Inilah bagian yang tak bisa ia kendalikan, dan justru itulah yang membuatnya benar. Ia tidak boleh menjadi satu-satunya mata di ruangan ini. CDI melangkah maju, membuat ulang isyarat itu ke arah Damar—memisahnya, memperlambatnya, menanyakan sesuatu dengan alis dan bahu. Damar menjawab dengan tangannya, dan untuk sekejap keduanya berbicara dalam bahasa yang tak dimiliki siapa pun lain di ruang majelis itu, sebuah percakapan yang selama ini terjadi di seberang kaca yang tak pernah mereka sadari ada.
CDI berbalik ke majelis. Melalui juru bahasa lain yang duduk di sisi lain—Gayatri sengaja tidak menyuarakannya sendiri, tidak untuk bagian ini—makna itu sampai: penempatan yang diperagakan Gayatri sesuai dengan yang dimaksud Damar. Sosok yang berdiri menerima. Tangan yang naik menahan.
Gayatri menurunkan tangannya. Ruang di udara yang ia bangun runtuh, tetapi sesuatu yang lain telah berdiri menggantikannya, dan tak bisa dirobohkan lagi.
“Yang majelis dengar dua tahun lalu bukan suara Damar,” katanya akhirnya. “Itu suara saya. Pilihan-pilihan saya. Saya sampaikan ini bukan karena saya yakin saya tahu seluruh kebenaran—saya justru berdiri di sini karena saya tahu betapa mudahnya saya keliru. Tetapi saya tahu, dengan pasti, bahwa terjemahan pertama itu memuat niat yang tidak ada di tangannya.”
Ia merasakan tatapan Rani dari deret belakang, dingin, dan tatapan Wulan di sebelahnya, dan ia tak berpaling ke keduanya. Ia sudah bukan murid siapa pun di ruangan ini. Ia tahu apa yang baru saja ia lakukan pada dirinya sendiri—bahwa kalimat-kalimat itu akan diputar ulang di ruang lain, di sidang etik yang menunggunya, bahwa seorang juru bahasa yang mengaku merender niat yang tak ada tidak akan lagi dipercaya membawa kata siapa pun di depan hukum. Sertifikat itu, bertahun-tahun kerja itu, nama yang dulu dibooking penyidik dengan hormat. Ia mengucapkannya bukan dengan gagah. Ia hanya lelah, dan yakin.
Hakim ketua meminta CDI dan juru bahasa memastikan sekali lagi, untuk berita acara, bahwa peragaan tadi telah dikonfirmasi oleh terdakwa. Konfirmasi itu diberikan.
Gayatri kembali ke kursinya. Tangannya, yang berbulan-bulan gemetar tanpa sebab, kini diam di pangkuannya. Ia menatap Damar. Pemuda itu tidak tersenyum—belum ada yang selesai, belum ada pasal yang bergeser, belum ada yang bebas. Tetapi ia menatap balik Gayatri dengan sesuatu yang belum pernah ia terima dari pemuda itu sebelumnya: bukan syukur, bukan maaf, melainkan pengakuan bahwa akhirnya, di ruangan penuh orang dengar ini, ada yang membiarkan tangannya berbicara sendiri.
Di depan, majelis memanggil nama Damar. Giliran pemuda itu.