Layar di dinding ruang majelis masih menyala ketika juru tulis memutar dua kolom berdampingan. Di sebelah kiri, kalimat yang dulu Gayatri ucapkan di ruang keterangan, tertera hitam di atas putih dalam berkas resmi: aku memang mau mendorongnya sampai jatuh. Di sebelah kanan, terjemahan yang baru saja disusun ulang bersama CDI dari isyarat Damar: ada orang jatuh di dekatku, aku ada di sini, dia di sana. Dua baris itu berdiri bersisian seperti dua orang yang mengaku bersaudara padahal tak pernah saling kenal.
Gayatri belum turun dari kursi saksi. Ia diminta tinggal, katanya, untuk membantu majelis membaca selisih. Ia menatap layar dan merasa tenggorokannya mengering. Selama berbulan-bulan selisih itu hidup di kepalanya sendiri, batu privat yang ia telan setiap malam. Kini ia terpampang, besar, bercahaya, bisa dibaca siapa saja yang punya mata.
"Tolong jelaskan," kata ketua majelis, "apa yang berbeda."
CDI itu, seorang perempuan Tuli senior bernama Ibu Ningsih, berdiri di samping juru bahasa dengar yang menyuarakannya. Tangannya bergerak, dan Gayatri menyimak isyarat itu seperti orang menyimak vonis atas dirinya sendiri. Klasifikator, kata Ibu Ningsih. Damar menaruh satu tangan tegak sebagai sosok yang berdiri, tangan lain sebagai sosok yang jatuh. Ruang di antara keduanya menunjukkan jarak, bukan sentuhan. Arah telapak menandai bahwa yang jatuh bergerak menjauh dari penutur, bukan didorong ke arah mana pun.
"Isyarat ruang menempatkan tubuh-tubuh di dalam adegan," suara juru bahasa mengalir menyuarakan Ibu Ningsih. "Ia melukiskan siapa berada di mana. Ia tidak menyatakan siapa berbuat apa kepada siapa."
Di kursi pengunjung, ibu Damar menutup mulut dengan kedua tangan.
Gayatri melihat perempuan itu dari sudut matanya dan cepat memalingkan pandangan, karena ia tahu ke mana matanya sendiri akan membawanya kalau ia terus melihat. Bertahun-tahun ibu itu duduk di ruang sidang mendengar kalimat aku memang mau, kalimat yang seolah keluar dari mulut anaknya, kalimat yang membuat anaknya asing di depan matanya sendiri. Dan selama itu Damar tak bisa membantah, karena bantahannya pun harus lewat tangan orang lain.
"Jadi," ketua majelis menekan, "kalimat pengakuan dalam berkas awal—"
"Tidak ada dalam isyarat terdakwa." Ibu Ningsih tak menunggu pertanyaan tuntas. Tangannya tegas. "Yang ada di sana adalah gambar sebuah kejadian. Niat ditambahkan kemudian. Oleh lidah, bukan oleh tangan."
Oleh lidahku, Gayatri melengkapi dalam hati. Ia tak mengoreksi. Itu justru yang ingin ia biarkan berdiri.
Ruangan hening dengan cara yang beda dari hening biasa. Bukan hening menunggu, melainkan hening orang yang baru saja melihat sesuatu bergeser di lantai tempat mereka pikir mereka berpijak kokoh. Jaksa menunduk ke berkasnya. Pram tak mencatat apa pun; ia hanya memandang layar, dan Gayatri tahu pengacara itu pun sedang menghitung, bukan menang, melainkan betapa lama kekeliruan ini dibiarkan berjalan.
Damar duduk di kursi terdakwa, agak condong ke depan. Ia mengikuti tangan Ibu Ningsih, dan untuk pertama kalinya sejak sidang dibuka, Gayatri melihat bahu pemuda itu turun—bukan karena kalah, melainkan karena akhirnya ada yang membacanya benar. Damar mengangkat tangan, meminta izin, dan hakim mengangguk. Ia mengisyaratkan sesuatu yang pendek. Ibu Ningsih menyuarakan.
"Dia bilang: itu yang aku maksud. Dari dulu itu yang aku maksud."
Empat kata sederhana. Tapi keempatnya jatuh ke lantai ruang majelis seperti sesuatu yang dilepaskan setelah lama ditahan. Gayatri merasa dadanya menekan dari dalam. Bukan lega—ia tak berhak lega—melainkan sesuatu yang lebih tua dan lebih tajam: pengakuan bahwa selama ini seorang manusia menunggu di ruang yang salah dibaca, menunggu tangan yang tepat, dan tangan itu bukan tangannya.
Ia teringat malam-malam ketika ia memutar rekaman itu berulang-ulang di kamar yang sunyi. Waktu itu ia sendirian dengan pengetahuan ini, dan pengetahuan itu terasa seperti kutukan yang tak bisa dibagi. Kini pengetahuan yang sama ada di ruang penuh orang, dan anehnya ia tak jadi lebih ringan. Ia hanya jadi milik lebih banyak orang. Barangkali memang begitu kebenaran bekerja: ia tak menghapus luka, ia cuma memindahkannya ke tempat yang bisa dilihat.
Ibu Damar menangis tanpa suara. Bapaknya, lelaki yang sepanjang sidang duduk kaku seperti tak percaya pada apa pun, mengulurkan tangan menggenggam pergelangan istrinya. Di antara mereka mengalir sesuatu yang tak butuh diterjemahkan siapa pun—dan justru itu yang menusuk Gayatri paling dalam. Ada bahasa yang tak pernah salah karena tak melewati siapa-siapa.
"Saudari juru bahasa." Ketua majelis menoleh padanya. "Anda menyusun terjemahan awal itu. Apakah Anda membenarkan pembacaan yang baru?"
Gayatri berdiri. Ia merasa semua mata—jaksa, majelis, keluarga Damar, Pram, dan Wulan yang duduk di barisan belakang—bertumpu padanya. Ia bisa saja mengulang pembelaan tentang tekanan, tentang tak adanya CDI, tentang keterangan yang terburu-buru. Semua itu benar. Tapi bukan itu yang diminta ruang ini.
"Ya," katanya. Suaranya lebih pelan dari yang ia mau, tapi ia tak memperbaikinya. "Pembacaan Ibu Ningsih setia pada isyarat terdakwa. Terjemahan saya yang dulu menambahkan niat yang tidak ada di tangannya. Selisih itu—" ia menahan diri agar tak berpaling dari layar, "—selisih itu bukan salah cetak. Itu perbedaan antara apa yang ia katakan dan apa yang saya buat orang dengar."
Ia duduk kembali. Tak ada yang bertepuk, tak ada yang berseru. Ruang majelis tetap ruang majelis, dingin dan lambat. Tapi di kursi terdakwa, Damar memandangnya, dan mengangkat tangannya membentuk satu isyarat—bukan maaf, bukan terima kasih, sesuatu di antaranya, sesuatu yang hanya bisa dibaca oleh orang yang tumbuh di dekat bahasa itu. Gayatri membalasnya dengan isyarat kecil yang sama, dan untuk sesaat mereka berdua bicara di atas kepala seluruh ruangan, dalam bahasa yang akhirnya tak dibelokkan oleh siapa pun.
Di luar jendela tinggi, siang berjalan seperti tak tahu apa-apa. Di dalam, dua kolom masih menyala di dinding, bersisian, membiarkan setiap orang menakar sendiri berapa jauh jarak di antara keduanya—dan berapa mahal jarak itu telah dibayar.