Jaksa itu berdiri tanpa tergesa, seolah waktu di ruang majelis adalah miliknya sendiri. Ia membiarkan hening menggantung sejenak, memberi kesempatan pada semua orang untuk mengingat bahwa perempuan yang duduk di kursi saksi baru saja mengakui, dengan mulutnya sendiri, bahwa ia keliru.
"Saudari Gayatri," katanya, "berapa lama Anda sudah bekerja sebagai juru bahasa isyarat tersertifikasi?"
"Sembilan tahun."
"Sembilan tahun." Ia mengangguk, seakan angka itu menyenangkan. "Dan dalam sembilan tahun itu, berapa banyak keterangan yang Anda terjemahkan di ruang kepolisian? Ratusan? Ribuan?"
"Saya tidak menghitung."
"Tidak menghitung." Jaksa berjalan pelan menyusuri tepi meja. "Tapi selama ini tidak pernah ada masalah, bukan? Tidak ada satu pun keterangan Anda yang pernah digugat. Sampai kasus ini."
Gayatri merasakan tenggorokannya kering. Ia tahu ke mana ini menuju. Rani, yang duduk di bangku penonton dengan punggung tegak, pernah mengatakannya berkali-kali: mereka akan memakai rekam jejakmu yang bersih untuk membalikkanmu. Kalau kau tak pernah salah, kenapa tiba-tiba salah sekarang.
"Benar," jawab Gayatri. "Tidak pernah digugat."
"Jadi mana yang harus dipercaya majelis? Gayatri yang selama sembilan tahun dipercaya polisi, jaksa, dan pengadilan — atau Gayatri yang hari ini, entah kenapa, berkata dirinya sendiri tidak kompeten?"
"Saya tidak mengatakan saya tidak kompeten."
"Lalu apa yang Anda katakan?"
"Saya mengatakan saya keliru pada satu terjemahan." Ia menahan diri untuk tidak menambahkan apa-apa. Setiap kata tambahan adalah celah. "Kompetensi dan kekeliruan bukan hal yang saling meniadakan. Juru bahasa yang paling cakap pun bisa salah merender isyarat ruang bila tak ada CDI dan keterangan diambil terburu-buru."
"CDI." Jaksa mengucapkannya seolah istilah asing yang baru saja diselipkan untuk membingungkan. "Juru bahasa Tuli. Yang mendadak Anda anggap wajib, padahal sembilan tahun Anda bekerja tanpa itu dan mengaku tak pernah bermasalah."
"Ketiadaan gugatan bukan bukti ketiadaan kekeliruan," kata Gayatri pelan. "Itu dua hal berbeda. Saya baru menyadarinya belakangan."
Ada gerak kecil di sudut ruangan. Pram menunduk ke arah berkasnya, dan Gayatri tahu ia sedang menahan diri untuk tidak mengangguk terlalu jelas.
Jaksa berhenti. Nada suaranya berubah, lebih rendah, lebih pribadi, seakan mereka hanya berdua di ruangan itu. "Saudari Gayatri. Anda kenal keluarga terdakwa?"
"Tidak secara pribadi."
"Tapi Anda bagian dari komunitas Tuli. Adik Anda Tuli, bukan?"
"Ya."
"Anda menjenguk terdakwa di tahanan. Sendiri. Tanpa perantara resmi." Ia membiarkan fakta itu jatuh. "Apakah lazim seorang juru bahasa yang mengaku netral menjenguk terdakwa dari kasus yang ia terjemahkan?"
Gayatri merasakan panas menjalar ke wajahnya. Ini serangan yang ia takutkan — bukan pada kerjanya, melainkan pada motifnya. Seolah kejujurannya hanyalah pengkhianatan yang berpakaian nurani.
"Tidak lazim," jawabnya.
Jaksa mengangkat alis, sedikit terkejut oleh pengakuan yang datang begitu mudah.
"Tidak lazim," ulang Gayatri, "dan saya melakukannya karena saya perlu memastikan sesuatu untuk diri saya sendiri sebelum saya berani berdiri di sini. Itu bukan karena saya membela dia. Saya tidak berdiri di pihak siapa pun. Saya berdiri untuk apa yang sebenarnya diisyaratkan di ruang keterangan itu."
"Atau," kata jaksa, "Anda merasa bersalah, dan seluruh kesaksian ini adalah cara Anda menebusnya. Rasa bersalah bukan bukti, Saudari. Rasa bersalah bisa membuat orang mengarang kekeliruan yang tak pernah ada, demi menenangkan dirinya sendiri."
Ruangan sunyi. Di kursi majelis, seorang hakim mencondongkan badan sedikit.
Untuk sesaat Gayatri ingin membantah keras — ingin berkata bahwa ia sudah menimbang kariernya, sertifikasinya, nama baiknya, dan memilih tetap datang; bahwa tuduhan itu tak adil. Tapi ia teringat malam-malam ia berlatih dengan Wulan, dan satu kalimat yang terus Wulan ulang: begitu kau membela dirimu, kau berhenti bersaksi. Kau jadi terdakwa yang mengais simpati. Bertahanlah pada apa yang bisa ditunjukkan, bukan pada apa yang kaurasakan.
"Anda benar," kata Gayatri akhirnya, dan kata itu terasa seperti melangkah ke air dingin. "Rasa bersalah bukan bukti. Karena itu saya tidak meminta majelis memercayai perasaan saya."
Jaksa menunggu, curiga pada kalimat yang belum selesai.
"Saya meminta majelis memeriksa rekamannya," lanjut Gayatri. "Ada rekaman keterangan itu. Ada isyarat ruang yang Damar buat — penempatan tangan, arah, peran yang ia bangun di depan tubuhnya. Itu tidak bergantung pada perasaan saya. Itu bisa dianalisis, bisa dibandingkan, bisa dinilai oleh ahli dan oleh CDI. Kalau saya mengarang kekeliruan demi menebus rasa bersalah, rekaman itu akan menunjukkan bahwa saya mengarang. Tapi kalau saya benar, ia akan menunjukkan itu juga — tanpa perlu satu tetes pun air mata saya."
Ia mendengar napasnya sendiri. Ia tidak menangis. Ia bersyukur ia tidak menangis.
"Jadi jangan percaya saya," kata Gayatri, lebih pelan. "Saya juru bahasa yang keliru sekali dan tak menyadarinya bertahun-tahun. Saya bukan saksi yang meyakinkan. Percayalah pada isyarat yang terekam. Itu yang tidak bisa berbohong, dan itu yang seharusnya sejak awal kita dengarkan."
Jaksa membuka mulut, lalu menutupnya. Ia mencari retak dalam kalimat itu dan tak menemukannya, sebab Gayatri tidak memberinya dinding untuk didobrak — hanya sebuah pintu yang mengarah lurus ke bukti.
"Tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia," katanya akhirnya, dan dalam suaranya ada sesuatu yang lelah.
Gayatri tetap duduk saat jaksa kembali ke tempatnya. Tangannya, ia sadari, gemetar halus di pangkuan — bukan ketakutan lama yang mengunci, melainkan getar seseorang yang baru saja mengangkat batu dari dadanya dan belum tahu ke mana harus meletakkannya. Di seberang ruangan, di kursi terdakwa, Damar menatapnya. Pemuda itu tidak tersenyum. Ia hanya mengangkat tangan sedikit, membentuk satu isyarat kecil yang hanya dimengerti orang dalam, dan Gayatri membalasnya dengan gerak yang sama samar.
Belum selesai. Ia tahu itu. Rekaman masih harus dibuka penuh, CDI masih harus menerjemahkan ulang, dan Damar sendiri masih harus bicara. Tapi untuk pertama kalinya sejak Bab keterangan itu, ia merasa berdiri di tempat yang benar — bukan di pihak, melainkan di sisi yang jujur pada tangannya sendiri.