Ruang sidang itu lebih dingin dari yang Gayatri ingat. Bukan karena pendingin udara—meski mesin tua di sudut mendengung tak henti—melainkan karena semua mata di dalamnya sedang menunggu sesuatu dibongkar. Ia berdiri di tempat saksi, tangannya diletakkan rata di atas mimbar kayu supaya tak terlihat gemetar. Di deretan depan, Pram menegakkan punggung. Di sisi lain, jaksa mengetuk-ngetuk pena ke berkas, sabar seperti orang yang yakin waktu berpihak padanya.
"Saudari diminta menjelaskan," kata ketua majelis, "bagaimana keterangan terdakwa pada tahap penyidikan diterjemahkan. Dengan bahasa yang bisa dimengerti ruangan ini."
Gayatri menelan ludah. Ia sudah melatih kalimat pembuka ini berkali-kali di kamar yang sunyi, tetapi kini kata-kata itu terasa asing di mulutnya.
"Yang Mulia, saya perlu menunjukkan, bukan sekadar mengucapkan. BISINDO tidak bekerja seperti bahasa lisan yang disusun kata demi kata. Ada unsur yang namanya isyarat ruang dan klasifikator. Tangan menempatkan orang, benda, arah, di udara—dan ruang itu sendiri membawa makna."
Ketua majelis mengangguk pelan. Seorang CDI yang duduk di dekat panitera mencondongkan badan, siap. Gayatri menarik napas, lalu mengangkat kedua tangannya.
"Ini yang terekam dari Saudara Damar." Ia membentuk sebuah tangan menjadi bidang datar, telapak menghadap ke bawah, lalu menggerakkan tangan yang lain—jari menekuk seperti menggenggam—dari satu titik ke titik lain di depan dadanya. "Dalam rekaman, ia membuat isyarat ini. Klasifikator untuk benda yang dipegang, bergerak melintasi ruang yang sebelumnya ia tetapkan sebagai... sebuah tempat. Sebuah kejadian."
Ia berhenti. Ruangan hening. Bahkan pena jaksa berhenti mengetuk.
"Waktu itu," lanjut Gayatri, dan suaranya turun setengah nada, "saya merender isyarat ini menjadi kalimat: 'Saya membawa itu ke arahnya.' Lalu, ketika ia mengulang dengan penekanan, saya menambahkan—" ia menahan diri sejenak, memaksa dirinya menyelesaikan, "—'karena saya memang mau.'"
Kata terakhir itu jatuh ke lantai ruang sidang seperti batu.
"Yang keliru bukan gerakannya. Saya melihat gerakan itu benar. Yang keliru adalah saya membaca penempatan ruangnya sebagai niat. Padahal, dalam BISINDO, klasifikator yang sama—dengan arah dan sudut yang sama—bisa berarti dua hal yang sangat berbeda. Ia bisa menceritakan urutan sebuah peristiwa: ini terjadi, lalu itu, lalu itu. Atau ia bisa menyatakan maksud pelaku. Yang membedakan bukan bentuk tangan. Yang membedakan adalah penanda di wajah, tempo, dan konteks kalimat sebelum dan sesudahnya."
Jaksa berdiri. "Yang Mulia, saksi sedang menafsir ulang pekerjaannya sendiri secara retroaktif. Ini menguntungkan posisinya."
"Saya sedang menjelaskan mekanismenya," kata Gayatri, lebih cepat dari yang ia niatkan. Ia menahan napas, menurunkan tangan. "Saya tidak meminta ruangan ini memercayai saya. Saya meminta ruangan ini melihat apa yang saya lewatkan."
Ketua majelis menimbang sejenak, lalu mengangkat tangannya ke arah jaksa. "Duduk dulu. Saya ingin mendengar sampai selesai."
Gayatri kembali mengangkat tangan. Kali ini ia memperlambat gerakannya, hampir mengejanya, seolah menuntun ruangan itu melewati sebuah lorong yang gelap.
"Perhatikan wajah, Yang Mulia. Ketika Saudara Damar membuat isyarat ini, alisnya terangkat—begini." Ia menaikkan alis, menahan gerak tangannya menggantung di udara. "Dalam BISINDO, alis yang terangkat di akhir sering menandai sesuatu yang belum selesai. Sebuah pertanyaan yang tak terjawab. Bisa berarti: 'lalu apa yang terjadi?' Bisa berarti keraguan. Bisa berarti ia sendiri tidak mengerti bagaimana semuanya bisa sampai ke situ."
Ia menurunkan tangan.
"Saya membaca alis itu sebagai penegasan. Saya salah. Register yang ia pakai—cara ia menyusun—itu register orang yang sedang menjelaskan kebingungannya, bukan orang yang sedang mengaku. Tapi di ruang penyidikan waktu itu tidak ada CDI. Tidak ada juru bahasa Tuli yang bisa menangkap nuansa dari dalam. Hanya ada saya, seorang juru bahasa dengar, dan tekanan supaya keterangan cepat selesai. Dan saya... saya mengisi ruang kosong itu dengan tafsir yang paling gamblang. Yang paling mudah dituliskan ke dalam berita acara."
Ada gerakan kecil di deretan kursi keluarga. Gayatri tidak berani menoleh. Ia tahu Damar ada di sana, di antara petugas, dan ia tak sanggup menghadapi wajah pemuda itu sekarang, di tengah kalimat yang sedang ia bongkar.
"Saya ingin sangat jelas soal satu hal," katanya, dan untuk pertama kali suaranya benar-benar mantap. "Saya tidak berdiri di sini untuk mengatakan bahwa isyarat itu pasti berarti dia tidak bersalah. Saya tidak berhak menyimpulkan itu. Itu bukan tugas saya, dan bukan itu yang sedang saya lakukan. Yang saya katakan hanya ini: isyarat itu ambigu. Ada lebih dari satu makna yang mungkin. Dan saya, tanpa hak dan tanpa dasar yang cukup, memilih satu makna—yang kebetulan adalah makna yang paling memberatkan—lalu menuliskannya seolah tidak ada makna lain."
Ketua majelis menuliskan sesuatu. Pena jaksa tetap diam.
"Netralitas yang saya kira saya jaga waktu itu," Gayatri menambahkan, lebih lirih, "sebenarnya tidak ada. Setiap pilihan kata saya membentuk apa yang didengar ruangan. Saya kira saya hanya menyampaikan. Padahal saya sedang memilih."
Ia berhenti. Tangannya kembali diletakkan rata di atas mimbar. Di luar, mesin pendingin masih mendengung. Di dalam, tidak ada yang bergerak.
"Untuk memastikan mana makna yang benar," kata Gayatri akhirnya, menatap ketua majelis lurus, "ruangan ini tidak cukup mendengar saya. Ruangan ini harus melihat isyaratnya sendiri, dibaca oleh orang yang paling berhak membacanya. Saya bisa menunjukkan di mana saya keliru. Tapi kebenaran isyarat itu—" ia menahan sebentar, "—hanya bisa datang dari Saudara Damar, dijembatani dengan benar."
Ketua majelis meletakkan penanya. "Itu," katanya pelan, "yang akan kita dengar."