Ruang majelis itu lebih kecil dari yang Gayatri bayangkan sepanjang malam-malam ia membayangkannya. Di kepalanya, ruang ini selalu tumbuh jadi gua yang bergema, tempat suara memantul dan menuduh. Kenyataannya cuma sebuah ruangan berpanel kayu murahan, lampu neon yang salah satunya berkedip, dan bau pengharum ruangan yang bertarung kalah dengan bau lembap plafon. Ia duduk di bangku saksi yang disediakan, di baris yang ditentukan panitera, dan mendapati bahwa keluhuran yang selama ini menakutinya ternyata dibangun dari benda-benda biasa.
Di depan, tiga hakim menempati meja tinggi. Yang di tengah perempuan berkacamata, membaca berkas dengan wajah yang tidak menjanjikan apa pun—tidak permusuhan, tidak pula belas. Justru ketiadaan itu yang membuat perut Gayatri mengetat. Ia terbiasa membaca wajah. Seluruh kariernya dibangun di atas kemampuan membaca wajah, tangan, ruang di antara tubuh orang. Wajah yang tak memberi apa-apa terasa seperti halaman yang sengaja disembunyikan darinya.
Ia mencari Damar tanpa benar-benar berniat mencari. Pemuda itu duduk di kursi terdakwa, mengenakan kemeja yang jelas bukan miliknya—terlalu longgar di bahu, kerah yang menganga. Di sampingnya, seorang juru bahasa yang tak Gayatri kenal dan, syukurlah, seorang CDI dari komunitas, laki-laki paruh baya yang tangannya diam tapi siaga. Mereka sudah ada. Itu saja sudah lebih dari yang dimiliki Damar di ruangan pertama, dua tahun lalu, ketika hanya ada Gayatri dan sebuah kalimat yang salah lahir dari tangannya.
Damar menangkap tatapannya. Sekejap. Lalu pemuda itu memalingkan wajah, bukan dengan benci, melainkan dengan sesuatu yang lebih sulit ditanggung: keterasingan seorang yang berkali-kali dipaksa hadir di ruang yang tak pernah dibuat untuk memuatnya. Gayatri menahan dorongan untuk mengisyaratkan sesuatu—apa pun, sepatah maaf, sepatah *aku di sini*. Ia tahu itu bukan tempatnya. Bukan lagi.
Pram duduk di meja pembela, menyusun map-mapnya dengan ketenangan yang Gayatri tahu palsu; ia sudah cukup lama mengenal pengacara itu untuk melihat bagaimana jempolnya mengetuk pelan tepi meja. Di seberang, jaksa—laki-laki muda dengan rambut licin—tampak justru terlampau tenang, seperti orang yang yakin pertandingan sudah dimenangkan sebelum peluit ditiup. Di bangku penonton, Gayatri tak berani menoleh terlalu lama. Tapi ia sempat menangkap Wulan di deret ketiga, dan di ujung lain, terpisah beberapa kursi seolah sengaja menjaga jarak dari keriuhan, sosok Rani. Mentornya datang. Gayatri tak tahu harus meletakkan perasaan itu di mana, maka ia biarkan saja menggantung.
Ketua majelis mengetuk palu. Suaranya kecil, tapi seluruh ruangan menyusut ke dalam satu titik.
"Sidang peninjauan atas perkara ini dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum."
Formalitas berjalan seperti air yang tahu jalannya sendiri. Pembacaan nomor perkara. Pengecekan kehadiran. Penegasan bahwa terdakwa dijembatani oleh juru bahasa dan CDI yang telah disumpah. Gayatri memperhatikan bagaimana CDI itu bekerja—cara ia mencondongkan tubuh ke Damar, memberi ruang, menunggu, tidak memburu. Ada rasa yang aneh menyaksikannya: seperti melihat versi dirinya yang seharusnya, dilakukan orang lain, di ruangan yang seharusnya, terlambat dua tahun.
Lalu tibalah bagian yang telah ia latih di kepala sampai kata-katanya kehilangan makna karena terlalu sering diulang.
"Majelis akan mendengarkan keterangan dari juru bahasa dengar yang menerjemahkan keterangan terdakwa pada pemeriksaan awal," kata ketua majelis, matanya kini terangkat dari berkas dan jatuh, tepat, pada Gayatri. "Saudari Gayatri. Dipersilakan maju."
Namanya, diucapkan di ruangan itu, terdengar seperti milik orang lain. Ia berdiri. Lututnya menahan dengan patuh, dan ia bersyukur untuk itu—ia setengah menyangka akan roboh. Langkahnya ke depan meja saksi terasa panjang secara tak wajar, tiap ubin menghitung dirinya sendiri.
Panitera menyodorkan kitab. Gayatri meletakkan tangan, mengucapkan sumpah dengan suara yang, mengejutkan dirinya sendiri, tidak gemetar. *Akan menerangkan yang sebenarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya.* Ironi kalimat itu hampir membuatnya tertawa dengan cara yang mengerikan. Seumur hidup profesinya, ia bersumpah menyampaikan yang sebenarnya. Hari ini, untuk pertama kalinya, yang sebenarnya adalah dirinya sendiri yang telah keliru.
Ia duduk menghadap majelis. Dari sini, Damar tepat di sudut pandangnya, dan ia tak bisa memindahkannya. Pemuda itu menatapnya kini, tak lagi berpaling. CDI di sisinya diam, menunggu, tangan terlipat. Seluruh ruangan menunggu.
"Saudari Gayatri," ketua majelis memulai, membuka map di hadapannya perlahan, seolah waktu adalah miliknya sendiri untuk dibagikan. "Anda adalah juru bahasa tersertifikasi yang menerjemahkan keterangan terdakwa dalam bahasa isyarat pada tanggal pemeriksaan awal. Benar?"
"Benar, Yang Mulia." Suaranya keluar tipis. Ia menelan, mengulang. "Benar."
"Dan Anda memahami bahwa perkara ini dibuka kembali, antara lain, untuk meninjau keterangan tersebut."
Bukan pertanyaan. Gayatri merasakan mata jaksa muda itu bergerak ke arahnya, menimbang, mencari-cari celah yang bisa ia jadikan senjata nanti. Ia merasakan Pram menahan napas. Ia merasakan—atau membayangkan ia merasakan—tatapan Rani di punggungnya, dingin dan penuh pertanyaan yang tak akan pernah terucap di ruangan ini: *apa yang akan kaukatakan, murid saya, tentang barisan yang kautinggalkan?*
"Saya memahami, Yang Mulia," jawabnya.
Ketua majelis mengangguk sekali, lalu meletakkan kedua tangannya di atas berkas, dan menatapnya lurus.
"Kalau begitu, ceritakan kepada majelis," katanya, "bagaimana Anda menerjemahkan keterangan terdakwa pada hari itu."
Kalimat itu turun ke ruangan seperti benda yang punya berat. Gayatri merasakan seluruh malam-malam tak tidur, seluruh rekaman yang berputar, seluruh keraguan yang menjalar ke tangannya, seluruh persahabatan yang retak dan sumpah yang dilanggar, menyempit ke dalam satu ambang tunggal ini. Ia menarik napas. Di sudut matanya, tangan CDI itu terangkat sedikit, siap menerjemahkan apa pun yang akan ia ucapkan—untuk Damar, agar pemuda itu, kali ini, mengerti setiap kata yang menyangkut hidupnya.
Gayatri membuka mulut untuk mulai.