Praperadilan Sigit ditolak, dan perkaranya melaju ke pengadilan. Gayatri telah ditunjuk sebagai juru bahasa untuk persidangan, sebuah penunjukan yang ia terima dengan campuran tugas dan firasat. Maka ketika seorang panitera menelepon untuk menyampaikan bahwa pihak penasihat hukum mengajukan keberatan atas dirinya, ia tidak sepenuhnya terkejut, hanya terkejut pada bentuk keberatannya.
Mereka tidak mempersoalkan kompetensimu, Mbak, kata panitera dengan nada minta maaf. Justru sebaliknya. Mereka mempersoalkan kedekatanmu dengan komunitas tunarungu. Katanya kamu sering terlihat di acara komunitas, di kopi tuli itu, dan dikenal dekat dengan beberapa aktivis. Jadi mereka khawatir kamu tidak netral, condong membela terdakwa.
Gayatri memejamkan mata sejenak di ujung telepon. Ironi itu begitu sempurna sehingga hampir lucu kalau tidak begitu pahit. Seumur hidup ia membangun dinding netralitas, menjaga jarak profesional dengan disiplin yang nyaris menyakitkan, menolak menjadi pengacara, menolak menjadi penolong, semua demi bisa berdiri di ruangan mana pun sebagai kaca bening yang tak terbantahkan. Dan sekarang justru kedekatannya dengan komunitas, kemampuannya berbahasa isyarat sejak lahir, hal yang membuatnya menjadi juru bahasa terbaik untuk Sigit, dipakai sebagai alasan untuk menyingkirkannya.
Ia tahu logika di baliknya, dan logika itu tidak sepenuhnya jahat, hanya dingin. Bahasa isyarat yang sungguh fasih hanya dimiliki oleh mereka yang hidup di dalam atau sangat dekat dengan komunitas Tuli; komunitas itu kecil, semua saling kenal. Maka mensyaratkan juru bahasa yang fasih sekaligus tidak punya hubungan apa pun dengan komunitas hampir mustahil, dan itulah jebakannya. Standar netralitas yang dibayangkan oleh orang dengar, yaitu juru bahasa yang melayang tanpa akar, sesungguhnya akan menghasilkan juru bahasa yang lebih buruk, bukan lebih baik. Tapi pengadilan tidak selalu peduli pada paradoks itu. Pengadilan peduli pada prosedur yang terlihat bersih.
Keberatan itu dibahas dalam sidang pendahuluan. Penasihat hukum, seorang pengacara muda yang cekatan, berdiri dan menyampaikan keberatannya dengan sopan namun tajam. "Yang Mulia, kami tidak meragukan kemampuan teknis Saudari juru bahasa. Justru kami menghormatinya. Tapi kami memperoleh informasi bahwa beliau aktif dalam komunitas penyandang tunarungu, dekat dengan organisasi advokasi disabilitas rungu. Demi menjaga kemurnian persidangan, demi memastikan bahwa terjemahan yang menjadi dasar putusan benar-benar netral, kami memohon agar dipertimbangkan penggantian juru bahasa dengan pihak yang tidak memiliki keterikatan emosional dengan kelompok terdakwa."
Gayatri diminta hakim untuk menanggapi. Ia berdiri, dan untuk sesaat ia merasakan dorongan lama untuk menghilang, untuk menjadi sebening mungkin, untuk berkata baiklah, kalau itu lebih bersih, saya mundur. Mundur akan mudah. Mundur akan membuatnya tetap tak ternoda, tetap di luar pusaran, tetap setia pada citra dirinya sebagai juru bahasa yang tak pernah dipersoalkan. Dan ada bagian dalam dirinya, bagian Gayatri kecil yang belajar bahwa aman berarti tidak terlihat, yang menginginkan jalan keluar itu dengan rindu yang nyaris fisik.
Tapi ia memikirkan sesuatu yang lebih besar dari kenyamanannya. Kalau ia mundur, siapa yang akan menggantikannya? Daftar juru bahasa isyarat tersumpah di kota itu pendek. Yang fasih BISINDO dan bersedia masuk sidang pidana lebih pendek lagi. Sangat mungkin penggantinya adalah seseorang yang kurang cakap, atau lebih buruk lagi, seseorang yang menguasai SIBI tapi tidak BISINDO, sistem buatan yang tidak dipikirkan oleh Sigit, sehingga seluruh kesaksian Sigit akan disaring melalui bahasa yang bukan bahasanya. Dan ia teringat dugaan salah alih pada pemeriksaan awal, retakan yang mungkin sudah ada di pondasi berkas. Kalau ia mundur sekarang, tidak akan ada lagi orang di ruangan itu yang sanggup melihat retakan itu, apalagi memperbaikinya. Sigit yang akan menanggung kemurnian prosedur yang justru membuatnya makin tak terdengar.
Gayatri menjawab dengan tenang, memilih kata-katanya seperti memilih isyarat untuk konsep yang belum punya kata. "Yang Mulia, saya menghormati keberatan penasihat hukum. Izinkan saya menyampaikan beberapa hal sebagai keterangan teknis, bukan pembelaan. Pertama, kefasihan dalam bahasa isyarat alami komunitas hanya dapat diperoleh melalui keterpaparan yang erat dengan komunitas itu; tidak ada juru bahasa yang benar-benar cakap yang sama sekali asing dari komunitas Tuli. Kedua, terdapat dua sistem isyarat yang berbeda, dan terdakwa berkomunikasi dalam bahasa isyarat alami, bukan sistem buatan; juru bahasa yang tidak menguasai bahasa alami itu berisiko menyalahterjemahkan justru karena jaraknya. Ketiga, netralitas seorang juru bahasa dijaga bukan oleh ketiadaan hubungan sosial, melainkan oleh kepatuhan pada kode etik, yaitu menerjemahkan utuh tanpa menambah atau mengurangi. Saya bersedia tunduk pada pengawasan apa pun yang Yang Mulia tetapkan untuk memastikan kepatuhan itu, termasuk perekaman dan peninjauan independen."
Ia duduk kembali dengan jantung berdebar. Ia tidak membela Sigit. Ia membela ketepatan, membela bahasa, membela kemungkinan bahwa kebenaran bisa lewat utuh. Tapi ia menyadari, saat ia mengucapkannya, bahwa ia telah memilih untuk bertahan, dan bertahan berarti ia tidak lagi melayang di luar. Ia telah menempatkan dirinya, dengan suaranya sendiri, di dalam perkara ini, sebagai pihak yang punya kepentingan agar terjemahan dilakukan dengan benar. Itu bukan ketidaknetralan dalam arti memihak terdakwa. Tapi itu juga bukan lagi kebeningan total seseorang yang tak peduli ke mana cahaya jatuh.
Hakim menimbang, lalu memutuskan untuk mempertahankan Gayatri sebagai juru bahasa dengan syarat persidangan direkam dan terjemahan dapat ditinjau bila ada keberatan. Penasihat hukum menerima dengan anggukan yang sulit dibaca. Gayatri keluar dari ruang sidang pendahuluan itu dengan tangan yang dingin, bukan karena takut, tapi karena ia merasa, untuk pertama kalinya secara terbuka di depan sebuah institusi, ia telah berhenti bersembunyi. Mursita pernah berkata suatu hari ruangan akan memaksanya memilih. Hari ini ia memilih untuk tinggal, untuk dilihat, untuk dipersoalkan, demi seseorang yang nasibnya bergantung pada apakah bahasanya akan didengar persis atau disaring melalui dinding. Dan dinding yang ia bongkar, ia sadari dengan getir, adalah dinding yang selama ini ia sangka sebagai kebajikannya yang paling murni.