Rani memilih tempat yang tidak biasa: sebuah kedai kopi di lantai dasar gedung perkantoran, jauh dari sekretariat asosiasi, jauh dari mata siapa pun yang mengenal mereka berdua. Di meja sudut, dua cangkir mengepul, dan Gayatri tahu sebelum kalimat pertama diucapkan bahwa ini bukan ajakan berdamai antara guru dan murid. Ada map tipis di dekat siku Rani, dan Rani tidak sekali pun menyentuhnya, seolah benda itu bisa meledak bila diusik terburu-buru.
"Kamu kelihatan capek," kata Rani. Suaranya lembut, nyaris seperti dulu, sebelum semua ini. "Berapa lama kamu tidak tidur benar?"
Gayatri tidak menjawab. Ia memutar cangkirnya seperempat lingkaran, memperhatikan uap yang naik lalu hilang.
"Aku bukan ke sini mewakili siapa-siapa," lanjut Rani, dan justru kalimat itu yang membuat Gayatri waspada. "Ini aku. Rani. Yang dulu mengajarimu duduk di sudut mana supaya tanganmu terlihat semua orang. Aku cuma mau bicara sebentar, sebelum semuanya jadi tidak bisa ditarik lagi."
"Semuanya sudah tidak bisa ditarik, Bu."
Rani menghela napas, dan untuk sekejap tampak jauh lebih tua dari usianya. "Pemeriksaan etik itu belum ke mana-mana. Baru berkas, baru rumor. Kamu tahu bagaimana asosiasi bekerja. Kalau tidak ada yang mendorong, kalau tidak ada keterangan baru yang bikin ribut, hal seperti ini bisa mengendap sendiri. Layu. Orang lupa." Ia menatap Gayatri lurus-lurus. "Sertifikasimu masih utuh. Nama baikmu masih utuh. Semua yang kamu bangun sepuluh tahun masih ada, kalau kamu membiarkannya ada."
Di sanalah kalimatnya, akhirnya, telanjang di atas meja. Gayatri merasakan sesuatu mengetat di dadanya, bukan kemarahan, sesuatu yang lebih licik dari itu — kelegaan yang datang lebih dulu sebelum ia sempat menolaknya.
"Bandingnya jalan terus tanpa kamu," kata Rani pelan. "Kamu bukan satu-satunya pintu. Ada ahli linguistik, ada rekaman, ada CDI yang mereka datangkan. Biarkan mereka yang mengurus. Kamu tidak perlu berdiri di depan majelis dan menghancurkan dirimu sendiri untuk sesuatu yang mungkin tetap gagal walau kamu bicara."
"Kalau aku diam, bandingnya lebih mungkin gagal."
"Mungkin." Rani tidak berpura-pura menyangkal. Itu justru yang membuatnya sulit dibenci. "Tapi itu bukan tanganmu yang menggagalkannya. Itu sistem, itu majelis, itu hal-hal di luar dirimu. Kamu tidak menambah dosa apa pun dengan tidak ikut campur. Diam bukan kebohongan, Gayatri. Diam cuma... tidak bicara."
Gayatri hampir tertawa, getir. Betapa rapinya kalimat itu dijahit. Betapa ia sendiri, dulu, mungkin memercayainya.
Ia membayangkannya sejenak — dan itulah bagian yang paling menakutkan, betapa mudah membayangkannya. Pulang. Tidur tanpa memutar rekaman itu di kepala. Berhenti menunggu pesan-pesan dingin di tengah malam. Menjembatani dokter dan pasien lagi tanpa tangannya gemetar. Bagas tidak lagi terjepit di antara dua rumah. Sekar tidak perlu memilih. Dunia lama menutup kembali di atasnya seperti air di atas batu yang dijatuhkan, tenang, tanpa bekas.
Dan Damar tetap di dalam.
"Map itu apa?" tanya Gayatri.
Rani menatapnya, lalu menggeser map itu satu senti ke arahnya, tidak lebih. "Bukan ancaman. Kalau kamu berpikir begitu, kamu salah menilaiku." Ia diam sebentar. "Ini cuma jalan keluar yang sudah disiapkan orang-orang yang tidak ingin melihat profesi ini dipermalukan. Surat pengunduran diri sementara. Alasan kesehatan. Rehat, bukan skors. Tidak ada catatan buruk, tidak ada sidang etik. Kamu keluar dengan bersih, istirahat setahun, lalu kembali kalau kamu mau. Tidak ada yang menuntutmu mengakui apa pun."
"Termasuk tidak menarik terjemahan yang keliru itu."
"Termasuk itu." Rani tidak berkedip. "Karena secara resmi, tidak ada yang keliru. Ada terjemahan. Ada vonis. Ada terdakwa yang mungkin memang bersalah — kamu tidak tahu pasti, aku tidak tahu pasti, tidak seorang pun tahu pasti. Kamu membangun seluruh badai ini di atas keraguanmu sendiri."
Itu tusukan yang paling dalam, karena ada benarnya. Gayatri memang tidak punya kepastian mutlak. Ia hanya punya rekaman yang ia putar ratusan kali, isyarat ruang yang penempatannya tidak mungkin ia baca sebagai niat bila ia jujur, klasifikator yang ia render terlalu percaya diri di ruang keterangan yang terburu-buru itu. Ia punya wajah Damar di balik kaca, bingung, mencari-cari. Bukan kepastian. Tapi cukup. Selalu cukup.
"Kamu tidak menyuruhku berbohong, Bu," kata Gayatri akhirnya. Suaranya rata, dan ia sendiri heran bisa serata itu. "Kamu menyuruhku tidak ada. Menghilang supaya tidak ada tangan yang bisa ditunjuk. Itu bukan netralitas. Itu cuma cara yang lebih sopan untuk tidak bertanggung jawab."
Wajah Rani mengeras sedikit, lalu melunak lagi, dan yang tersisa hanya lelah. "Aku menyelamatkanmu."
"Aku tahu." Dan itulah yang membuatnya nyaris tak tertahankan — bahwa Rani sungguh percaya begitu, bahwa map tipis itu ditawarkan sebagai belas kasih, bukan sogokan. "Itu sebabnya ini susah."
Ia tidak mengambil map itu. Tapi ia juga tidak mendorongnya kembali. Ia membiarkannya tergeletak di antara mereka, sesuatu yang belum ditolak, dan Rani cukup lama mengenalnya untuk tidak menekan lebih jauh malam itu.
"Pikirkan," kata Rani, berdiri, meninggalkan kopinya yang nyaris utuh. "Sidangnya belum minggu ini. Kamu masih punya waktu untuk memilih hidup yang lebih ringan."
Gayatri tinggal sendirian di meja sudut itu setelah Rani pergi. Map itu masih di sana. Ia tidak menyentuhnya, tapi tidak juga bisa mengalihkan pandang darinya, dan untuk waktu yang lama ia hanya duduk, menimbang berat sebuah benda yang seluruh bobotnya justru terletak pada betapa mudahnya ia dibawa pulang.