Kafe itu setengah kosong ketika Gayatri tiba, dan ia bersyukur untuk itu. Ia memilih kursi di sudut, membelakangi jendela, supaya cahaya sore yang keruh tidak jatuh langsung ke wajahnya. Belakangan ia jadi peka pada cahaya. Tidurnya masih pendek-pendek, terpotong-potong, dan matanya terasa seperti dipasir. Ia memesan teh tawar dan tidak menyentuhnya.
Pak Hardi datang lima menit kemudian, membawa payung yang menetes dan senyum yang sudah ia siapkan dari mobil. Pria itu anggota dewan asosiasi, seangkatan Rani, orang yang dulu menandatangani sertifikatnya sendiri. Ia duduk, menyeka kacamata, bicara tentang cuaca, tentang seorang juru bahasa muda yang katanya berbakat, tentang apa saja yang bukan alasan mereka bertemu. Gayatri membiarkannya. Ia tahu orang seperti Pak Hardi butuh menempuh jalan memutar sebelum sampai ke maksud.
"Kau kelihatan capek, Gayatri," kata Pak Hardi akhirnya, dan nada suaranya melunak jadi sesuatu yang hampir seperti sayang. "Kita semua capek. Kasus ini sudah menyeret terlalu banyak orang."
Ia lalu bicara pelan, seolah menawarkan obat. Pemeriksaan etik itu, katanya, sebetulnya belum ke mana-mana. Masih bisa diendapkan. Kalau Gayatri memilih tidak hadir di sidang ulang — tidak menarik keterangannya secara resmi, cukup tidak datang, membiarkan berkasnya lewat tanpa suara — maka tak ada yang perlu diperkarakan. Sertifikatnya aman. Namanya bersih. Ia bisa kembali bekerja seolah tahun ini tidak pernah terjadi. "Tak ada yang menuntutmu jadi martir," ujarnya. "Peninjauan itu bisa gugur sendiri karena kurang bukti. Itu bukan tanganmu. Itu jalannya perkara."
Gayatri memutar gelas tehnya perlahan, menonton daun teh mengendap di dasar. Ia mengerti betul apa yang tidak diucapkan Pak Hardi. Tanpa kesaksiannya, permohonan Pram nyaris pasti runtuh. Analisis rekaman bisa dibantah, ahli bisa dianggap berteori, tapi tak ada yang lebih menghancurkan hasil lama selain juru bahasa aslinya berdiri dan berkata: aku keliru. Bila ia diam, Damar tetap di balik pasal yang membesar itu, dan tak seorang pun akan tahu bahwa Gayatri pernah bisa mengubahnya. Diam adalah pintu yang menutup rapi, tanpa bunyi, tanpa saksi.
Yang membuatnya ngeri bukan tawaran itu. Yang membuatnya ngeri adalah betapa ia menginginkannya.
Ia membiarkan dirinya membayangkan. Tidur yang utuh. Tangan yang tidak lagi gemetar saat mengangkat untuk mengisyarat. Booking yang kembali masuk, register yang kembali ia kuasai tanpa ragu, hari-hari yang lurus. Ia sudah begitu lelah. Lelah yang bukan cuma di badan, tapi di tempat yang lebih dalam, di bagian dirinya yang dulu percaya bahwa menyampaikan dengan setia sudah cukup untuk membuatnya tak bersalah. Selama beberapa saat ia benar-benar menimbangnya, jujur, tanpa membaguskan diri. Ia bukan perempuan yang tak tergoda. Ia hanya perempuan yang tahu terlalu banyak.
Dan itulah soalnya. Ia tidak bisa lagi tidak tahu.
Ia teringat kamar sunyi tempat ia memutar rekaman itu berpuluh kali; isyarat ruang Damar yang menempatkan sesuatu di antara mereka, klasifikator yang bergerak bukan sebagai niat melainkan sebagai gambar suatu peristiwa — dan bagaimana dulu ia merapikannya jadi satu kalimat lisan yang terdengar seperti pengakuan. Ia teringat wajah Damar di ruang jenguk, tangan pemuda itu bertanya dalam BISINDO tanpa perantara, bingung kenapa kata-kata yang tak pernah ia maksudkan bisa keluar dari mulut orang lain dan mengunci pintu selnya. Diam takkan mengembalikan apa pun dari semua itu. Diam hanya akan menambah satu lapis lagi di atas yang sudah tertumpuk.
"Tidak," kata Gayatri.
Ia terkejut sendiri betapa datar suaranya. Ia menunggu ada getar heroik naik ke dadanya, semacam keyakinan yang menyala, tapi tidak ada. Yang ada hanya kelelahan dan, di bawah kelelahan itu, sesuatu yang keras dan tenang seperti batu di dasar sungai. "Saya akan datang, Pak. Saya akan memberi keterangan."
Pak Hardi menghela napas, meletakkan kacamatanya di meja. "Kau kira ini soal keberanian." Ia mengucapkannya bukan sebagai ejekan, melainkan sebagai kelelahan tersendiri. "Kau akan berdiri di depan majelis dan meruntuhkan pekerjaanmu sendiri. Mereka akan bilang kalau juru bahasa bisa salah sebesar ini, semua terjemahan bisa dipertanyakan. Kau tidak cuma merusak dirimu. Kau merusak kepercayaan pada kami semua."
"Saya tahu," kata Gayatri. Dan ia memang tahu — sudah menghitungnya berulang-ulang, kolom demi kolom, sampai angkanya hafal. Bukan itu yang berubah malam-malam ini. "Saya bukan mau jadi pahlawan, Pak. Saya cuma tidak sanggup pura-pura tangan saya bersih. Itu saja."
"Netralitas kita justru yang menjaga kita," Pak Hardi berkata, mengulang doktrin yang pernah Gayatri hormati, yang sebagian masih ia hormati. "Kalau kita mulai memilih, kita bukan juru bahasa lagi."
"Saya tidak memilih pihak." Ia menegakkan punggung, dan untuk pertama kali sore itu menatap pria di depannya lurus-lurus. "Saya memperbaiki satu hal yang saya sampaikan keliru. Kalau itu dilarang, mungkin memang ada yang salah pada apa yang kita sebut netral."
Pak Hardi tidak menjawab lama. Ia memasang kacamatanya kembali, merapikan payung yang basah, dan berdiri. Sebelum pergi ia berkata pelan, tanpa ancaman, justru itu yang membuatnya berat: "Sesudah ini, tidak ada jalan mundur. Kau paham itu?"
Gayatri mengangguk. Ia paham. Ia sudah lama berdiri di ambang itu; kini ia hanya melangkah keluar dari kafe lebih dulu darinya.
Di luar, hujan sudah reda menjadi rintik halus, dan udara berbau aspal basah. Ia tidak merasa menang. Ia tidak merasa ringan. Yang ia rasakan adalah keputusan itu mengendap ke tempatnya, mengunci, seperti tulang yang akhirnya kembali ke sendinya — sakit, tapi benar. Ia menarik napas panjang, memasukkan tangan ke saku, dan berjalan pulang ke arah rumah tempat Bagas menunggu, ke arah sidang yang tinggal menghitung hari.