Malam itu Gayatri mengeluarkan buku catatan yang biasa ia pakai untuk daftar istilah—kolom kiri isyarat, kolom kanan padanan lisan—dan membuka halaman kosong di tengahnya. Ia menatap dua garis tegak yang tak sengaja tercetak dari halaman sebelumnya, membekas menembus kertas. Kebiasaan lama. Segala hal di kepalanya selalu ingin ia bagi jadi dua lajur: yang ini, yang itu; yang tersurat, yang tersirat. Ia menekan pena di sudut atas dan menulis satu kata. Ongkos.
Ia tidak menuliskannya untuk siapa-siapa. Tidak untuk Pram, yang akan menyebut ini "pertimbangan matang" dan menaruhnya di map. Tidak untuk Wulan, yang akan membacanya sebagai daftar alasan untuk maju. Ia menuliskannya untuk dirinya sendiri, supaya taruhan itu berhenti melayang-layang jadi kabut di dada dan menjelma sesuatu yang bisa ia tatap. Kabut tidak bisa ditimbang. Angka bisa.
Baris pertama ia tulis pelan, seolah menuliskannya cepat-cepat akan membuatnya lebih ringan dari yang sebenarnya. Sertifikasi. Ia berhenti di titik itu. Sertifikasi BISINDO-nya bukan selembar kertas; itu enam tahun, itu ujian yang ia ulang dua kali, itu nama yang dipanggil dari daftar ketika pengadilan butuh seseorang yang bisa dipercaya di ruang yang tak boleh salah. Pemeriksaan etik asosiasi masih berjalan. Ia tahu bagaimana bunyi keputusan-keputusan seperti itu: tidak ada yang berteriak, hanya surat dengan kop resmi dan kalimat yang sopan, dan tiba-tiba namamu tak ada lagi di daftar mana pun. Ia menulis di sebelah kata itu: mungkin dicabut. Lalu, jujur, ia coret "mungkin".
Baris kedua lebih mudah karena lebih kabur. Nama baik. Ia hampir tertawa menuliskannya, karena "nama baik" terdengar seperti barang yang dipajang di etalase. Tapi ia tahu wujudnya yang sesungguhnya: telepon yang tidak lagi berdering dari kepaniteraan, jaksa yang dulu memanggilnya "Mbak Gaya" dengan hormat kini menyebut kompetensinya sebagai "yang sedang dipersoalkan". Ia menulis: penerjemah yang membongkar kerjanya sendiri tidak akan pernah lagi dianggap netral oleh siapa pun. Ia memandang kalimat itu lama. Itu bukan ketakutan. Itu hampir pasti.
Ia bangkit, menjerang air, kembali. Uap dari cangkir menempel di kaca jendela dan mengaburkan lampu jalan di luar. Ia menulis baris ketiga. Nafkah. Ini yang paling malu ia akui, karena terdengar kecil di samping keadilan bagi seorang pemuda yang salah dibaca. Tapi sewa, tapi cicilan, tapi kiriman diam-diam untuk Bagas ketika usahanya seret—itu semua berdiri di atas booking yang datang karena orang percaya. Ia tidak punya jaring pengaman selain kepercayaan itu. Ia menulis: berapa bulan aku bisa bertahan tanpa penugasan? Ia tidak menuliskan jawabannya. Ia sudah tahu, dan menuliskannya terasa seperti menandatangani sesuatu.
Baris keempat ia tulis dengan tangan yang, ia sadari, sedikit lambat. Bukan gemetar seperti di ruang medis tempo hari—hanya lambat, seperti enggan. Damar. Kalau ia bersaksi dan majelis tidak yakin, kalau jaksa berhasil menjadikannya perempuan bermotif yang mengarang penyesalan demi sorotan, maka bukan hanya ia yang jatuh. Peninjauan bisa dianggap dibangun di atas saksi yang tidak kredibel. Ongkosnya bukan cuma miliknya. Itu bagian yang membuat daftar ini berbeda dari sekadar menghitung kerugian sendiri: ada nama lain yang bisa ikut tenggelam kalau tangannya keliru lagi. Ia menahan diri untuk tidak menuliskan janji apa pun di sebelah nama itu. Ia bukan penyelamat. Ia hanya orang yang tangannya pernah salah dan sekarang mencoba jujur soal itu.
Ada satu baris yang ia sisakan, dan ia tahu sejak awal ia akan menuliskannya paling akhir supaya bisa berpura-pura ia lupa. Rani. Bukan kerugian yang bisa ia hitung dalam bulan atau rupiah. Enam tahun bimbingan, "kita bukan pembela" yang diucapkan mentornya seperti doa, tatapan yang berubah dingin sejak ia bicara dengan Wulan. Kalau ia berdiri di depan majelis dan membongkar terjemahannya sendiri, Rani akan membacanya sebagai murid yang akhirnya keluar barisan sepenuhnya. Ia menulis: aku mungkin kehilangan orang yang mengajariku menjadi teliti. Ia meletakkan pena.
Ia menatap halaman itu utuh sekarang. Lima baris, tanpa penyeimbang di kolom kanan. Selama ini ia hidup dari kolom kanan—padanan, imbalan, alasan tandingan. Malam ini kolom itu kosong, dan kekosongan itu justru yang membuat daftarnya terasa jujur. Ia tidak menulis "tapi keadilan", tidak menulis "tapi ini benar", karena ia tahu godaan menaruh kata mulia di seberang ongkos hanyalah cara lain untuk membuat harganya kelihatan murah. Harga ini tidak murah. Ia menolak berpura-pura murah.
Ia tidak merobek halaman itu. Ia juga tidak menutup bukunya buru-buru. Ia biarkan terbuka di meja, di bawah lampu, dan ia duduk memandanginya seperti orang memandang tagihan yang belum ia putuskan cara membayarnya. Di luar, satu mobil lewat, lampunya menyapu langit-langit lalu hilang. Gayatri menyilangkan lengan di atas meja dan meletakkan dagunya, matanya tetap di lima baris itu.
Ia belum memutuskan apa-apa malam ini—atau lebih tepatnya, ia sudah memutuskan sejak lama dan hanya sedang menghitung berapa yang harus ia keluarkan dari kantongnya sendiri. Bedanya tipis, tapi penting. Bukan supaya ia bisa mundur. Supaya kalau ia maju, ia maju dengan mata terbuka, tahu persis apa yang ia serahkan, dan tak bisa lagi berpura-pura pada dirinya sendiri bahwa ini gratis.
Ia matikan lampu meja tapi membiarkan buku itu terbuka dalam gelap. Besok pagi ia akan melihatnya lagi, dan angka-angka itu tidak akan berkurang. Ia ingin memastikan dirinya tahu itu sebelum tidur.