Bengkel sablon Bagas menempati ruko sempit di ujung gang, dan sore itu bau tinta plastisol menyergap Gayatri begitu ia mendorong pintu kaca. Adiknya sedang membungkuk di atas meja afdruk, punggung kaus oblongnya basah oleh keringat, dan ia tidak menoleh — tentu saja tidak menoleh, tidak ada bel yang bisa ia dengar. Gayatri melangkah ke sisi mejanya, cukup dekat agar bayangannya jatuh ke bidang kerja Bagas, dan barulah pemuda itu mendongak.
Wajah Bagas terbuka seketika, seperti selalu. Ia mengangkat kedua tangan yang belepotan tinta biru, lalu menahannya di udara sambil menyeringai — isyarat "sebentar" yang malas, khas dia — sebelum menyeka jari ke lap dan menjentikkan tangan cepat. *Kakak makan belum?* Ibu jari dan telunjuk, gerak ke mulut, alis naik. Pertanyaan pertama yang selalu ia ajukan, sejak mereka kecil, sejak Gayatri berumur sembilan tahun dan menyadari bahwa adiknya tidak menoleh saat namanya dipanggil.
Gayatri menggeleng. Bagas mendengus, menunjuk bangku plastik di pojok, lalu menghilang ke belakang dan kembali dengan dua bungkus nasi padang yang entah sejak kapan tersimpan. Mereka makan di antara rak-rak berisi kaus setengah jadi, lutut nyaris bersentuhan, dan untuk beberapa menit tidak ada tangan yang bicara karena keduanya sibuk mengunyah. Gayatri suka keheningan semacam ini. Bukan sunyi yang menekan seperti di kamarnya menjelang subuh, melainkan sunyi yang penuh, yang tidak menuntut diisi suara.
Setelah nasi habis, Bagas melipat kertas bungkus jadi persegi kecil, gerakan yang rapi dan sabar, dan tanpa mengangkat kepala ia berisyarat. *Lusa, kan?*
Gayatri tahu maksudnya. Sidang. Ia mengangguk.
Bagas menatapnya lama. Lalu tangannya bergerak, pelan, memberi ruang pada tiap kata seolah ingin Gayatri menangkap bukan hanya makna tetapi juga jeda di antaranya. *Orang-orang di komunitas bilang macam-macam soal Kakak.* Ia menempatkan "orang-orang" di satu titik di udara sebelah kirinya, dan "Kakak" di dadanya sendiri, dan garis di antara keduanya terasa seperti jurang yang selama ini Gayatri takutkan. *Aku dengar semua. Yang marah. Yang bilang Kakak melukai anak Tuli.*
Sesuatu mengeras di kerongkongan Gayatri. Ia hendak mengangkat tangan, membela diri, atau mungkin justru mengakui — ia sendiri tak yakin yang mana — tetapi Bagas menahannya dengan telapak yang direntangkan. Belum selesai.
*Waktu kecil,* isyaratnya, dan wajahnya melunak, *Kakak sering salah. Isyarat Kakak kaku. Kata "rindu" Kakak pakai untuk "haus".* Ia tertawa, suara serak yang jarang ia keluarkan, yang membuat dua orang di trotoar menoleh. *Aku ingat. Kakak nangis karena merasa bodoh. Tapi Kakak balik lagi besoknya. Dan besoknya. Tangan Kakak makin benar karena Kakak nggak berhenti datang.*
Gayatri menunduk ke tangannya sendiri — tangan yang telah merender isyarat ruang Damar menjadi kalimat lisan berniat, tangan yang selama berbulan-bulan terasa seperti milik orang asing. Ketika ia mendongak, matanya panas.
*Aku dulu pikir sekutu itu orang dengar yang menyelamatkan kita,* lanjut Bagas. Ia menempatkan "menyelamatkan" tinggi di udara, agak berlebihan, hampir mengejek — klasifikator tangan yang mengangkat sesuatu ke atas, seperti pahlawan di poster. Lalu ia menjatuhkan tangan itu. *Bukan. Aku salah. Yang begitu malah bikin kami kelihatan seperti barang yang perlu diangkat.*
Ia mencondongkan badan. *Sekutu itu yang mau berdiri di depan majelis dan bilang: tanganku yang keliru. Yang nggak lari waktu bisa lari.* Isyarat "lari" ia buat dua jari yang bergerak cepat menjauh, lalu ia tarik kembali, tegas, ke telapak yang terbuka. *Kakak nggak lari.*
*Aku bukan pahlawan, Gas,* Gayatri akhirnya berisyarat, dan tangannya sedikit gemetar, gejala yang belakangan datang tanpa diundang. *Aku yang bikin semua ini. Damar dipenjara sebagian karena aku.*
Bagas mengangguk. Ia tidak membantah, dan justru itu yang menahan air mata Gayatri agar tidak tumpah — adiknya tidak menghiburnya dengan kebohongan manis. *Iya. Kakak yang keliru.* Jeda. *Dan Kakak juga yang mau membetulkan. Dua-duanya benar. Kakak nggak harus pilih salah satu biar merasa layak.*
Ia meraih tangan Gayatri, membalik telapaknya ke atas seakan memeriksa, jari-jarinya masih berbau tinta. *Damar akan bicara sendiri di sidang. Kau tahu itu?* Gayatri mengangguk; Wulan sudah memastikan CDI akan hadir. *Bagus. Berarti Kakak bukan yang menyelamatkan dia. Kakak cuma buka pintu yang dulu Kakak tutup tanpa sengaja. Selebihnya, biar dia yang jalan.*
Gayatri menahan napas. Selama ini ia mengira bebannya adalah harus memperbaiki segalanya, mengembalikan tahun-tahun yang hilang dari hidup Damar, seakan itu sanggup ia panggul sendirian. Kalimat Bagas — sederhana, tanpa hiasan — meletakkan beban itu ke ukuran yang benar. Ia tidak diminta menjadi besar. Ia hanya diminta jujur.
*Komunitas mungkin nggak akan langsung memaafkan Kakak,* Bagas menambahkan, dan kejujuran itu menyayat sekaligus menenangkan. *Sekar juga masih ragu. Tapi aku, aku bangga.* Ia mengetuk dadanya, dua kali, keras, isyarat yang tak butuh terjemahan. *Kakakku juru bahasa yang mau berdiri melawan hasil kerjanya sendiri. Di dunia dengar, itu langka. Di dunia mana pun, itu langka.*
Lampu neon di langit-langit berkedip sekali, dan di luar gang mulai gelap. Gayatri menggenggam tangan adiknya, tinta dan semua, dan untuk pertama kali sejak berbulan-bulan ia tidak merasa perlu menjelaskan apa pun. Ia hanya berisyarat, pelan, kata yang paling awal ia pelajari dulu, yang paling ia percaya: *Terima kasih.*
Bagas mengangkat bahu, pura-pura acuh, lalu menoyor kepala kakaknya seperti masih bocah. *Sudah. Bantu aku beres-beres. Meja afdruk itu nggak akan bersih sendiri, dan Kakak harus tidur cukup sebelum lusa.*
Mereka membereskan bengkel dalam sunyi yang penuh itu, empat tangan bergerak di antara rak dan tinta, dan di dalam dada Gayatri batu yang selama ini menetap tidak hilang — tetapi kini ia tahu persis bentuk dan beratnya, dan ia tahu untuk apa ia memikulnya.