Hujan turun tipis waktu Gayatri sampai di rumah, dan dari jendela ia sudah melihat lampu dapur menyala. Bagas di sana, membelakangi pintu, menuang air panas ke dua cangkir. Ia tak menoleh pada bunyi kunci—tentu tak mendengarnya—tapi getar langkah Gayatri di lantai kayu merambat, dan adiknya berbalik. Wajahnya melunak begitu saja, tanpa ditanya apa-apa.
*Kukira kau lembur lagi,* isyaratnya, tangan bergerak lepas, cangkir kedua sudah didorong ke arah Gayatri seakan kehadirannya diperhitungkan sejak tadi.
Gayatri menurunkan tas dari bahu yang basah. *Rani menolak menemuiku,* jawabnya. Ia tak berniat mengatakannya; tangannya bergerak lebih dulu dari niatnya, seperti sering terjadi bila ia terlalu lelah. Di depan Bagas bahasanya selalu telanjang begitu—ruang isyarat tak menyediakan sudut untuk berbasa-basi.
Bagas tidak buru-buru menghibur. Ia menyorongkan cangkir sedikit lebih dekat, lalu duduk di kursi seberang dan menunggu sampai Gayatri ikut duduk. Baru setelah itu tangannya bergerak. *Kau sudah makan?*
Pertanyaan itu—bukan bagaimana kasusnya, bukan kau yakin dengan langkahmu, hanya kau sudah makan—membuat sesuatu di dada Gayatri yang sejak siang terkatup rapat ikut mengendur seujung.
*Belum,* akunya.
Bagas bangkit, membuka tudung saji, memanaskan sisa sayur di kompor tanpa bertanya lagi. Punggungnya tenang. Beberapa minggu lalu, di acara komunitas, Gayatri tahu ada orang yang menyudutkan adiknya, menuntutnya memilih—kakak yang melukai seorang pemuda Tuli, atau rumah yang membesarkannya. Ia menunggu Bagas menyinggung itu, mengungkitnya sebagai luka atau sebagai tuntutan. Bagas tak melakukannya. Ia hanya menaruh piring di depan Gayatri, lalu mengetuk meja dua kali agar kakaknya mengangkat wajah.
*Aku tidak akan menyuruhmu mundur,* isyaratnya, pelan, klasifikatornya rapi seperti orang yang sudah menimbang tiap katanya. *Dan aku tidak akan bilang kau pahlawan. Kau bukan.*
Gayatri hampir tertawa, getir dan lega sekaligus. *Bukan.*
*Kau cuma kakakku yang keras kepala dan tidak bisa tidur.* Tangan Bagas melambat. *Itu saja. Aku tidak butuh kau jadi lebih dari itu.*
Ia tak menawarkan menyelesaikan apa pun. Tak berjanji komunitas akan menerimanya kembali, tak bilang semua akan baik-baik saja. Bagas cukup mengenal dunia mereka untuk tahu janji semacam itu murahan. Ia hanya duduk sampai piring Gayatri kosong, lalu mengumpulkannya ke bak cuci, dan itu—kesediaan tinggal di ruangan yang sama tanpa syarat—terasa lebih kokoh daripada penghiburan mana pun.
Ponsel Gayatri bergetar di meja. Nama Pram di layar, bukan panggilan, hanya pesan. *Berkas kesaksian sudah kukirim ke emailmu. Baca kalau sempat. Kalau tidak sempat, ya sudah.*
Ia menatap kalimat terakhir lebih lama dari yang pertama. Kalau tidak sempat, ya sudah. Sebulan lalu Pram tak akan menutup begitu; ia akan menambahkan pengingat, tenggat, sedikit desakan halus yang membuat Gayatri merasa jadi alat dalam strategi orang lain. Mereka pernah bertengkar soal itu—soal Pram yang gampang lupa bahwa ia bukan senjata, melainkan orang yang tiap hari harus pulang membawa kasus ini di badannya.
Ia mengetik balasan. *Aku baca sekarang.* Lalu, sebelum mengirim, menghapus dan menggantinya. *Terima kasih sudah tidak mendorong.*
Titik-titik muncul, hilang, muncul lagi. *Aku belajar,* tulis Pram akhirnya. *Kau bukan bukti yang kubawa ke sidang. Aku sempat memperlakukanmu begitu. Maaf.*
Gayatri menaruh ponsel telungkup. Ada kelegaan yang aneh di situ, bukan karena Pram membelanya, tapi justru karena Pram berhenti mencoba membentuknya jadi sesuatu. Diterima sebagai orang yang bisa lelah, yang bisa tak sempat, yang bisa ragu di ambang—itu lebih dekat pada hormat ketimbang kekaguman mana pun yang pernah ditumpuk polisi dan jaksa ke atas namanya dulu.
Bagas menepuk bahunya, menunjuk jendela. Hujan sudah reda. *Antar aku beli kopi bubuk,* isyaratnya, dan Gayatri tahu adiknya tak sungguh kehabisan kopi. Ia hanya tak ingin kakaknya duduk sendirian dengan pikirannya.
Mereka berjalan kaki ke warung di ujung gang. Di sepanjang jalan Bagas bercerita hal-hal kecil—tetangga yang ributnya lucu, video kucing yang ingin ia tunjukkan, rencana usaha kecil yang sempat tersendat pinjaman. Tangan mereka bergerak di bawah lampu jalan yang temaram, dan sesekali Gayatri harus menebak isyarat yang separuh tertelan bayangan. Ia tak keberatan. Justru dalam menebak-nebak itu, dalam keharusan meminta ulang, memastikan, menandai apa yang tak jelas, ia merasa berada di tanah yang ia kenal. Inilah rumah yang sesungguhnya: bukan tempat yang menerimanya karena ia sempurna menerjemah, melainkan tempat yang membiarkannya bertanya kembali bila ia tak yakin.
Di warung, seorang perempuan menoleh dari antrean—Sekar. Gayatri menegang. Persahabatan mereka masih menggantung, retak yang belum tertutup, dan ia sudah bersiap melihat punggung Sekar berpaling.
Sekar tidak berpaling. Ia mengangguk kecil, kaku, tapi mengangguk. Lalu tangannya bergerak, pendek saja, cukup untuk dibaca dari jarak itu. *Kudengar tanggalnya sudah ditetapkan.*
*Sudah,* jawab Gayatri.
Sekar menahan tangannya sejenak di udara, seperti menimbang apakah akan menambahkan sesuatu. Akhirnya ia hanya berisyarat, *Jaga dirimu di sana,* lalu membayar belanjaannya dan pergi. Tak ada pelukan, tak ada maaf besar yang meluruhkan segalanya. Cuma satu kalimat yang menyisakan pintu tetap terbuka seukuran celah.
Itu sudah cukup. Gayatri belajar tak menuntut lebih dari yang bisa diberikan orang.
Dalam perjalanan pulang, Bagas menyerahkan sebungkus kopi ke tangan kakaknya. *Kau lihat tadi?* isyaratnya. *Dia menyapa.*
*Aku lihat.*
*Berarti tidak semuanya hilang.* Bagas mengangkat bahu, ringan, seakan sedang membicarakan cuaca. *Sebagian mungkin. Tapi tidak semuanya.*
Gayatri memeluk bungkusan kopi itu ke dada. Tak ada yang menyelamatkannya malam ini. Tak ada yang menjanjikan sidang akan berpihak, atau nama baiknya utuh, atau komunitas akan menyambutnya seperti dulu. Orang-orang terdekatnya hanya berdiri di tempat masing-masing dan membiarkannya lewat sebagai dirinya sendiri—kakak yang keras kepala, penerjemah yang bisa keliru, perempuan yang memilih tak diam. Diterima apa adanya, tanpa dijadikan lebih agung, tanpa ditarik-tarik jadi lambang.
Di rumah, ia menyalakan komputer dan membuka berkas kesaksian yang dikirim Pram. Bagas duduk di sofa di belakangnya, menonton sesuatu di ponsel, sesekali tertawa tanpa suara. Kehadiran itu tak menuntut apa-apa. Gayatri membaca kalimat pertama, lalu kalimat kedua, dan untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, ia tak merasa harus menanggung semuanya seorang diri.