Surat itu datang di hari yang biasa saja. Gayatri sedang mencuci gelas ketika ponselnya bergetar dua kali di meja, dan ia membiarkannya dulu, mengira itu tawaran penugasan yang lain. Baru setelah tangannya kering ia membuka layar dan membaca satu baris yang mengubah bentuk seluruh bulan di depannya: sidang ulang perkara Damar dijadwalkan pada tanggal dua puluh tiga, tiga minggu dari hari itu.
Ia meletakkan ponsel telungkup, seolah dengan begitu angka itu tak jadi ada. Air masih menetes dari keran. Ada yang aneh pada cara sebuah tanggal bekerja: sebelum ia tahu, hari-hari mendatang hanyalah ruang kosong yang bisa diisi apa saja. Sesudahnya, semuanya jadi hitungan mundur. Setiap pagi kini punya nomor.
Pram meneleponnya sore itu, suaranya rata seperti biasa, tapi Gayatri menangkap ketegangan tipis yang berusaha ditahan pengacara itu. "Sudah resmi," kata Pram. "Majelisnya bukan yang pertama. Ketuanya orang yang teliti — itu bagus untuk kita, tapi ia tak suka kejutan. Jadi tak boleh ada yang setengah matang."
"Saya mengerti."
"Keterangan tertulismu sudah masuk. Tapi di ruang itu, kau akan diminta menjelaskan langsung. Berulang-ulang, dari sudut yang berbeda-beda. Jaksa akan mencari satu retak untuk dimasuki." Pram diam sejenak. "Aku bukan mau menakutimu. Aku cuma mau kau siap."
"Saya tidak takut pada pertanyaannya," kata Gayatri. Ia berhenti. "Saya takut menjelaskan sesuatu yang benar dengan cara yang membuatnya terdengar salah lagi. Seperti dulu."
Di ujung sana Pram tidak buru-buru menghibur. Itu yang Gayatri hargai dari lelaki itu. "Makanya kita latih," jawabnya akhirnya. "Bukan supaya kau menang. Supaya kau jelas."
Malamnya ia membuka map berisi salinan berkas, transkrip, dan catatan tangannya sendiri yang sudah penuh coretan. Ia tak lagi gemetar seperti berbulan-bulan lalu ketika menyentuh dokumen ini; tangannya sudah belajar tenang, atau setidaknya pura-pura tenang, yang kadang cukup. Ia menyusun ulang urutan penjelasannya: isyarat ruang lebih dulu, baru klasifikator, baru bagaimana keduanya bisa keliru dialihkan menjadi kalimat berniat. Ia mencoret. Ia mengulang. Ia menuliskannya seakan menerangkan pada orang yang sama sekali tak tahu apa itu BISINDO, karena memang begitulah ruang majelis nanti.
Wulan datang dua hari kemudian, membawa map sendiri dan seorang CDI bernama Marto yang sudah bersedia mendampingi. Mereka bertiga duduk di lantai ruang tamu, kertas berhamburan, sampai lewat tengah malam. Marto memeragakan isyarat itu perlahan-lahan, lalu mempercepatnya, lalu menahannya di tengah gerak — memperlihatkan pada Gayatri titik-titik di mana makna bisa pecah menjadi dua. Gayatri menonton dengan perasaan yang sukar dinamai: kagum, dan sekaligus ngilu, karena inilah kecermatan yang seharusnya ada di ruang keterangan Damar dulu, dan tak ada.
"Kau jangan menjelaskan seperti orang yang menebus dosa," kata Wulan di sela istirahat, sambil menyeruput teh yang sudah dingin. "Kalau kau bicara seolah sedang minta ampun, majelis akan menganggap kesaksianmu emosi, bukan keterangan. Kau bukan pendosa yang mengaku. Kau saksi ahli yang kebetulan juga membuat kekeliruan itu. Dua-duanya benar. Pegang dua-duanya."
Gayatri hampir tertawa. "Kau tahu itu sulit."
"Aku tahu," kata Wulan. "Aku cuma tak mau kau kalah karena benar dengan cara yang salah."
Rani tidak menelepon. Gayatri tak menyangka ia akan menelepon. Tapi lewat seorang rekan asosiasi, ia mendengar bahwa pemeriksaan etik atas dirinya sengaja tidak dijadwalkan sebelum sidang — entah karena kebijaksanaan, entah karena perhitungan, agar hasil sidang bisa dipakai memberatkan atau meringankan sesuka mereka nanti. Kabar itu mendarat dingin. Ia menyimpannya, tak membiarkannya mengganggu tumpukan kertas di depannya. Satu hitungan mundur cukup untuk saat ini.
Ia menemui Damar sekali lagi di ruang jenguk. Kali ini pemuda itu tampak lebih tenang daripada pertemuan-pertemuan sebelumnya, dan itu justru membuat dada Gayatri sesak dengan cara yang lain. Damar mengisyaratkan pelan, tanpa perantara, bahwa ia sudah tahu tanggalnya. Ia akan bicara sendiri, katanya. Ia sudah berlatih dengan Marto. Tangan Damar bergerak mantap saat mengatakan itu — bukan tangan orang yang menunggu diselamatkan, melainkan tangan orang yang menunggu didengar.
Aku bukan mau kau membelaku, isyarat Damar, dan Gayatri membacanya dengan seluruh perhatiannya agar tak keliru sekali lagi. Aku mau ruang itu mengerti apa yang dulu kubilang. Itu saja.
Gayatri mengangguk. Itu saja, ulangnya dalam hati, dan tahu bahwa "itu saja" adalah hal terberat yang pernah diminta darinya.
Di rumah, Bagas menempelkan secarik kertas kecil di pintu kulkas: dua puluh tiga, dengan angka dua yang dibuat terlalu besar, khas tulisannya sejak kecil. Gayatri tak memintanya. Ketika ia melihatnya, Bagas hanya mengangkat bahu dan mengisyaratkan, biar tak ada yang lupa. Lalu ia membuatkan kakaknya teh, dan mereka duduk tanpa banyak kata, dua orang yang sama-sama menghitung hari dengan cara masing-masing.
Malam-malam berikutnya punya irama baru. Bangun, latihan dengan transkrip, penugasan yang masih ia terima karena hidup tak berhenti untuk siapa pun, lalu latihan lagi, lalu tidur yang datang terlambat tapi datang juga. Kadang ia terjaga jam tiga, dan alih-alih melawan seperti dulu, ia menyalakan lampu dan membaca ulang satu bagian keterangannya sampai kantuk kembali. Ketakutan tidak hilang. Ia hanya belajar duduk di sebelahnya tanpa gemetar.
Tiga minggu itu terasa sekaligus terlalu panjang dan terlalu pendek. Ada saat-saat ia ingin tanggal itu segera tiba supaya beban ini bergeser dari dadanya ke ruang majelis, ke tempat yang semestinya. Ada pula saat ia ingin waktu berhenti, karena selama sidang belum terjadi, ia belum kehilangan apa pun yang pasti — belum sertifikasinya, belum namanya, belum sebagian hidupnya.
Pada suatu sore menjelang akhir minggu kedua, ia menyelesaikan latihan terakhir bersama Marto dan Wulan, lalu merapikan kertas-kertas itu ke dalam satu map tunggal. Ia menatapnya sebentar. Bukan senjata, bukan tameng. Hanya keterangan sejujur yang bisa ia susun tentang tangannya sendiri.
Di kulkas, angka dua yang terlalu besar itu masih menempel. Tinggal beberapa hari lagi. Gayatri mematikan lampu ruang tamu dan membiarkan hitungan mundur berjalan tanpa dilawan, untuk pertama kalinya merasa bahwa ia tidak sedang menunggu hukuman, melainkan menunggu giliran untuk bicara.