Gayatri memperhatikan tangannya pagi itu seperti orang mengamati cuaca yang berubah tanpa diminta. Ia menuang kopi, mengangkat cangkir, meletakkannya kembali. Permukaan cairan di dalamnya diam. Semalam, di titik paling rendah dari malamnya, ia sempat yakin bahwa sepasang tangan ini — tangan yang sama yang dulu keliru merender isyarat ruang Damar menjadi kalimat berniat — tak lagi pantas dipercaya untuk apa pun, bahkan untuk memegang cangkir tanpa menumpahkannya. Pagi ini keyakinan itu tidak hilang. Hanya menyusut. Cukup kecil untuk ia kantongi dan bawa berjalan.
Ia sudah belajar, dari supervisi yang dulu ia kira tak akan pernah ia butuhkan, untuk tidak melawan getaran itu dengan membencinya. Getaran itu datang dari tempat yang wajar. Yang tidak wajar adalah bila ia membiarkannya memutuskan segalanya.
Ponselnya bergetar di meja. Wulan.
"Kamu sudah lihat unggahan tadi malam?" Suara Wulan cepat, penuh, seperti biasa. "Ada tiga organisasi yang menyatakan dukungan. Orang-orang mulai menyebut namamu. Mereka menganggapmu—"
"Jangan," potong Gayatri, pelan. "Jangan selesaikan kalimat itu."
Di seberang sana Wulan diam sebentar. "Aku cuma mau bilang, kamu tidak sendirian sekarang. Ada yang berdiri di belakangmu."
"Aku tahu. Dan aku bersyukur." Gayatri menatap uap tipis yang naik dari cangkirnya. "Tapi aku dengar kata yang hampir kausebut tadi. Simbol. Wajah gerakan. Kata-kata seperti itu."
"Memangnya salah?"
"Bukan salah." Ia mencari kalimat yang tepat, karena kepada Wulan ia berutang ketepatan. "Cuma bukan alasanku. Kalau aku naik ke sana untuk jadi wajah siapa-siapa, aku akan bohong sebelum aku sempat mengucap satu kata pun. Dan orang-orang yang duduk di ruang itu — jaksa, majelis — mereka pandai mencium bohong. Terutama bohong yang berbaju keberanian."
"Damar butuh momentum, Gayatri."
"Damar butuh terjemahan yang benar," katanya. "Itu yang bisa kuberi. Bukan tepuk tangan."
Wulan menghela napas, tapi bukan napas kesal. "Kamu tahu, dulu kupikir kamu terlalu takut untuk bersuara. Sekarang aku hampir cemas kamu terlalu keras kepala soal caranya."
"Mungkin dua-duanya benar," ujar Gayatri, dan ia mendengar dirinya sendiri hampir tersenyum. Mereka menutup telepon tanpa sepakat, seperti biasa, tapi tanpa retak.
Ia belum sempat menghabiskan kopinya ketika terdengar ketukan di pintu — pola ketukan yang ia kenal, dua pendek satu panjang. Bagas.
Adiknya masuk dengan tas selempang dan wajah yang, akhir-akhir ini, tak lagi menyimpan hati-hati yang sempat tumbuh di antara mereka setelah semuanya terbongkar. Bagas mengedarkan pandang ke meja, ke berkas fotokopi keterangan Damar yang tertumpuk rapi di sudut, lalu ke wajah kakaknya.
*Kamu tidur?* isyaratnya, alis terangkat.
*Sedikit,* jawab Gayatri dengan tangannya. *Tapi tidur.*
Bagas menarik kursi, duduk menghadapnya. Untuk beberapa saat mereka hanya di sana, dalam keheningan yang tidak canggung — keheningan orang-orang yang berbicara dengan tangan dan tahu bahwa diam pun punya register-nya sendiri.
*Di komunitas masih ramai,* isyarat Bagas akhirnya. Gerakannya tenang, tidak menuduh. *Ada yang bilang kamu maju untuk menebus dosa. Supaya bisa kembali diterima. Supaya bersih lagi.*
Gayatri menimbang tangannya sendiri sebelum menjawab, seperti menimbang apakah kalimat yang akan ia bentuk cukup jujur untuk diucapkan dalam bahasa yang tidak mengizinkan kabur.
*Kalau ini soal menebus,* isyaratnya, lambat, *aku tidak akan pernah selesai. Menebus itu tak ada dasarnya. Aku bisa bersaksi seratus kali dan tetap merasa kurang. Itu lubang.*
*Lalu apa?*
Ia menoleh ke jendela, ke cahaya yang jatuh di lantai, lalu kembali. *Waktu itu,* ia mulai, dan tangannya melambat, *isyarat Damar keluar dari tangannya. Penempatan, arah, peran — dia menaruh ruang di depannya dengan cara tertentu. Lalu tanganku mengubahnya jadi kalimat. Jadi niat. Bukan tangan orang lain. Tanganku.* Ia mengangkat kedua telapaknya, memandanginya seolah keduanya milik orang asing yang harus ia kenali ulang. *Aku maju bukan supaya jadi pahlawan siapa-siapa. Bukan supaya orang di aula itu kembali menyapaku. Aku maju karena yang keliru itu tanganku, dan aku ingin berdiri di depan majelis dan mengatakannya dengan tanganku sendiri. Cuma itu. Jujur soal apa yang kubuat.*
Bagas menatap tangan kakaknya lama sekali. Lalu ia mengangguk, satu kali, angguk yang berat.
*Itu bukan pahlawan,* isyaratnya. *Itu tukang.*
Gayatri tertawa kecil, tanpa suara, hanya guncang di bahu. *Ya,* jawabnya. *Tukang yang salah potong, lalu balik untuk mengaku.*
*Tukang yang balik,* koreksi Bagas, dan ada sesuatu yang hangat di gerakannya, *lebih jarang dari yang kaukira.*
Mereka tidak memeluk — mereka tidak pernah begitu — tapi Bagas menepuk meja dua kali dengan telapaknya, cara lama mereka mengatakan *aku di sini*, dan Gayatri membalasnya dengan ketukan yang sama.
Setelah adiknya pergi, ia duduk sendiri dan menarik tumpukan berkas ke hadapannya. Ia tidak membukanya untuk mencari pembelaan. Ia membukanya untuk memeriksa kembali, satu per satu, di mana isyarat ruang itu bengkok oleh pilihannya, supaya ketika hari itu tiba ia bisa menunjukkannya persis — bukan sebagai orang yang membela Damar, bukan sebagai orang yang menyerang siapa pun, melainkan sebagai orang yang bertanggung jawab atas kerjanya.
Ada perbedaan tipis di antara ketiganya, dan ia tahu jaksa akan mencoba mengaburkannya. Tapi perbedaan tipis itulah pijakannya. Netralitas sempurna memang tak pernah ada — ia sudah menerima itu. Yang bisa ada hanyalah kejujuran atas tangan sendiri. Di atas itu ia bisa berdiri.
Gayatri meraih pena, membuka halaman pertama, dan mulai membaca ulang dengan tangan yang, pagi itu, tidak lagi gemetar.