Pagi itu ada satu penugasan kecil yang tak bisa ia tolak: seorang ibu Tuli mengurus rujukan di puskesmas, perkara sepele, dua puluh menit paling lama. Gayatri berdiri di antara loket dan perempuan itu, tangannya mengangkat untuk memulai, dan untuk sekian detik yang ganjil ia lupa cara mengeja sesuatu yang sudah ia isyaratkan ribuan kali. Bukan lupa persis. Lebih seperti tiba-tiba mendengar tangannya sendiri dari luar, mempertanyakan apakah arah telunjuknya benar, apakah ruang yang ia buka di depan dada itu tidak keliru menaruh siapa di mana. Ibu itu menunggu, sabar, sedikit heran. Gayatri menelan ludah, memaksa jarinya bergerak, dan menyelesaikan tugasnya. Tapi ia keluar dari puskesmas dengan tangan yang terasa asing, seolah dipinjam dari orang lain.
Di rumah, transkrip keterangan Damar sudah ia hafal seperti doa yang tak lagi ia percayai. Ia menaruh laptop di meja, memutar potongan rekaman itu sekali lagi—bukan untuk menemukan sesuatu yang baru, karena tak ada lagi yang baru, tapi karena tangannya butuh sesuatu untuk ditonton selain dirinya sendiri. Damar di layar mengangkat kedua tangan, membuka ruang di sisi kanannya, menempatkan sebuah klasifikator, menggesernya. Gayatri tahu sekarang, dengan kepastian yang menyakitkan, bahwa gerak itu menandai posisi, bukan niat. Bahwa ruang di sisi kanan itu adalah tempat, bukan maksud. Dulu ia merendernya jadi kalimat lisan yang rapi, bersubjek, berpredikat, berkehendak. Dulu ia begitu yakin.
Itulah yang meneror. Bukan kesalahan lama. Ia sudah berdamai—atau setidaknya bisa menatap—kesalahan lama. Yang membuatnya duduk mematung di kursi adalah kesalahan yang belum terjadi. Sebentar lagi ia akan berdiri di depan majelis dan menerangkan, di depan hakim dan jaksa dan barangkali kamera, bagaimana isyarat ruang dan klasifikator bisa salah dibaca. Ia harus tepat. Ia, yang seluruh kariernya kini digantung pada satu kalimat yang salah, harus menjadi orang yang tak boleh salah lagi. Dan tangannya, pagi tadi, lupa cara mengeja.
Gayatri berdiri, berjalan ke cermin di dekat lemari. Ia mencoba merekonstruksi isyarat Damar sendiri, pelan, seolah melatih kesaksian yang belum ia ucapkan. Tangan kanan membuka ruang. Klasifikator. Geser. Ia menatap pantulannya dan pikiran itu datang, dingin dan masuk akal: bagaimana kalau kau juga keliru soal ini? Bagaimana kalau di ruang sidang nanti, di bawah tekanan, di bawah pemeriksaan silang yang akan mencari satu celah, tanganmu tergelincir lagi—salah menempatkan, salah arah—dan kali ini yang runtuh bukan cuma Damar, tapi seluruh alasan orang pernah memercayaimu? Satu keliru lagi. Cuma butuh satu.
Ia menurunkan tangan. Ruangan terasa terlalu sunyi. Ia menyadari napasnya pendek, seperti habis berlari, padahal ia hanya berdiri di depan cermin di kamarnya sendiri.
Ponselnya bergetar. Wulan, menanyakan apakah ia mau bertemu untuk membahas urutan penjelasan teknis. Gayatri menatap layar itu lama, ibu jarinya menggantung di atas papan ketik, lalu menaruh ponsel telungkup tanpa membalas. Ia tak ingin Wulan mendengar suaranya sekarang, karena Wulan akan tahu—Wulan selalu tahu—bahwa ia sedang berpikir untuk mundur. Bukan mundur yang gagah. Mundur yang pengecut, yang beralasan bahwa juru bahasa dengan tangan gemetar tak akan menolong siapa-siapa di ruang majelis, bahwa lebih baik mereka memakai orang lain yang lebih tenang, bahwa mungkin justru pengorbanan yang lebih besar adalah menyingkir.
Alasan itu terdengar hampir mulia. Itulah yang membuatnya paling berbahaya.
Ia teringat Rani, dulu, mengajarinya soal register: bahwa juru bahasa yang baik menyesuaikan diri tanpa menghilangkan diri. Ia teringat Rani pula yang kini nyaris tak menegurnya. Ia teringat pesan-pesan dingin yang datang belakangan, yang tak mengancam apa-apa secara terbuka, hanya mengingatkan bahwa sertifikasinya sedang diperiksa, bahwa satu keterangan yang gegabah bisa dibaca sebagai bukti bahwa ia memang tak kompeten sejak awal. Mereka tak perlu menghentikannya. Mereka cukup menunggu ia salah sendiri.
Malam turun tanpa ia menyalakan lampu. Gayatri masih di lantai, punggung bersandar ke sisi ranjang, laptop mati di meja. Ia memikirkan Damar di dalam sana, menghitung hari dengan cara yang tak bisa ia bayangkan. Ia memikirkan bahwa pemuda itu tak meminta seorang penyelamat—Damar bahkan mungkin tak akan menyebut Gayatri sebagai apa pun selain orang yang pernah keliru menerjemahkannya. Pikiran itu tidak menghiburnya. Tapi anehnya, ia juga tidak ingin dihibur. Ia hanya ingin tangannya berhenti terasa asing.
Pintu kamar diketuk pelan. Bagas, mengintip, melihat kakaknya duduk di gelap. Adiknya tak menyalakan lampu. Ia hanya masuk, duduk di sampingnya di lantai, dan untuk beberapa saat mereka tak mengisyaratkan apa-apa. Lalu Bagas mengangkat tangan, di remang itu, dan bertanya apakah Gayatri sudah makan. Pertanyaan yang begitu kecil, begitu jauh dari sidang dan pasal dan kredibilitas, sehingga Gayatri hampir tertawa dan hampir menangis pada saat yang sama.
Ia menjawab belum. Bagas mengangguk, bangkit, menariknya berdiri dengan tangan yang hangat dan pasti—tangan yang tak ragu sedikit pun soal ke mana arahnya. Di ambang pintu, sebelum keluar, Gayatri berhenti sejenak dan menatap cermin sekali lagi dari kejauhan, ke arah pantulan samar dirinya di gelap.
Satu keliru lagi. Ketakutan itu tidak hilang. Ia tahu ketakutan itu akan menemaninya sampai ke ruang majelis, duduk di sampingnya seperti Bagas duduk di lantai tadi. Ia belum tahu bagaimana ia akan berdiri di depan hakim dengan tangan yang meragu. Ia hanya tahu, malam itu, bahwa ia belum makan, dan bahwa adiknya menunggu di dapur, dan bahwa untuk sekarang jarak dari kamar ke meja makan sudah cukup jauh untuk ditempuh satu langkah dalam satu waktu.