Ruang pemeriksaan di lantai dua itu sempit, berbau kopi instan dan asap yang menempel di gorden. Gayatri duduk di satu sisi meja logam, menghadap seorang pemuda Tuli bernama Reza yang tak berhenti menggigit bibir bagian dalam. Di sebelahnya, Pak Hendra—CDI yang ia minta hadir dari komunitas—duduk dengan tangan bersiap di atas paha. Beberapa bulan lalu, orang seperti Hendra di ruang begini akan dianggap kemewahan yang merepotkan. Kini Gayatri sendiri yang memintanya, dan ia sudah berhenti meminta maaf untuk itu.
Penyidik, perwira muda bernama Sukatma, mengetuk pulpen ke sampul berkas. "Bisa kita mulai? Setengah jam habis cuma untuk mengatur siapa duduk di mana dan siapa melihat siapa."
"Posisi duduk menentukan apa yang bisa dibaca dan apa yang meleset, Pak," kata Gayatri. Ia tidak menambahkan bahwa ia pernah keliru justru karena hal sekecil itu; kalimat itu ia simpan. "Kalau Reza tidak melihat tangan Pak Hendra dengan jelas, keterangannya bisa salah rekam. Kita tidak mau mengulang dari nol."
Sukatma mendengus, tapi tak membantah. Ia mengangguk ke arah Reza. "Suruh dia ceritakan lagi, dari awal, waktu di depan warung itu."
Gayatri dan Hendra bergantian—Hendra memancing dalam BISINDO yang lebih dekat ke ritme Reza, Gayatri menyuarakan ke penyidik. Reza mulai. Tangannya menata ruang di udara: warung di sebelah kiri, tetangga bernama Yudi di sebelah kanan, dirinya di tengah. Semua jelas, semua tenang, dan Sukatma menulis cepat, puas dengan lajunya.
Lalu sampai pada bagian yang penting. Reza membuat verba yang bergerak—satu tangan meluncur dari satu titik ke titik lain, tubuhnya sedikit condong. Dulu, di ruang seperti ini, Gayatri akan langsung menyuarakannya: "Saya dorong dia sampai jatuh." Kalimat yang rapi, yang siap ditandatangani.
Ia tidak melakukannya.
"Sebentar," kata Gayatri. Pulpen Sukatma berhenti. "Isyarat yang barusan—arah geraknya belum pasti. Verba ini menyimpan siapa yang mendorong dan siapa yang didorong di dalam arah tangannya. Saya perlu memastikan dulu, bukan menebak."
"Menebak bagaimana?" Sukatma menaikkan alis. "Tadi jelas tangannya mendorong."
"Jelas ada dorongan. Belum jelas dari siapa ke siapa." Gayatri menahan nada suaranya tetap datar, tetap kerja, bukan membela. "Kalau saya suarakan sekarang, saya yang memilih arahnya, bukan Reza. Itu bukan keterangan dia lagi. Itu keterangan saya."
Hendra sudah menangkap maksudnya. Ia meminta Reza mengulang, pelan, dengan penanda ruang yang lebih tegas: di mana Yudi berdiri, ke mana badan bergerak lebih dulu, tangan siapa yang terangkat lebih dahulu. Reza mengulang. Kali ini ia memakai klasifikator untuk tubuh Yudi—tangan yang menggambarkan orang bergerak—dan menempatkannya masuk lebih dulu ke ruang miliknya. Tangan Reza yang satu naik lebih dahulu, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menahan.
Sukatma menyandarkan punggung. "Jadi yang mana? Dia dorong atau tidak?"
"Dia menahan sesuatu yang datang ke arahnya, lalu terjadi kontak," kata Gayatri. "Reza tidak sedang mengaku memulai. Di versi pertama tadi, kalau saya suarakan buru-buru, di BAP akan tertulis dia yang memulai. Dua kalimat itu beda nasib di pengadilan, Pak."
Ruangan hening sebentar. Dari luar terdengar mesin fotokopi menyalak dan seseorang tertawa di lorong. Gayatri merasakan matanya perih—ia kurang tidur lagi semalam—tapi tangannya tenang. Itu saja sudah lebih dari yang bisa ia katakan tentang bulan-bulan sebelumnya.
Sukatma tidak berterima kasih. Ia menggaruk pelipis, menatap jam dinding, lalu menatap Gayatri dengan sesuatu yang bukan permusuhan, tapi juga bukan senang. "Ibu tahu, dengan cara Ibu, satu keterangan bisa makan waktu tiga kali lipat."
"Saya tahu, Pak."
"Atasan saya tidak akan suka laporan yang molor."
"Saya juga tahu itu." Ia menahan diri untuk tidak menambahkan bahwa laporan yang cepat tapi keliru bisa molor jauh lebih lama—bertahun-tahun, di ruang sidang, di sel. Ia sudah melihat wajah dari kekeliruan macam itu. Nama itu tidak ia sebut di sini.
Sukatma akhirnya mencoret dua baris di draf BAP-nya dan menuliskannya ulang. Ia membacakannya keras-keras, kalimat demi kalimat, berhenti di tiap bagian agar Gayatri dan Hendra mengonfirmasi ke Reza. Prosesnya lambat, tersendat, jauh dari mulus. Tapi ketika Reza akhirnya membaca versi yang tertulis—dijembatani perlahan sampai ia benar-benar paham apa yang akan ia tandatangani—pemuda itu mengangguk. Untuk pertama kali sejak masuk ruangan, ia berhenti menggigit bibirnya.
Di lorong, setelah selesai, Hendra menepuk lengan Gayatri. "Tadi itu," isyaratnya, "yang dulu tidak ada buat anak-anak kita." Ia tidak melanjutkan. Ia tidak perlu.
Gayatri hanya mengangguk. Ia tidak merasa seperti pahlawan; ia merasa seperti orang yang telat beberapa tahun. Ada perbedaan, dan ia memilih memegang yang jujur.
Di tangga menuju parkiran, ia berpapasan dengan seorang penyidik lain yang mengenalinya. Orang itu tersenyum tipis, setengah mengejek. "Yang bikin semua lama itu, ya?" Gayatri membalas dengan anggukan kecil. Julukan itu tidak enak didengar. Tapi ia menimbangnya dengan hal lain: satu berkas, hari ini, tidak menulis seorang pemuda Tuli sebagai sesuatu yang bukan dirinya.
Itu belum menyelamatkan Damar. Itu belum menghapus apa pun yang sudah terjadi. Sidang masih jauh, dan kredibilitasnya sendiri masih tergantung di ujung tali yang sedang diperiksa asosiasi. Tapi untuk hari ini, di ruang kecil berbau kopi itu, cara baru yang ia tempa dengan susah payah sudah membuktikan satu hal sederhana: ia bisa berjalan. Lambat, membuat orang kesal, mahal ongkosnya—tapi berjalan, dan tidak melukai orang yang seharusnya ia jembatani.
Ia menyalakan motor dan membiarkan mesinnya menderu sebentar sebelum berangkat, menikmati satu tarikan napas yang, untuk sekali ini, tidak terasa seperti batu.