Ruang keterangan di lantai dua itu tak berubah sejak terakhir kali Gayatri menginjaknya: lampu neon yang satu ujungnya berkedip, meja logam yang dinginnya menembus lengan, dan bau kopi sachet yang sudah dingin di gelas plastik penyidik. Yang berubah hanya dirinya. Ia meletakkan map di pangkuan, menarik napas, dan menatap pemuda di seberang meja—namanya Ibnu, sembilan belas tahun, tangannya diam di atas paha seperti burung yang menahan sayap.
"Sudah bisa mulai?" Penyidik itu, Aiptu Karsa, mengetuk-ngetuk pulpen. "Ini cuma klarifikasi. Setengah jam kelar."
"Sebelum mulai, Pak, saya perlu menyampaikan satu hal." Gayatri menegakkan punggung. "Saya juru bahasa dengar. Untuk keterangan yang bisa jadi memberatkan seperti ini, idealnya ada CDI—juru bahasa dari komunitas Tuli sendiri—yang mendampingi. Saya sudah menghubungi Wulan, dan—"
"Yang penting kan Ibu bisa isyarat." Karsa tak mengangkat wajah dari berkas. "Sudah sering kok kita begini."
"Justru karena sudah sering, Pak." Suaranya rata, tanpa nada menggurui yang ia latih semalaman agar tidak keluar. "Isyarat Ibnu punya struktur ruang yang tidak selalu bisa saya baca sendiri dengan pasti. Kalau saya salah tangkap arah atau penempatan, keterangannya bisa berubah artinya. Saya lebih tenang kalau ada yang memverifikasi."
Karsa akhirnya mendongak. Ada sesuatu di matanya—bukan marah, lebih ke lelah yang ditahan orang yang jadwalnya penuh. "Berapa lama Wulan sampai?"
"Empat puluh menit."
Penyidik itu menghela napas panjang, menyandarkan tubuh sampai kursi berderit. "Ibu, ini ada delapan berkas lain hari ini."
"Saya tahu." Gayatri tidak minta maaf. Ia belajar bahwa minta maaf di sini akan dibaca sebagai izin untuk mempercepat. "Kalau Bapak mau, kita mulai dari hal-hal yang tidak sensitif dulu. Data diri, kronologi umum. Bagian yang menyangkut niat kita tunda sampai Wulan datang."
Terjadi jeda yang terasa seperti tawar-menawar tanpa kata. Lalu Karsa mengibaskan tangan, setengah menyerah. "Ya sudah. Data diri dulu."
Gayatri berpaling ke Ibnu. Ia mengangkat tangan dan memberi tahu, dalam BISINDO, apa yang baru saja terjadi—bahwa ia meminta seorang juru bahasa Tuli untuk ikut, bahwa mereka akan menunggu, bahwa Ibnu boleh berhenti kapan saja bila ada yang tidak jelas. Ia melihat bahu pemuda itu turun sedikit, seperti simpul yang dikendurkan. Kepercayaan kecil, ditawarkan dengan hati-hati, diterima dengan hati-hati.
Mereka melewati nama, alamat, pekerjaan orang tua. Tangan Ibnu mulai lebih lepas. Tapi ketika Karsa masuk ke bagian kejadian—perkelahian di parkiran, siapa memukul lebih dulu—Gayatri merasakan lantai lama menganga di bawahnya. Ibnu mengisyaratkan sesuatu dengan tangan kiri sebagai penanda satu orang, tangan kanan bergerak ke arah penanda itu, telapak terbuka lalu mengepal. Ruang. Klasifikator. Arah gerak dari mana ke mana.
Setahun lalu, Gayatri tahu persis, ia akan langsung merendernya: *"Saya pukul dia."* Bersih, lisan, siap tanda tangan. Kalimat yang terdengar seperti pengakuan.
Kini ia menahan tangannya sendiri di udara.
"Pak, sebentar." Gayatri menurunkan tangan pelan. "Yang barusan Ibnu sampaikan—saya belum bisa memastikan subjeknya. Isyarat ruangnya menunjukkan ada gerakan pukulan antara dua orang, tapi arahnya bisa berarti Ibnu yang memukul, bisa juga Ibnu memeragakan bahwa dia yang dipukul lebih dulu. Penempatan tokohnya belum jelas buat saya."
Karsa mengernyit. "Jadi dia ngaku atau enggak?"
"Itu justru yang tidak boleh saya tebak." Ia menahan pandang penyidik itu. "Kalau saya paksakan jadi satu kalimat, saya sedang memilih untuk Bapak, bukan menerjemahkan. Biar saya tanyakan ulang ke Ibnu dengan lebih rinci, dan biar Wulan yang memastikan pembacaan ruangnya."
"Ibu ini juru bahasa, bukan hakim." Nada Karsa menajam. "Terjemahin aja apa adanya."
"Ini yang apa adanya, Pak." Gayatri tidak menaikkan suara. "Yang apa adanya adalah: keterangannya ambigu. Menuliskannya seolah tegas itu justru mengarang."
Kata itu—*mengarang*—menggantung di ruang neon yang berkedip. Ia melihat rahang Karsa mengeras, dan untuk sesaat perutnya mengencang oleh refleks lama, dorongan untuk melunak, untuk menambal keheningan dengan kepatuhan. Ia biarkan dorongan itu lewat seperti membiarkan bus salah jurusan berlalu di halte.
Ia kembali ke Ibnu. Perlahan, ia memecah pertanyaannya: siapa berdiri di sebelah mana, tangan siapa bergerak duluan, apakah yang Ibnu tunjukkan itu yang ia lakukan atau yang ia terima. Ibnu mengulang, kali ini lebih lambat, dan Gayatri menandai di catatannya bukan satu kalimat, melainkan dua kemungkinan, masing-masing dengan alasan kenapa ia belum bisa menutupnya jadi satu.
Pintu terbuka. Wulan masuk dengan napas terburu, ranselnya masih tersampir sebelah. Matanya menyapu ruangan, menangkap situasi tanpa perlu penjelasan, dan Gayatri merasakan sesuatu yang nyaris seperti lega—bukan karena beban berpindah, tapi karena akhirnya ada tangan kedua yang tahu betapa mudahnya makna bisa terpeleset.
"Maaf, macet." Wulan menarik kursi. "Sampai mana?"
"Bagian yang penting." Gayatri menggeser catatannya agar terbaca Wulan. "Aku dapat dua kemungkinan pembacaan. Aku belum mau menutupnya."
Wulan membaca sekilas, lalu mengangguk—bukan anggukan basa-basi, melainkan yang diberikan satu tukang kepada tukang lain yang mengerjakan sambungan dengan benar. Ia berpaling ke Ibnu dan mulai mengisyarat, tenang, membiarkan pemuda itu memeragakan ulang dengan ruang penuh.
Karsa melihat jam dinding, lalu ke tumpukan berkasnya, lalu ke dua perempuan yang kini bekerja lambat dan cermat di depannya. Ia tidak berkata apa-apa. Tapi ia meletakkan pulpennya, dan itu—Gayatri tahu—adalah bentuk menyerah yang paling bisa ia harapkan hari ini.
Setengah jam berlalu jadi dua jam. Delapan berkas Karsa akan mundur, dan besok mungkin ada telepon ke asosiasi tentang juru bahasa yang bikin ribet. Gayatri menghitung ongkos itu di kepalanya, jernih, tanpa ilusi bahwa cara ini gratis.
Tapi ketika keterangan Ibnu akhirnya ditutup—dengan ambiguitasnya ditulis apa adanya, ditandai, tidak dipoles jadi pengakuan yang tak pernah pemuda itu maksudkan—Gayatri merapikan mapnya dan menyadari dadanya tidak berat. Untuk pertama kali sejak lama, ia keluar dari ruang keterangan tanpa membawa batu yang biasa ia bawa pulang.