Layar ponsel Gayatri terbagi menjadi empat kotak, masing-masing menampilkan wajah dan tangan seorang juru bahasa, dan keempatnya bergerak sekaligus dalam percakapan yang tidak akan pernah bisa dilakukan lewat suara. Inilah grup video-call para juru bahasa isyarat, ruang tempat mereka saling menukar kasus, mengeluh tentang sendi yang nyeri, dan, malam ini, memperdebatkan sesuatu yang lebih genting: bagaimana cara mengisyaratkan kata-kata yang belum punya isyarat.
Perkara Sigit menjelang praperadilan. Gayatri telah dipanggil kembali sebagai juru bahasa, dan menjelang pemeriksaan lanjutan ia ingin memastikan glosarium istilah hukum yang akan muncul. Penggelapan. Itikad baik. Barang titipan. Penguasaan tanpa hak. Kata-kata yang dalam bahasa Indonesia hukum punya batas yang tajam dan tertentu, tapi dalam BISINDO tidak punya satu isyarat baku pun, karena bahasa isyarat Indonesia tumbuh dari kehidupan sehari-hari komunitas Tuli, bukan dari ruang sidang yang selama ini menutup pintu bagi mereka.
Di kotak kiri atas, Pak Hendra, juru bahasa paling senior di antara mereka, berisyarat dengan ketenangan seseorang yang sudah puluhan kali masuk pengadilan. Penggelapan, kataku, jangan dieja huruf per huruf. Mengeja membuatnya jadi mantra kosong, klien tidak akan paham apa-apa. Lebih baik bangun konsepnya. Ada barang, milik orang lain, dipercayakan kepadamu untuk dijaga atau dikerjakan. Lalu kamu memakainya atau memilikinya seolah barangmu sendiri, padahal bukan. Itu konsepnya. Bangun itu di ruang, lalu beri tahu majelis bahwa kamu menjelaskan konsep karena tiadanya padanan baku.
Tapi konsep yang kamu bangun bisa berbeda dari konsep yang kubangun, balas seorang juru bahasa muda di kotak kanan bawah, namanya Rina. Dan dua versi konsep itu bisa menghasilkan jawaban klien yang berbeda. Kalau aku menekankan kata memiliki, klien mungkin berkata tidak, saya tidak pernah berniat memiliki. Kalau aku menekankan kata memakai, klien mungkin berkata ya, saya memakainya untuk memperbaiki. Dua jawaban yang berbeda untuk satu pertanyaan, hanya karena pilihan kita dalam membangun konsep.
Gayatri merasa perutnya mengencang. Inilah yang selama ini menghantuinya tanpa pernah ia sebut sejelas Rina barusan. Netralitas yang sempurna itu mustahil bukan karena juru bahasa berniat memihak, tapi karena pada lapisan paling dasar, pada pemilihan kata untuk konsep yang belum punya kata, juru bahasa terpaksa memilih, dan setiap pilihan membentuk jawaban, dan jawaban membentuk nasib.
Ia mengangkat tangannya ke dalam bingkai kamera. Aku ingin bertanya sesuatu, isyaratnya, dan ketiga wajah lain menoleh ke kotaknya. Di pemeriksaan pertama klienku, malam itu, bukan aku yang menerjemahkan dari awal. Ada juru bahasa lain yang dipanggil lebih dulu, di siang hari, sebelum aku datang. Apakah ada di antara kalian yang tahu siapa?
Keheningan sejenak, keheningan visual, empat pasang tangan yang diam. Lalu Pak Hendra berisyarat pelan. Aku dengar ada juru bahasa yang dipanggil dadakan siang itu. Bukan dari daftar tersumpah kita. Sepertinya seseorang yang kebetulan ada, mungkin dari pihak yang merasa bisa berisyarat sedikit. Kamu tahu sendiri, kalau darurat dan tidak ada yang bersertifikat, kadang mereka pakai siapa saja yang mengaku bisa.
Siapa saja yang mengaku bisa. Tiga kata itu menjatuhkan sesuatu yang berat di dada Gayatri. Karena ia tahu apa artinya. Pada siang hari sebelum ia tiba, sebelum berita acara yang ia periksa malam itu, telah ada pemeriksaan awal dengan seseorang yang mungkin tidak menguasai BISINDO, mungkin hanya bisa sedikit isyarat dan banyak menebak, mungkin menerjemahkan penguasaan tanpa hak dengan konsep yang keliru, mungkin membuat Sigit menjawab ya untuk pertanyaan yang sebenarnya tidak ia pahami. Dan jawaban dari pemeriksaan siang itu, jawaban yang lahir dari kemungkinan salah alih, mungkin sudah masuk ke dalam berkas, mungkin sudah jadi tulang punggung dugaan, mungkin sudah membentuk seluruh arah perkara sebelum Gayatri sempat masuk dan memperbaiki apa pun.
Maksudmu, isyarat Rina pelan, hati-hati, kesalahan kolega yang tak bersertifikat itu bisa sudah tertanam di berkas. Dan apa pun yang kamu terjemahkan dengan benar setelahnya hanya menambal di atas pondasi yang sudah retak.
Gayatri mengangguk di depan kamera, dan ia merasakan beban itu bergeser ke tempat baru di pundaknya. Sebelumnya bebannya adalah dilema dirinya sendiri, kapan setia, kapan menyela. Sekarang bebannya menjadi sesuatu yang lebih luas dan lebih menakutkan: kemungkinan bahwa nasib Sigit sudah dirusak oleh tangan seseorang yang tidak pernah belajar betapa berbahayanya satu isyarat yang keliru di ruang bertaruh tinggi. Dan dirinya, Gayatri, mungkin satu-satunya orang yang bisa melihat retakan itu, karena hanya ia yang menguasai BISINDO cukup dalam sekaligus hadir di sistem cukup dekat untuk membandingkan.
Apa yang harus kulakukan? Ia mengisyaratkan pertanyaan itu lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada layar.
Pak Hendra menjawab dengan ketenangan yang justru membuat pertanyaan itu terasa makin berat. Kalau kamu menduga ada salah alih pada pemeriksaan awal, kamu punya kewajiban etis untuk melaporkannya. Tapi pikirkan baik-baik. Melaporkan salah alih kolega berarti membuka kotak yang sulit ditutup. Pertama, kamu mungkin tidak akan dipercaya, karena siapa kamu, juru bahasa yang datang belakangan, menuduh terjemahan resmi. Kedua, kamu bisa membuat dirimu dipersoalkan, dianggap terlalu dekat dengan klien, terlalu mau ikut campur. Ketiga, kalau ternyata kamu salah menduga, kamu sudah merusak reputasi kolega dan dirimu sendiri tanpa hasil. Tapi kalau kamu benar dan kamu diam, seorang Tuli akan dihukum atas kata-kata yang tidak pernah benar-benar ia ucapkan.
Keempat juru bahasa itu diam lagi, dan dalam keheningan visual itu Gayatri merasakan solidaritas profesi mereka, tapi juga batasnya. Mereka bisa berbagi glosarium, bisa berbagi nyeri sendi, tapi keputusan ini hanya miliknya, karena hanya ia yang ada di perkara Sigit.
Malam itu, setelah panggilan ditutup dan keempat kotak padam, Gayatri duduk lama di depan ponselnya yang gelap. Ia membayangkan Sigit di kiosnya, memperbaiki radio, menunggu pemilik barang yang tak kunjung datang, tidak tahu bahwa di suatu siang yang panas, di ruang tanpa jendela, sepasang tangan yang tidak terlatih telah menerjemahkan hidupnya dengan keliru, dan bahwa keliru itu kini punya nomor register dan tanda tangan dan kekuatan untuk menghukum. Kaca bening, pikirnya pahit. Sigit tidak butuh kaca bening. Sigit butuh seseorang yang berani mengakui bahwa kaca yang lain telah retak, dan retakan itu membengkokkan seluruh cahaya yang lewat.