Telepon itu datang pukul empat sore, di jam ketika Gayatri biasanya mulai membereskan meja dan memikirkan makan malam. Nomor dari sektor yang belum pernah ia layani. Suara di ujung sana cepat, sedikit tak sabar—ada pemeriksaan, seorang anak muda yang Tuli, mereka butuh juru bahasa malam ini kalau bisa, jangan sampai berkasnya menggantung.
Setahun lalu ia akan menjawab ya sebelum kalimat penelepon selesai. Kini ada jeda kecil, sepersekian embusan napas, di mana ia menimbang bukan apakah ia sanggup, melainkan bagaimana ia akan berada di ruangan itu. Ia menanyakan satu hal yang dulu tak pernah ia tanyakan: apakah anak itu didampingi CDI. Diam sebentar di seberang. "Yang apa?" Lalu tawa pendek yang tak berniat kasar. "Ada Mbak saja sudah cukup, kok. Anaknya kooperatif."
Ia berangkat.
Ruang keterangan itu sempit, dindingnya dicat warna telur asin yang sudah memudar, dan bau kopi instan tercampur asap rokok yang menempel di gorden. Anak muda itu—namanya Ferdy, sembilan belas tahun, kurus dengan jaket yang kebesaran—duduk di kursi seberang meja, tangannya terkatup di pangkuan seolah menahannya agar tidak bicara lebih dulu. Ketika Gayatri masuk dan mengangkat tangan, memperkenalkan diri dalam BISINDO, mata anak itu berpindah cepat ke wajahnya, dan ada sesuatu yang Gayatri kenali di sana. Bukan lega. Sebuah perhitungan. Menakar apakah perempuan yang baru datang ini akan menjadi jembatan atau menjadi tembok lain.
Perkaranya, sejauh yang bisa ia rangkai dari lembar di meja, tentang perkelahian di depan sebuah minimarket. Seseorang jatuh, kepalanya membentur trotoar, kini dirawat. Polisi ingin tahu satu hal yang terdengar sederhana: siapa yang mendorong lebih dulu.
Dan di situlah, ketika Ferdy mulai bercerita, Gayatri merasakan tanah bergeser di bawahnya.
Anak itu mengisyaratkan ruang di antara mereka. Ia menempatkan dua tokoh di udara—dirinya di sini, orang yang satu lagi di sana—lalu tangannya bergerak, sebuah klasifikator untuk tubuh yang oleng, arah yang berbalik, sentuhan yang entah dorongan entah tangkisan. Isyarat itu tidak mengatakan siapa memulai. Isyarat itu menggambarkan sebuah kekacauan di mana dua tubuh bertaut dan gravitasi mengambil alih. Penempatannya bisa dibaca dua arah. Peran agen dan pasien di dalamnya menggantung, tak terpaku.
Persis. Persis bentuk bahaya yang sama.
Sesuatu di dada Gayatri menegang, batu lama yang ia kira sudah ia letakkan. Ia mengenal godaan yang mengikuti bentuk itu—godaan untuk merapikan. Untuk mengambil kekacauan tiga dimensi itu dan menuangkannya ke dalam satu kalimat lisan yang bersih, berpunya subjek dan predikat, yang bisa langsung diketik dan ditandatangani. "Dia mendorong korban lebih dulu." Betapa mudahnya. Betapa kalimat itu akan menyenangkan semua orang di ruangan ini kecuali anak yang membuat isyaratnya.
Penyidik di ujung meja mengetuk pena. "Gimana, Mbak? Dia ngaku dorong duluan, kan?"
Dulu, di ruangan yang lain, dengan pemuda yang lain, ia telah menjawab pertanyaan seperti itu dengan mengangguk dan menyulih. Ia tahu sekarang harga anggukan itu, dan harga itu masih dibayar oleh seseorang di dalam sel.
"Belum tentu, Pak," kata Gayatri. Suaranya tenang, tapi ia mendengar sendiri betapa asing keteguhannya di ruangan sesempit itu. "Isyarat yang dia buat menunjukkan dua orang berbenturan. Arah dorongnya belum jelas siapa yang memulai. Ini isyarat ruang—penempatannya bisa ditafsir lebih dari satu cara."
Penyidik itu mengernyit, seakan ia baru saja menyulitkan sesuatu yang seharusnya lurus. "Maksudnya gimana bisa dua cara? Tanya lagi, dong. Dia dorong atau enggak."
"Kalau saya paksa jadi satu kalimat sekarang," ujar Gayatri, dan ia merasakan tiap kata seperti melangkah di atas es yang ia sendiri tak yakin setebal apa, "saya akan menaruh kata yang tidak dia ucapkan. Yang lebih aman, saya catat bahwa keterangannya di titik ini ambigu. Dan sebaiknya ada CDI—penerjemah Tuli—yang mendampingi supaya penggambaran ruangnya terbaca utuh."
Ia melihat wajah Ferdy sekilas. Anak itu tak sepenuhnya menangkap kata-kata lisan yang berputar di atas kepalanya, tapi ia menangkap sesuatu yang lebih tua dari kata: bahwa perempuan ini, untuk sekali ini, berhenti dan tidak buru-buru mengubahnya menjadi orang bersalah. Bahu Ferdy yang tadi terkunci turun sedikit. Hanya sedikit. Cukup untuk membuat dada Gayatri terasa penuh dan perih sekaligus.
"Mbak," kata penyidik itu, nadanya melunak jadi bujukan yang lebih melelahkan daripada bentakan, "kita udah malam. Korbannya di rumah sakit. Atasan saya nanya terus. Mbak sertifikat, kan? Mbak yang ngerti bahasa isyarat, ya Mbak yang bilang aja artinya apa. Jangan dibikin ribet."
Di sana, dalam kalimat itu, Gayatri mengenali seluruh sistem yang pernah menelan Damar. Bukan kejahatan. Bukan niat buruk. Hanya lelah, jam yang larut, atasan yang menagih, dan kepercayaan yang keliru bahwa orang yang menguasai sebuah bahasa berhak memampatkannya menjadi apa pun yang paling praktis. Kepercayaan yang dulu ia terima sebagai pujian.
Ia menarik napas. Ia tahu apa yang menanti di ujung sikap ini: penyidik yang kesal, proses yang molor, mungkin telepon dari sektor yang tak akan memanggilnya lagi. Ia tahu pula ongkos yang lain, ongkos yang telah ia hitung berlembar-lembar di kamarnya, di malam-malam ketika ia tak bisa tidur. Antara dua ongkos itu, kini ia sudah tahu mana yang tak sanggup ia bayar dua kali.
"Justru karena saya yang ngerti, Pak," katanya pelan, "saya yang harus bilang kalau ada yang belum jelas. Itu bagian dari kerjaan saya. Bukan bikin ribet—bikin benar."
Penyidik itu menyandarkan punggung, memandanginya dengan campuran heran dan tak percaya, seakan menimbang apakah perempuan di depannya ini keras kepala atau sekadar merepotkan. Pena berhenti mengetuk. Di luar, lampu koridor berdengung. Dan Gayatri duduk di kursi itu, di ruang telur asin yang memudar, menyadari bahwa etika yang ia tempa dalam kesunyian kini tak lagi menjadi gagasan yang ia timang di kepala. Ia menjadi hal yang harus ia pertahankan, kalimat demi kalimat, di hadapan orang yang lebih suka ia diam.
Ferdy menatapnya, menunggu. Malam masih panjang, dan ujiannya baru saja dimulai.