Ruang rapat kecil di kantor Pram berbau kopi yang sudah dingin dan kertas yang terlalu sering difotokopi. Di meja panjang itu tergelar map-map dengan label yang ditulis tangan, tumpang tindih seperti kartu yang menunggu dibagi. Gayatri duduk di ujung, memegang gelas yang tak ia minum, sementara Pram membuka lembar penjadwalan dari pengadilan dan meletakkannya menghadap ke arahnya.
"Majelis menetapkan agenda," kata Pram. Jarinya menyusuri baris tanggal. "Pembukaan, lalu pemeriksaan saksi ahli, baru kesaksianmu. Mereka menaruhmu belakangan. Itu disengaja."
Gayatri memandang deretan tanggal itu seolah membaca isyarat yang penempatannya keliru. "Kenapa belakangan?"
"Supaya kau mendengar semua yang dibangun jaksa lebih dulu. Supaya saat kau naik, kau sudah lelah, dan setiap kata yang keluar bisa ditimbang dengan yang sudah terlanjur diucapkan orang lain." Pram mengangkat bahu, tanpa dramatisasi, seperti orang menyebut cuaca. "Prosedur punya tata ruangnya sendiri. Siapa duduk di mana, siapa bicara kapan. Kau lebih paham soal itu daripada aku."
Ia paham. Terlalu paham. Seumur hidup ia menakar bagaimana posisi dan urutan mengubah makna, dan sekarang urutan itu dipasang di sekelilingnya, bukan di tangannya.
Pram menggeser satu map lagi. Di dalamnya daftar nama, sebagian sudah ia kenal. Ahli linguistik Tuli yang dilibatkan sejak rekaman dibuka. Seorang CDI yang bersedia hadir. Damar, tercantum sebagai saksi yang akan memberi keterangan sendiri. Melihat nama Damar di kolom itu, ditulis rapi seolah nama biasa, dada Gayatri menegang pelan.
"Daftar kita sudah masuk," kata Pram. "Tapi daftar mereka juga sudah masuk. Dan di situ ada yang perlu kau tahu."
Ia menyodorkan selembar salinan. Gayatri membacanya sekali, lalu sekali lagi, lebih lambat. Bukan nama Damar yang membuatnya berhenti. Melainkan nama-nama lain: dua rekan seprofesinya, seorang pejabat asosiasi, dan sebuah frasa di catatan pinggir yang ditulis panitera dengan tinta buram — perihal integritas dan konsistensi juru bahasa.
"Mereka tak lagi menyerang isyarat Damar," Gayatri berkata pelan. Ia mengerti sekarang. "Mereka menyerang aku."
"Mereka menyerang kredibilitasmu." Pram tidak melunakkannya. "Kalau majelis percaya terjemahan pertama keliru, banding menang. Jadi jaksa tak akan berdebat soal klasifikator — itu tanah yang kalah buat mereka. Mereka akan bikin majelis bertanya: kalau penerjemah ini bisa salah dulu, kenapa kita percaya dia benar sekarang? Kalau ia mengaku sendiri terjemahannya cacat, bukankah itu justru bukti ia tak bisa diandalkan — dulu maupun sekarang?"
Kalimat itu mendarat seperti batu yang sudah lama ia rasakan di dada, kini disuarakan orang lain dengan tenang. Ironi yang licin: kejujurannya akan dipakai untuk membatalkan kejujurannya.
"Mereka sedang mengumpulkan rekam jejakku," kata Gayatri.
"Setiap penugasan yang bisa mereka gali. Setiap kali kau mengoreksi diri di ruang sidang, setiap keterangan yang pernah diperdebatkan, sekecil apa pun." Pram menutup map itu. "Kalau ada satu saja kasus lama tempat pilihan katamu bisa dibilang berat sebelah, mereka akan memajangnya. Bukan untuk membuktikan kau jahat. Untuk membuat majelis merasa lelah memercayaimu."
Gayatri teringat berkas-berkas lamanya yang belakangan ia buka sendiri, malam demi malam, dan tempat-tempat kecil di mana ia kini melihat tangannya sendiri membentuk makna. Ia sudah mengakui itu pada dirinya. Tapi di ruang majelis, pengakuan itu bukan milik pribadi lagi. Ia akan jadi amunisi.
"Wulan bilang kita harus menyiapkan bantahan lebih dulu," lanjut Pram. "Menaruh konteks sebelum jaksa sempat memelintirnya. Rani—" ia berhenti sejenak, memilih kata, "—Rani tak akan bersaksi untuk kita. Kau tahu itu."
"Aku tahu." Suaranya datar. Ia sudah berhenti berharap dari arah itu, meski luka retak antara mentor dan murid belum berhenti berdenyut. "Apakah asosiasi mengirim orang?"
"Nama pejabat itu ada di daftar jaksa, bukan daftar kita." Pram membiarkan kalimatnya menggantung. Tak perlu ditambah apa-apa. Pemeriksaan etik yang sedang berjalan atas dirinya dan sidang ulang ini kini menyatu jadi satu tekanan; institusi yang mestinya menaunginya justru menyerahkan pisaunya pada seberang meja.
Mereka mengerjakan strategi sampai kopi benar-benar dingin. Pram menjelaskan urutan yang ia rencanakan: ahli lebih dulu, membangun bahwa isyarat ruang memang bisa dibaca lebih dari satu cara, sehingga saat Gayatri naik, ia tak berdiri sebagai penuduh diri sendiri, melainkan sebagai orang yang menerangkan sebuah mekanisme. "Kau bukan mengaku kau bodoh," kata Pram. "Kau menerangkan bagaimana sistem tanpa CDI membuat orang paling cakap pun bisa keliru. Itu beda posisi. Jaksa akan berusaha menyeretmu kembali ke posisi pertama."
"Karena posisi pertama membuatku mudah dijatuhkan," Gayatri menyelesaikan.
Pram mengangguk. "Dan kau tak boleh terpancing membela diri. Begitu kau membela diri, kau kalah, karena kau jadi tampak seperti orang yang menyelamatkan reputasi. Yang kita butuhkan justru sebaliknya."
Gayatri tahu apa yang tak diucapkan Pram. Yang mereka butuhkan adalah kejujuran yang tak melindungi apa pun — bukan sikap gagah, bukan pula rasa bersalah yang berlebihan yang bisa dijadikan bukti ketakstabilan. Sesuatu di tengah yang belum punya nama, yang selama berbulan-bulan ini ia coba tempa sendiri, sekarang harus ia bawa ke ruang yang dirancang untuk mengujinya di titik paling rapuh.
Di luar jendela, sore turun pelan ke atap-atap kota. Gayatri mengumpulkan salinan-salinan yang boleh ia bawa dan meninggalkan yang tidak. Sebelum pergi, matanya sekali lagi jatuh ke daftar saksi jaksa, ke frasa di pinggir halaman itu.
"Mereka sudah tahu aku akan bicara," katanya, lebih pada diri sendiri.
"Mereka tahu," jawab Pram. "Sekarang mereka sedang menyiapkan supaya suaramu tak berarti apa-apa saat kau bicara."
Gayatri memasukkan map ke tasnya. Tangannya, ia sadari, tidak gemetar. Bukan karena ia tak takut. Melainkan karena ketakutan itu kini punya bentuk yang jelas, punya tanggal, punya nama-nama di atas kertas — dan sesuatu yang berbentuk, betapapun beratnya, lebih bisa ia hadapi daripada batu tak bernama yang selama ini mengendap di dadanya.