Bagas membuka pintu sebelum Gayatri sempat mengetuk untuk kedua kalinya. Ia pasti merasakan getar langkah kakaknya di lantai kayu, atau melihat bayangannya lewat kaca buram di samping kusen. Untuk sesaat mereka hanya berdiri, dua orang yang tumbuh di rumah yang sama namun kini dipisahkan sesuatu yang tak punya nama tunggal.
Adiknya mengangkat dagu, isyarat masuk yang paling pendek yang pernah ia buat. Gayatri melepas sepatu. Meja kecil di ruang tengah masih menyimpan cangkir teh Bagas yang setengah kosong, layar tablet menyala menampilkan pesan-pesan grup yang tak sempat ia sembunyikan. Gayatri memilih tidak membacanya.
*Duduk,* Bagas mengisyaratkan. Tangannya lelah, bukan marah. Itu yang paling menusuk. Kemarahan bisa diadu, tetapi kelelahan hanya bisa ditunggu.
Mereka duduk berhadapan. Gayatri meletakkan tangannya di pangkuan, lalu di meja, lalu di pangkuan lagi, seolah tak tahu di mana tangan yang dulu menerjemahkan ratusan percakapan boleh diletakkan di depan adiknya sendiri.
*Aku tidak datang untuk minta maaf lagi,* akhirnya ia mengisyaratkan. Ruang di depan dadanya terasa sempit, klasifikator yang biasa mengalir kini tersendat. *Kau sudah dengar maafku berkali-kali. Aku datang karena ingin bertanya sesuatu, dan aku ingin kau jujur.*
Bagas menyipitkan mata. *Tanya.*
*Waktu kita kecil,* tangan Gayatri melambat, memilih setiap tanda, *aku selalu merasa aku pintu bagimu. Ke dokter, ke sekolah, ke tetangga yang tak mau repot belajar isyarat. Aku bangga jadi pintu itu. Tapi belakangan aku sadar—* ia berhenti. *Mungkin aku tidak pernah tanya, kau mau pintu atau tidak.*
Sesuatu bergeser di wajah adiknya. Bukan luluh, belum. Tapi bergeser.
*Kau ingat Pak Har?* Bagas balas bertanya. *Guru yang bilang aku beruntung punya kakak dengar?*
Gayatri mengangguk. Ia ingat betul. Ia bahkan pernah mengulang kalimat itu dengan bangga di depan cermin, sebelas atau dua belas tahun, merasa dirinya penting.
*Aku benci kalimat itu,* Bagas mengisyaratkan, dan tangannya tajam sekarang. *Bukan karena kau. Karena mereka bicara seakan aku setengah, dan kau yang melengkapi. Seakan tanpamu aku tidak utuh.* Ia menepuk dadanya sendiri, keras. *Aku utuh, Tri. Aku selalu utuh. Kau bukan setengahku yang hilang. Kau kakakku.*
Gayatri menahan napas. Di ruang keterangan, di sidang-sidang, ia terlatih untuk tidak bereaksi—netralitas yang ditempa Rani sampai jadi tulang. Tetapi di sini, di depan adiknya, netralitas itu tak berguna, bahkan hina. Matanya panas.
*Aku tahu sekarang,* isyaratnya nyaris berbisik, kalau tangan bisa berbisik. *Aku tahu terlalu terlambat. Aku merender Damar seperti Pak Har merender kau. Aku ubah dia jadi setengah. Aku ambil ruang isyaratnya, klasifikatornya, dan aku bikin jadi kalimat yang tidak dia maksud, karena aku pikir aku tahu maksudnya lebih baik dari dia.*
Untuk pertama kali sejak ia masuk, Bagas tidak langsung membalas. Ia menatap tangan kakaknya, tangan yang sama yang dulu mengeja namanya pelan-pelan di ranjang saat mati lampu, tangan yang mengajarinya bahwa dunia bisa disentuh meski tak bisa didengar.
*Komunitas marah padamu,* Bagas mengisyaratkan pelan. *Sekar marah. Dan aku terjepit di tengah, semua orang minta aku memilih. Kau tahu betapa capeknya itu? Orang-orang yang seharusnya rumahku, menuntut aku pilih antara rumah dan darah.*
*Maaf,* Gayatri membentuk tanda itu, lalu menurunkan tangan. Kata itu terlalu kecil dan ia sudah berjanji tidak memakainya lagi.
*Jangan minta maaf untuk itu.* Bagas menggeleng. *Aku tidak mau kau minta maaf sudah jadi kakakku. Aku mau kau mengerti sesuatu.* Ia mencondongkan badan. *Kau bukan penyelamat Damar. Jangan pernah pikir begitu. Kalau kau bersaksi nanti untuk jadi pahlawan yang menebus dosa, kau cuma bikin dia jadi setengah lagi—kali ini setengah yang kau selamatkan.*
Kalimat itu mendarat seperti telapak dingin di tengkuk. Gayatri terdiam. Bagas menyuarakan, dengan tangan, apa yang selama berminggu-minggu ini menggerogotinya tanpa bentuk.
*Lalu untuk apa aku bersaksi?* tanyanya jujur, tanpa pura-pura sudah tahu jawabannya.
*Karena tanganmu yang keliru,* Bagas menjawab tanpa ragu. *Bukan untuk menyelamatkan Damar. Untuk jujur soal tanganmu sendiri. Bedanya besar, Tri. Yang satu bikin kau pusat cerita. Yang satu bikin kau cuma orang yang berani mengaku.*
Di luar jendela, motor tetangga lewat, deru yang tak sampai ke telinga Bagas tetapi menggetarkan kaca. Gayatri merasakannya juga, di lantai, di kaki. Untuk sekejap ia iri pada adiknya yang tak pernah harus mendengar hal-hal yang tak ia minta.
*Kau tahu apa artinya jadi orang dengar di dunia kalian?* ia bertanya, dan pertanyaan itu tulus, bukan retorik. *Aku pikir aku tahu. Sekarang aku tidak yakin.*
Bagas tersenyum kecil, senyum pertama sepanjang sore ini, tipis dan letih dan hangat.
*Artinya kau tamu yang dipercaya,* isyaratnya. *Bukan pemilik. Tamu yang tahu adab. Yang tidak menata ulang perabot rumah orang dan menyebutnya menolong.* Ia berhenti. *Kau lupa itu di kasus Damar. Kau bertindak seperti pemilik makna. Tapi kau bisa jadi tamu yang baik lagi. Aku masih percaya itu.*
*Masih?* Gayatri mengulang tanda itu, hampir tak berani.
*Masih.* Bagas mengangguk. *Kau kakakku. Kepercayaan bisa retak tanpa harus pecah.*
Ia mengambil cangkir teh yang setengah kosong, meminumnya, lalu mengisyaratkan ke dapur—tawaran membuat teh baru, ritual paling tua di antara mereka, kalimat rukun tanpa kata rukun. Gayatri bangkit mengikutinya. Di dapur sempit itu, di antara uap dan tangan-tangan yang bergerak lebih ringan sekarang, ia tidak merasa telah diampuni sepenuhnya.
Tetapi ia merasa, untuk pertama kali sejak Bab-bab kelam itu, ada satu orang di dunia yang tetap memandangnya utuh—dan yang menuntutnya memandang Damar dengan cara yang sama.