Pagi itu tugasnya sederhana. Seorang perempuan Tuli, Bu Marni, mengurus perpanjangan kartu jaminan kesehatan di loket kelurahan, dan Gayatri hanya perlu menjembatani antara ibu itu dan petugas yang bicara cepat sambil terus mengetik. Tak ada aparat, tak ada berkas dakwaan, tak ada apa pun yang bertaruh lebih besar dari selembar kartu plastik. Dulu tugas semacam ini ia jalani sambil separuh melamun; tangannya bergerak sendiri, seperti orang menutup pintu tanpa menoleh ke gagangnya.
Sekarang ia menoleh ke gagangnya.
"Ibu harus datang lagi kalau berkasnya kurang," kata petugas. Nadanya datar, sedikit jengkel. Gayatri mengangkat tangan—dan pada jeda sepersekian detik sebelum tanda pertama, ia menyadari ia sedang memilih. Ia bisa merender kalimat itu apa adanya: dingin, sedikit menghardik. Ia bisa melunakkannya dengan ekspresi wajah yang lebih ramah dari suara petugas, menaruh register yang sebetulnya tak ada. Ia bisa memerinci "berkasnya kurang" menjadi daftar yang tak pernah diucapkan siapa pun. Tiga kemungkinan. Tiga Gayatri yang berbeda. Dan Bu Marni tak akan pernah tahu yang mana yang ia terima pagi itu.
Ia memilih yang tengah, dan menyebutnya netral. Tapi kata itu kini terasa seperti mantra yang sudah kehilangan jampinya.
Bu Marni mengangguk, tersenyum, membalas dengan tanda terima kasih yang cepat dan tulus—jari menyentuh dagu, lalu turun—dan pergi membawa keyakinan bahwa ia telah mendengar petugas persis seperti adanya. Gayatri membalas senyum itu. Di dadanya ada sesuatu yang tidak enak, bukan rasa bersalah, melainkan sesuatu yang lebih tenang dan lebih mengerikan: kejernihan.
Sepulang dari kelurahan, ia tak langsung naik angkot. Ia duduk di halte dan membiarkan dua bus lewat. Dari dalam tas ia mengeluarkan buku catatan lama—daftar padanan yang ia susun bertahun-tahun, gloss kecil untuk hal-hal yang sulit: nama penyakit, nama pasal yang ia biarkan tak diterjemahkan, nama perasaan yang tak punya satu tanda baku. Ia membuka halaman secara acak. Di margin, dengan tinta yang mulai memudar, ada tulisan tangannya sendiri dari entah berapa tahun lalu. Pilih yang paling umum.
Dulu ia bangga pada catatan itu. Bukti kepraktisan seorang profesional yang tahu bahwa ragu-ragu di tengah sesi hanya membuat semua orang menunggu. Kini ia menatap tiga kata itu dan menyadari bahwa "paling umum" tak pernah sungguh umum. Itu selalu pilihannya. Yang paling sering ia dengar, yang paling nyaman di tangannya, yang paling sesuai dengan dunia tempat ia tumbuh sebagai orang dengar. Ribuan kali, di ribuan sesi, ia telah memilih—dan menyebut pilihan itu ketiadaan pilihan.
Itulah yang mengendap. Bukan Damar. Damar hanya tempat air itu akhirnya bening cukup lama sehingga ia bisa melihat dasarnya.
Ia mencoba mengingat satu sesi saja di sepanjang kariernya yang benar-benar bersih dari tangannya. Satu saja, di mana ia hanya saluran, kaca, udara yang dilalui makna tanpa dibelokkan. Ia tak menemukannya. Setiap kali makna melewatinya, ia meninggalkan jejak: pemilihan kata, kecepatan, di mana ia menaruh jeda, bagian mana yang ia perjelas karena ia pikir orang perlu tahu, bagian mana yang ia biarkan karena ia pikir tak penting. Penilaian di setiap detik. Dan penilaian adalah dirinya.
Rani akan bilang itu berlebihan. Kita menyampaikan, bukan membentuk; kalau kau mulai meragukan tiap kata, kau tak akan bisa bekerja. Wulan akan bilang justru itulah intinya: karena kau membentuk, tandai; karena tanganmu terlihat, jangan pura-pura tak ada. Untuk pertama kalinya Gayatri merasa keduanya sedang menjawab pertanyaan yang salah. Bukan soal seberapa banyak ia boleh ikut campur. Soal bahwa ia tak pernah bisa tidak ikut campur, dan seluruh profesinya—sertifikat yang tergantung di dinding kamarnya, kode etik yang ia hafal, kata "netralitas" yang ia ucapkan pada setiap klien baru dengan nada meyakinkan—berdiri di atas kesepakatan diam-diam untuk berpura-pura sebaliknya.
Ilusi itu bukan kebohongan. Ia mulai paham bedanya sambil menatap aspal yang berkilau kena matahari. Kebohongan tahu dirinya bohong. Ilusi dipercaya oleh orang yang menyebarkannya. Ia telah percaya. Bertahun-tahun ia berdiri di ruang-ruang penting, tangannya bergerak, dan ia sungguh-sungguh yakin bahwa yang keluar dari tangannya adalah kebenaran orang lain, utuh, tak tersentuh. Kartu identitasnya menyebut dirinya jembatan. Ia baru mengerti bahwa jembatan pun punya bentuk, dan bentuk itu menentukan siapa yang bisa menyeberang.
Ponselnya bergetar. Bagas. Kakak, nanti malam ada yang mau dititipin ke rumah, tolong bukain pintu ya. Pesan biasa, huruf-huruf biasa, dunia yang terus berjalan tak peduli pada apa yang baru saja runtuh di sebuah halte. Gayatri mengetik iya, dan berhenti sebelum mengirim. Bahkan ini, pikirnya. Bahkan "iya" yang ia kirim pada adiknya membawa nada yang ia pilih. Ia menghapusnya, menggantinya dengan siap, komandan, lalu mengirim—memilih kehangatan, seperti selalu, karena ia mencintai adiknya dan ingin kata itu terasa hangat.
Ia hampir tertawa di halte itu. Tawa yang tak lucu. Tak ada tempat, ternyata, di mana ia bisa berdiri dan tidak menjadi seseorang.
Bus ketiga datang. Kali ini ia naik. Ia duduk di dekat jendela, buku catatan masih terbuka di pangkuannya pada halaman bertinta pudar itu, dan untuk waktu yang lama ia tak menutupnya. Ia tidak sedang memutuskan apa pun. Keputusan-keputusan besar sudah menunggunya di tempat lain, di ruang majelis yang belum bertanggal, di meja asosiasi yang sedang menimbang sertifikatnya. Yang terjadi di bus itu lebih kecil dan lebih permanen: ia tak akan pernah lagi bisa mengangkat tangannya dan berpura-pura bahwa tangan itu kaca.
Di luar jendela, kota bergerak. Di dalam, seorang perempuan menatap tiga kata yang ia tulis untuk dirinya yang dulu, dan diam-diam mulai menulis ulang seluruh hidupnya di sekitar kalimat yang belum ia temukan bunyinya.