Hujan turun tipis ketika Gayatri menunggu nomor antrean di apotek dekat stasiun, dan seorang perempuan di kursi seberang menatapnya terlalu lama untuk disebut kebetulan. Perempuan itu mengangkat tangan, ragu, lalu membentuk sesuatu yang Gayatri kenali sebelum otaknya sempat menamai wajahnya: isyarat nama. Sebuah tanda kecil di pelipis, gerak yang dulu diberikan komunitas untuk seseorang yang rambutnya selalu tersibak ke satu sisi.
Laras. Gayatri hampir tak percaya ingatannya masih menyimpannya.
Mereka pindah ke sudut yang lebih sepi, di samping rak vitamin, dan bicara dengan tangan di antara dua tubuh yang basah oleh gerimis. Laras bertanya apakah Gayatri masih bekerja di ruang-ruang itu — ruang rapat, ruang periksa, ruang yang membuat orang gugup. Gayatri mengangguk, dan sesuatu di dadanya menegang, sebab akhir-akhir ini setiap pertanyaan tentang pekerjaannya terasa seperti tuduhan yang belum diucapkan.
Tapi Laras tidak menuduh. Ia justru tersenyum lebar, menepuk dadanya sendiri, lalu mengisyaratkan cerita yang sudah bertahun-tahun lampau. Bank. Pinjaman untuk warung kelontongnya. Gayatri yang menjembatani.
Gayatri ingat samar-samar: meja tinggi, petugas yang bicara terlalu cepat, formulir yang dijejali istilah. Ia tidak ingat merasa istimewa hari itu. Ia hanya bekerja.
Laras menceritakannya berbeda. Petugas itu, katanya, bertanya dengan nada yang seakan sudah memutuskan untuk menolak. "Untuk apa uangnya?" Laras menjawab dalam BISINDO, cepat dan penuh, dengan isyarat ruang yang menata warungnya di udara — rak di sini, etalase di sana, arus pembeli yang mengalir dari pintu. Bagi Laras itu rencana yang utuh. Tapi rencana yang utuh dalam isyarat ruang bisa jatuh menjadi kalimat lisan yang berantakan bila diterjemahkan mentah, dan petugas bank tak punya kesabaran untuk yang berantakan.
Gayatri, kata Laras, tidak menerjemahkannya mentah. Ia menata ulang. Ia memilih register yang tenang dan berurutan, memberi Laras kalimat yang terdengar seperti orang yang tahu persis apa yang ia kerjakan. Bukan menambah. Bukan mengarang. Hanya memilih — dari sekian cara yang benar, cara yang tidak membuat Laras terdengar seperti risiko.
Warung itu masih berdiri, isyarat Laras. Anaknya kuliah dari warung itu.
Nomor antrean Gayatri dipanggil. Ia hampir tak mendengarnya.
Di perjalanan pulang, di gerbong yang berbau hujan dan besi, Gayatri duduk dengan kantong obat di pangkuan dan pikiran yang tak mau diam. Selama berminggu-minggu ia menelaah kariernya seperti seorang jaksa atas dirinya sendiri, membongkar tiap kasus untuk menemukan di mana pilihan katanya diam-diam mencelakai. Ia begitu yakin bahwa yang tersembunyi selalu berupa luka. Ia tak pernah membalik kartunya.
Sampai di rumah, ia mengeluarkan buku catatan lama dari kardus di bawah tempat tidur. Tulisan tangannya sendiri dari bertahun silam, tanggal-tanggal, inisial klien, catatan kecil tentang istilah yang sulit. Ia membuka halaman demi halaman bukan untuk mencari kesalahan kali ini, melainkan untuk hal yang selama ini enggan ia akui: bahwa tangannya bergerak ke dua arah.
Ada seorang lelaki tua, ia ingat sekarang, di ruang gawat darurat. Dokter jaga bertanya di mana sakitnya, dan lelaki itu mengisyaratkan sesuatu yang klasifikatornya menunjuk dada, tapi bisa juga ulu hati — ambigu, sebagaimana tubuh yang kesakitan selalu ambigu. Gayatri, alih-alih memilih satu dan menutup kemungkinan lain, menyampaikan kedua kemungkinan kepada dokter, menandai bahwa isyaratnya bisa menunjuk dua tempat. Dokter memeriksa lebih teliti karena itu. Lelaki itu dirawat tepat waktu.
Waktu itu ia menyebutnya sekadar kerja yang benar. Kini ia tahu itu juga sebuah pilihan. Menandai ambiguitas, alih-alih memaksakan kepastian palsu, adalah tindakan — dan tindakan itu menolong.
Gayatri meletakkan buku itu di atas lututnya dan menatap dinding. Ia sadar apa yang tengah dilakukannya, dan itu membuatnya waspada. Ia tidak mau menghibur diri. Ia tidak mau mozaik kecil ini menjadi bantal empuk yang di atasnya ia bisa tidur dan melupakan Damar. Menolong Laras tidak menghapus apa yang terjadi pada pemuda itu. Dua neraca yang berbeda tidak bisa saling menutup.
Tapi ada sesuatu yang lebih sulit dan lebih jujur di balik semua ini, dan justru itu yang menetap.
Selama ini ia diam-diam percaya bahwa bila ia hanya cukup netral, cukup lurus, cukup tak terlihat, ia bisa menjadi kaca bening yang tak meninggalkan jejak pada apa pun yang melewatinya. Kesalahan pada Damar ia pahami sebagai kaca yang retak — kekhilafan, penyimpangan dari netral. Seolah ada versi dirinya yang, andai lebih hati-hati, tak akan pernah membentuk apa-apa.
Laras menghancurkan pengertian itu dengan senyum di apotek. Sebab jika tangannya membentuk hasil ketika ia menolong Laras, maka tangannya juga membentuk hasil di setiap ruang lain — termasuk yang menyelamatkan, termasuk yang mencelakai. Tak ada satu pun momen di mana ia sungguh netral. Yang selama ini ia sebut netralitas hanyalah pembentukan yang tak ia sadari. Kaca itu tak pernah bening. Kaca itu selalu punya lengkung, dan lengkung itu membelokkan cahaya ke satu sisi atau sisi lain, entah ia melihatnya atau tidak.
Itu tidak meringankan bebannya. Anehnya, itu memperberatnya dengan cara yang berbeda — bukan lagi beban rasa bersalah atas satu kekhilafan, melainkan beban tanggung jawab atas segala sesuatu. Bila ia selalu membentuk, maka ia tak pernah bisa bersembunyi di balik kata "aku hanya menyampaikan". Rani salah, dan Wulan juga tak sepenuhnya benar. Netralitas bukan tempat berlindung yang ia langgar sesekali. Netralitas adalah tempat yang tak pernah ada.
Ia menutup buku catatan. Di luar, hujan sudah berhenti, meninggalkan bunyi tetesan dari talang yang teratur seperti detik.
Gayatri memikirkan Laras yang kini tak akan pernah tahu bahwa warungnya berdiri di atas sebuah pilihan register. Dan ia memikirkan Damar, yang juga tak pernah memilih untuk hidupnya diikat pada tangan seseorang yang ia bahkan tak kenal. Keduanya bergantung padanya tanpa tahu. Itulah yang mengerikan sekaligus yang tak bisa ia tanggalkan dari pekerjaannya. Bukan bahwa ia kadang keliru. Melainkan bahwa ia selalu, tak terhindarkan, hadir.
Ia menyalakan lampu meja dan menarik map persiapan kesaksian ke hadapannya. Untuk pertama kalinya sejak berminggu-minggu, ia membukanya bukan dengan rasa takut sebagai satu-satunya isi dadanya.