Buku catatan tugasnya ada tujuh, tersusun di rak paling bawah, punggungnya pudar dari cokelat menjadi warna teh yang didiamkan semalaman. Gayatri tak pernah menyimpannya sebagai kenangan. Ia menyimpannya karena kode etik menyuruh mencatat—tanggal, tempat, para pihak, durasi—tanpa isi yang rahasia. Malam itu ia menariknya satu demi satu dan menumpuknya di meja, seperti orang menyusun bata untuk bangunan yang belum ia tahu bentuknya.
Ia membuka yang paling tua lebih dulu. Tulisannya dulu masih bulat-bulat, huruf orang yang baru lulus dan ingin terlihat rapi. RS —, Poli Anak, ibu Tuli, empat puluh menit. Ia ingat ruangan itu: bau alkohol, kipas yang berputar malas, seorang anak batuk di pangkuan ibunya. Dokter bicara terlalu cepat, berkata anak itu "kemungkinan besar" perlu dirawat. Gayatri, yang waktu itu bangga pada kecekatannya, telah memilih register yang lebih lunak—bukan salah kata, hanya menahan urgensi di ujung isyarat—karena ia tak tega ibu muda itu panik di kursi plastik. Ibu itu pulang tenang. Anak itu, ia dengar belakangan, baru dibawa kembali dua hari setelahnya.
Dulu ia mencatat tugas itu lancar. Sekarang, di bawah lampu meja yang sama tuanya dengan buku itu, kata "lancar" terasa seperti kain yang ditutupkan di atas sesuatu yang tak ingin ia tatap.
Ia menutup buku pertama. Ia bisa berhenti di sini, katanya pada diri sendiri. Satu kasus lama, satu ibu, satu keteledoran kecil yang mungkin tak mengubah apa-apa. Tapi tangannya sudah meraih buku kedua.
Halaman-halaman itu penuh singkatan yang hanya ia sendiri mengerti. Rapat sekolah, ayah Tuli, wali kelas, satu jam. Ayah itu marah—isyaratnya cepat, tajam, ruang di depan dadanya sesak oleh tekanan; ia menuduh sekolah membiarkan anaknya diejek. Gayatri ingat ia merapikannya. Ia merender amarah itu menjadi kalimat yang sopan, "Bapak keberatan dengan situasi ini," karena ia tahu dari pengalaman bahwa guru-guru menutup telinga pada orang tua yang dianggap kasar. Ia pikir ia sedang menolong. Rapat berakhir adem. Keberatan itu dicatat sebagai masukan ringan, lalu diarsipkan. Anak itu pindah sekolah semester berikutnya.
Ia menatap catatan singkat itu lama. Setiap kali, ia memilih. Untuk siapa kelunakan itu ia berikan, dan siapa yang kemudian menanggung akibat kelunakan itu.
Buku ketiga membuka pada sesuatu yang lebih membuatnya dingin. Kantor kelurahan, sengketa batas tanah, dua saksi Tuli. Salah satu saksi memperagakan bagaimana pagar dipindah—tangannya menggambar garis di udara, klasifikator untuk dinding rendah, arah dorongan, jarak. Gayatri, terdesak waktu dan petugas yang tak sabar, telah memadatkan peragaan itu menjadi satu kalimat lisan yang bersih: "Ia melihat tetangganya memindahkan pagar." Bersih. Terlalu bersih. Yang hilang adalah ketakpastian—saksi itu tak pernah benar-benar mengisyaratkan bahwa ia melihat siapa yang memindahkan, hanya bahwa pagar itu berpindah. Isyarat ruang menunjukkan peristiwa, bukan pelaku. Namun kalimatnya menaruh pelaku di sana, rapi, seolah pasti. Petugas mencatat kalimat bersih itu. Ia tak pernah tahu bagaimana sengketa itu berakhir, dan malam ini ketidaktahuan itu terasa seperti utang.
Ia duduk lama di antara tujuh buku yang terbuka, seperti seseorang yang baru sadar rumahnya berdiri di atas tanah yang selama ini ia kira padat. Bukan bahwa ia jahat. Bukan pula sembrono. Ia kompeten—dan justru itu yang paling menakutkan. Di dalam kompetensinya, dalam tiap pilihan halus yang ia buat demi kelancaran, demi kelunakan, demi menyelamatkan seseorang dari panik, ia telah membentuk makna. Ia tak pernah sekadar menyampaikan. Tak sekali pun, sepanjang tujuh buku ini.
"Netralitas selalu mitos," kata ahli linguistik itu di ruang persiapan tempo hari, seringan menyebut cuaca. Waktu itu Gayatri mengangguk seolah sudah paham. Baru malam ini kalimat itu turun dari kepalanya ke dadanya, dan ia rasakan bobotnya. Kalau memang mitos, maka Damar bukan pengecualian dalam kariernya. Damar hanya kasus yang kebetulan terbongkar. Yang lain—ibu di poli anak, ayah yang marah, saksi di kelurahan—diam di dalam buku, tak akan pernah ditinjau ulang oleh siapa pun kecuali dirinya, pada malam seperti ini.
Ia tidak menutup buku-buku itu. Ia membiarkannya menganga, halaman-halaman terbuka seperti mulut yang menunggu dijawab. Rani pasti bilang inilah bahayanya—menakar tiap kata lama dengan ukuran sekarang cuma akan melumpuhkan, dan seorang juru bahasa yang lumpuh tak berguna bagi siapa pun. Wulan pasti bilang inilah buktinya bahwa penerjemah harus menandai, selalu menandai, sebelum makna yang licin itu mengeras jadi vonis. Untuk sekali ini Gayatri tak berpihak pada salah satu dari keduanya. Ia hanya meraih pena yang tintanya hampir habis, membuka halaman kosong di belakang buku ketujuh, dan menulis satu baris, kecil, untuk dirinya sendiri: aku tak pernah cuma jembatan.
Lalu ia mematikan lampu, tapi tak beranjak dari kursi. Di gelap, ketujuh buku itu masih ada di meja, bau kertas tuanya masih naik pelan. Ia tahu esok ia akan membukanya lagi, dan lusa, dan bahwa membaca ulang seluruh kariernya tak akan mengembalikan satu pun dari mereka. Tapi ia juga tahu ia sudah tak bisa lagi berpura-pura tak melihat tangannya sendiri di tiap halaman.