Ruang seminar di lantai tiga fakultas itu berbau kopi instan dan kertas lama. Dr. Wardani menaruh laptopnya di meja depan, menyalakan proyektor, lalu duduk tanpa banyak basa-basi—perempuan berusia enam puluhan dengan kacamata yang selalu melorot dan cara bicara yang tenang seperti orang yang sudah lama berhenti tergesa. Pram mengeluarkan map berkas. Wulan duduk di sudut, mencatat sebelum apa pun dimulai. Gayatri memilih kursi paling belakang, seolah jarak beberapa meter bisa membuat apa yang akan dibahas terasa bukan tentang dirinya.
"Kita bukan sedang menyusun pembelaan," kata Wardani membuka. "Kita sedang menyiapkan keterangan ahli. Bedanya penting. Majelis tidak butuh saya bilang seseorang bersalah atau tidak. Majelis butuh saya tunjukkan bagaimana makna berpindah dari tangan ke suara—dan di titik mana perpindahan itu bisa keliru."
Ia mengklik. Di layar muncul potongan gambar diam: sebuah tangan berhenti di udara, jari membentuk konfigurasi yang Gayatri kenali seketika. Isyarat dari rekaman Damar. Bukan yang paling genting, hanya satu frasa di tengah keterangan.
"Bu Gayatri," kata Wardani tanpa menoleh tajam, hanya menawarkan. "Kalau ini muncul di ruang keterangan, tanpa konteks lain, Anda rendernya bagaimana?"
Gayatri menelan sesuatu di tenggorokannya. "Ia bergerak mendekat."
"Bu Wulan?"
"Sesuatu mendekatinya," jawab Wulan. "Arah datangnya dari luar, bukan darinya."
Wardani mengangguk seakan keduanya baru saja membuktikan sesuatu untuknya. "Dengar itu. Dua juru bahasa bersertifikat, satu isyarat, dua kalimat. Satu menaruh Damar sebagai pelaku gerak. Satu menaruhnya sebagai penerima. Keduanya bisa dipertahankan. Tidak ada yang bohong."
Ia membiarkan hening itu bekerja sebentar. Gayatri merasakan sesuatu yang aneh: bukan malu yang biasa datang, melainkan semacam pusing, seperti berdiri di lantai yang tiba-tiba diberitahu miring sejak awal.
"Orang mengira ada versi netral," lanjut Wardani. "Versi tanpa tafsir, yang tinggal disalin. Itu mitos. Bahasa isyarat memakai ruang sebagai tata bahasa. Penempatan, arah, siapa yang jadi titik acuan—itu bukan hiasan, itu strukturnya. Dan ruang tidak punya padanan otomatis dalam kalimat lisan yang runtut. Begitu Anda memilih subjek untuk kalimat Indonesia, Anda sudah memilih. Tidak ada tombol untuk tidak memilih."
Pram mencondongkan badan. "Jaksa akan bilang itu artinya juru bahasa mana pun bisa keliru, jadi kekeliruan spesifik dalam kasus ini tak istimewa. Bahwa tak ada yang bisa disalahkan."
"Justru sebaliknya." Wardani mengganti gambar. Sekarang ada dua kolom klasifikator, dua bentuk tangan yang mewakili benda dan gerak. "Kalau setiap render adalah pilihan, maka pilihan bisa dinilai. Ada yang lebih setia pada isyarat ruang, ada yang kurang. Yang buruk bukan karena juru bahasanya jahat, tapi karena ia merender sesuatu yang ambigu seolah tunggal—menutup pintu yang seharusnya dibiarkan terbuka. Itu yang bisa saya tunjukkan ke majelis. Bukan 'ini salah dan itu benar', tapi 'di sini ada dua pintu, dan notulen hanya mencatat satu, tanpa tanda bahwa ada yang lain.'"
Kata-kata itu mendarat di dada Gayatri seperti batu yang sudah lama ia genggam kini ditimbang orang lain di telapak terbuka. Selama ini ia membawa kekeliruannya sebagai noda pribadi, sesuatu yang tumbuh dari kecerobohannya sendiri, dari malam ketika ia terlalu yakin. Mendengar perempuan tua ini menyebutnya struktural—bukan pemaafan, ia tahu itu bukan pemaafan—membuat bebannya berubah bentuk. Bukan lebih ringan. Lebih besar, malah, karena kini ia paham ia bukan satu-satunya tangan yang bisa melakukannya, dan sistem yang membiarkannya melakukannya masih berdiri utuh di luar ruangan ini.
"Aku pernah diajari," kata Gayatri, suaranya keluar lebih pelan dari yang ia niatkan, "bahwa netralitas itu justru menjaga kami tidak mencelakai siapa pun. Kalau kami tidak menambah, tidak mengurangi, kami aman."
Wardani menoleh, dan untuk pertama kali tatapannya lembut. "Menambah dan mengurangi mengandaikan ada garis dasar nol untuk mengukur. Coba tunjukkan pada saya di mana nol itu, di isyarat tadi. Anda tidak bisa. Nol itu tidak ada. Yang ada adalah pilihan yang Anda tandai dan pilihan yang Anda diamkan seolah bukan pilihan. Netralitas bukan berdiri di garis nol. Netralitas adalah menyembunyikan bahwa Anda sudah melangkah."
Di sudut, Wulan berhenti mencatat. Gayatri tahu apa yang sedang menari di kepala gadis itu—inilah yang selama ini ia teriakkan, kini diucapkan bukan sebagai advokasi melainkan sebagai temuan, dingin dan terbukti. Tapi Gayatri juga melihat Wulan tidak menang-menangan. Ia hanya menunduk, seakan kalimat itu terlalu berat untuk dirayakan.
"Maka tugas keterangan saya sederhana," tutup Wardani, melepas kacamatanya dan mengusap lensa dengan ujung selendang. "Bukan menyalahkan Bu Gayatri. Menyalahkan orang lebih mudah dicerna majelis, dan lebih cepat dilupakan. Tugas saya lebih sulit: menunjukkan bahwa setiap terjemahan membentuk makna, selalu, tanpa kecuali—dan karena itu, sistem yang mengira terjemahan bisa dipercaya buta, tanpa CDI, tanpa tanda ambiguitas, tanpa rekaman untuk ditinjau, adalah sistem yang menanam kekeliruan lalu terkejut saat ia tumbuh."
Ia memasang kacamatanya kembali. "Itu tesis yang harus saya bawa sebagai bukti, Bu Gayatri. Bukan slogan. Bukti. Dan bukti itu, mau tak mau, hanya bisa berdiri kalau ada juru bahasa yang bersedia membiarkan tangannya sendiri diperiksa di depan orang banyak. Anda paham konsekuensinya."
Gayatri memandang layar, pada tangan diam yang membeku di udara sana—tangan Damar, atau bayangannya, terjebak di satu bingkai. Ia mengangguk. Ia paham. Ia sudah lama paham. Yang baru hanyalah ini: untuk pertama kalinya, apa yang ia rasakan seorang diri di kamar sunyi berbulan-bulan lalu kini punya nama yang bisa diucapkan di ruang bermeja panjang, dengan proyektor dan kopi instan, sebagai sesuatu yang benar—dan karena itu, sesuatu yang tak bisa lagi ia diamkan.