Ponsel Gayatri tak lagi berdering di jam-jam yang dulu ia hafal luar kepala. Pukul tujuh pagi biasanya berarti pesan dari koordinator penjadwalan — ruang mana, perkara apa, siapa yang meminta. Kini layar itu diam. Ia sempat mengira ada gangguan jaringan, sampai ia membuka grup penjadwal asosiasi dan tak menemukan lagi namanya di daftar anggota. Tak ada pengumuman, tak ada yang berpamitan. Hanya jumlah anggota berkurang satu, dan seorang admin yang, ketika ia tanya lewat japri, membalas satu baris: "Sementara ini dulu, Mbak. Sampai reda."
Reda. Kata itu, dari layar-layar berita yang masih menyebut kasus Damar dengan tajuk yang membuatnya meringis, terasa seperti janji yang tak seorang pun sungguh berniat menepatinya.
Ia meletakkan ponsel telungkup dan melanjutkan sarapan yang sudah dingin.
Pekerjaan tak sepenuhnya berhenti. Sore itu ada panggilan dari sebuah klinik di pinggir kota — bukan lewat asosiasi, melainkan lewat seorang perawat yang dulu pernah bekerja dengannya dan rupanya tak mengikuti berita. Seorang pasien Tuli, perempuan setengah baya, datang dengan keluhan yang berputar-putar, dan dokter muda yang salah menangkap arah ceritanya. Gayatri masuk, menata posisi duduk agar tangan pasien dan wajah dokter sama-sama terlihat, lalu mulai menjembatani.
Ia mengisyarat dengan tenang. Ketika perempuan itu memakai isyarat ruang untuk menunjukkan bagaimana nyerinya berpindah — dari perut menjalar ke punggung — Gayatri tak buru-buru merangkumnya jadi satu kalimat rapi. Ia menyampaikan apa adanya, menandai bahwa pasien menggambarkan gerak, bukan satu titik diam. Dokter mengangguk, mengubah pertanyaannya. Arah diagnosis bergeser.
Di ujung sesi, perempuan itu menyentuh lengan Gayatri, mengucap terima kasih dalam BISINDO, wajahnya lega. Sesederhana itu. Dan untuk beberapa menit, di ruang periksa berbau antiseptik itu, Gayatri ingat lagi mengapa dulu ia memilih pekerjaan ini — bukan untuk ruang sidang, bukan untuk tajuk berita, melainkan untuk saat ketika seseorang akhirnya dimengerti.
Ia menyimpan ingatan itu seperti orang menyimpan bekal untuk perjalanan panjang.
Yang lebih sunyi bukan telepon, melainkan rumah kedua. Undangan acara komunitas bulan ini tak pernah sampai ke ponselnya. Ia tahu acara itu ada — Bagas menyebutnya sekilas, lalu berhenti di tengah kalimat, seolah baru sadar ke mana kalimat itu menuju. Adiknya kini bicara padanya dengan hati-hati, memilih bahasan seperti orang memilih pijakan di batu licin. Gayatri tak memaksa. Ia tahu Bagas sedang berdiri di antara dua tepian, dan ia tak mau menambah berat di pundak adiknya.
Sekar belum membalas pesan terakhirnya. Sudah tiga minggu. Gayatri tak mengirim pesan keempat. Ada bentuk hormat, pikirnya, dalam membiarkan seseorang diam selama ia masih membutuhkan diam.
Rani meneleponnya sekali, malam itu. Bukan untuk berdamai. Suaranya datar, hampir lembut, yang justru membuatnya lebih menyakitkan. "Kamu masih bisa berhenti, Gayatri," katanya. "Beri keterangan tertulis saja sudah cukup mencederai kita semua. Kalau kamu naik ke ruang sidang, kamu tak cuma menjatuhkan dirimu. Kamu menjatuhkan setiap juru bahasa yang pernah aku latih untuk dipercaya."
Gayatri menutup mata. Ia masih menghormati perempuan itu, meski segalanya. "Bu Rani," katanya pelan, "kalau kepercayaan pada kita berdiri di atas satu terjemahan yang keliru, dan tak seorang pun berani mengoreksinya, mungkin kepercayaan itu memang harus goyah dulu."
Hening di seberang. Lalu sambungan diputus, tanpa salam.
Wulan menawarkan diri datang malam itu, membawa berkas, membawa semangat. Gayatri berterima kasih, tapi memintanya tidak. Bukan karena ia menolak bantuan — ia sudah belajar, dengan susah payah, bahwa ia tak sanggup menanggung semuanya sendirian. Ia masih menemui kelompok dukungannya tiap pekan; tangannya sudah lebih jarang gemetar saat mengisyarat. Tapi malam ini ia ingin sendiri dengan berkasnya.
Ia membuka map itu di meja. Transkrip lama, salinan rekaman keterangan, catatannya sendiri tentang isyarat ruang dan klasifikator yang dulu ia render jadi kalimat berniat. Ia sudah hafal tiap barisnya, tapi ia membacanya lagi, seperti orang meraba dinding di kamar gelap untuk memastikan ia masih tahu di mana pintunya.
Di luar, kota berjalan seperti biasa, tak peduli. Di grup yang dulu memuat namanya, orang-orang mungkin sedang membicarakannya. Di layar berita, wajah Damar mungkin masih jadi tontonan yang tak ia minta. Di rumah kedua yang kini menutup pintu, canda tangan berlangsung tanpa dirinya.
Ia menimbang semua itu, satu per satu, dan menemukan bahwa tak satu pun mengubah keputusannya.
Bukan karena ia merasa gagah berani. Ia tidak. Ia lelah sampai ke tulang, dan ia takut — takut pada ruang majelis, pada pemeriksaan silang yang sudah dijanjikan jaksa, pada kemungkinan bahwa semua ongkos ini akhirnya terbayar dengan kekalahan. Tapi di bawah rasa takut itu ada sesuatu yang lebih keras dan lebih tenang: ia tahu apa yang tangannya lakukan di ruang keterangan itu. Dan ia tak bisa lagi berpura-pura tak tahu.
Ia menutup map, meluruskan tepinya, dan mematikan lampu meja. Sendiri, ya. Tapi mantap. Besok masih ada yang harus disiapkan.