Panggilan IGD datang pada Sabtu sore, saat Gayatri sedang mengompres tangannya yang masih nyeri sisa pekan itu. Suara di telepon bergegas, perawat yang nadanya dipotong-potong oleh urgensi. "Mbak juru bahasa isyarat, ya? Bisa ke IGD sekarang? Ada pasien tunarungu, perlu tanda tangan persetujuan operasi, dokternya buru-buru, kondisinya darurat."
Gayatri sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai, jaketnya tersampir, kunci motor di tangan. Darurat adalah kata yang menghapus segala keluhan tentang sendi yang sakit.
IGD penuh dengan jenis kekacauan yang berbeda dari kantor polisi. Di sini cahayanya terlalu terang, baunya antiseptik, dan setiap orang bergerak seolah waktu adalah barang langka yang sedang menipis. Seorang perawat membawanya cepat ke balik tirai tempat pasien berbaring. Lelaki muda, mungkin dua puluh tujuh tahun, wajah pucat menahan sakit, satu tangan memegangi perut. Di sebelahnya seorang dokter jaga yang masih muda, lelah, dengan map persetujuan di tangan, dan ekspresi seseorang yang sudah menghadapi terlalu banyak hal sejak pagi.
"Akhirnya," kata dokter itu, namanya tertera dr. Hutama di papan namanya. "Mbak, tolong cepat ya. Ini usus buntu yang sudah mau pecah, kalau telat bisa peritonitis. Pasien harus tanda tangan persetujuan operasi sekarang. Tolong jelaskan ke dia bahwa dia harus operasi, ini demi keselamatannya, dan minta dia tanda tangan. Yakinkan dia, ya, Mbak, soalnya dari tadi dia gelisah."
Di sana, lagi, kata itu. Yakinkan. Sama seperti penyidik yang ingin Gayatri membujuk Sigit mengaku, kini dokter ingin Gayatri membujuk pasien menyetujui. Niat dr. Hutama baik, bahkan mungkin benar secara medis; usus buntu yang pecah bisa membunuh. Tapi tugas Gayatri bukan meyakinkan. Tugasnya menerjemahkan, supaya pasien sendiri yang memutuskan, dengan informasi yang utuh. Itulah jantung dari informed consent, persetujuan yang diberikan dengan paham, bukan persetujuan yang dipanen dari ketakutan dan ketidaktahuan.
Gayatri memposisikan dirinya agar pasien bisa melihat tangannya dengan jelas. Ia memperkenalkan diri. Saya juru bahasa. Saya akan menerjemahkan persis apa yang dokter katakan. Mata pasien, yang tadi liar ketakutan, menemukan tangannya dan langsung mengunci, sama seperti Sigit, kelaparan akan bahasa yang sama.
Gayatri mengalihkan kata-kata dr. Hutama dengan setia. Dokter mengatakan ada radang di usus buntu Anda, sudah parah, dan bisa pecah. Dokter mengatakan Anda perlu operasi sekarang untuk keselamatan Anda. Dokter meminta Anda menandatangani surat persetujuan. Ia tidak menambahkan satu pun bujukan dari dirinya sendiri. Ia tidak membuat wajahnya memohon. Ia menyampaikan urgensinya karena urgensi itu memang ada di kalimat dokter, tapi ia tidak menjual urgensi itu.
Dan pasien, alih-alih langsung mengangguk, bertanya. Tangannya bergerak, gemetar karena sakit tapi jelas. Operasi apa? Mereka akan memotong apa? Saya akan dibius? Bius itu, saya pernah dengar ada yang tidak bangun lagi. Berapa lama? Siapa yang akan mengoperasi? Saya tidak kenal dokter ini.
Pertanyaan-pertanyaan yang masuk akal. Pertanyaan yang akan ditanyakan oleh siapa pun yang dengar dan diberi waktu. Tapi pasien Tuli ini, sepanjang hidupnya, mungkin sudah terbiasa diperlakukan seolah pertanyaannya tidak penting, seolah ia tinggal manut saja pada keputusan orang dengar. Sekarang, untuk mungkin pertama kalinya, ada jembatan yang memungkinkannya bertanya. Dan ia bertanya.
Gayatri menyuarakan semua pertanyaan itu kepada dr. Hutama, tepat, satu per satu. Wajah dokter mengeras karena waktu yang ia rasakan sedang lari. "Mbak, ini bukan waktunya tanya jawab panjang. Setiap menit penting. Tolong bilang ke dia bahwa kalau dia tidak segera operasi dia bisa mati. Itu saja. Jangan diperpanjang."
Kalau dia tidak segera operasi dia bisa mati. Gayatri menelan kalimat itu dan menimbangnya dalam dua detik yang terasa seperti dua menit. Ada dua jalan. Pertama, ia menerjemahkan ancaman itu utuh dan, dengan tekanan yang melekat di dalamnya, mungkin pasien akan ketakutan dan langsung menandatangani tanpa pertanyaannya terjawab. Kedua, ia menyuarakan kalimat dokter, tapi juga menyuarakan pertanyaan pasien yang belum dijawab, memaksa dr. Hutama berhenti dan benar-benar menjawab, yang akan memakan detik-detik berharga.
Ia memilih kesetiaan penuh. Ia menerjemahkan kalimat dokter apa adanya, termasuk ancaman kematiannya, karena itu memang yang dokter katakan dan pasien berhak tahu betapa seriusnya. Tapi ia juga, dengan tenang, kembali kepada dr. Hutama dan berkata, "Dokter, pasien sudah saya sampaikan risikonya. Tapi tadi ia bertanya tiga hal yang belum dijawab, soal jenis operasi, soal bius, dan siapa yang mengoperasi. Persetujuan yang sah secara hukum harus diberikan dengan pemahaman. Kalau pertanyaannya tidak dijawab, tanda tangannya bisa dipersoalkan nanti." Ia menyampaikannya bukan sebagai pembelaan pasien, melainkan sebagai fakta tentang keabsahan persetujuan, persis seperti catatan juru bahasa yang ia tulis di kantor polisi. Bahasa, prosedur, keabsahan. Tanahnya sendiri.
Untuk sesaat dr. Hutama menatapnya, dan Gayatri tidak tahu apakah ia akan marah. Lalu sesuatu di wajah dokter muda itu berubah, kelelahan yang sejenak digantikan oleh kesadaran. Ia menarik napas, berjongkok agar sejajar dengan pasien, dan berkata lebih pelan, "Baik. Tolong terjemahkan, ya, Mbak." Lalu ia menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, satu per satu, ringkas tapi sungguh-sungguh. Operasinya mengangkat usus buntu yang meradang. Biusnya bius umum, akan tidur, akan dibangunkan setelahnya, risikonya kecil dan dipantau. Yang mengoperasi dokter bedah senior yang sudah dipanggil. Gayatri menerjemahkan semuanya, setiap kata, utuh.
Pasien menyimak. Wajahnya yang tadi panik perlahan menemukan sesuatu yang menyerupai ketenangan, bukan ketenangan orang yang dibujuk, tapi ketenangan orang yang akhirnya mengerti. Lalu ia mengangguk, dan tangannya bergerak. Saya mengerti sekarang. Saya setuju. Ia meraih pena dan menandatangani.
Seluruhnya memakan waktu mungkin sembilan puluh detik lebih lama daripada kalau Gayatri langsung membujuknya. Sembilan puluh detik yang, dalam usus buntu yang mau pecah, bisa berarti apa saja, atau tidak berarti apa-apa. Inilah yang membuat Gayatri merasa dingin saat menyaksikan pasien didorong masuk ruang operasi. Ia telah setia. Ia tidak mencuri suara siapa pun. Pasien memutuskan sendiri, dengan paham. Tapi ia tidak akan pernah tahu dengan pasti apakah sembilan puluh detik itu adalah harga keadilan atau harga keselamatan, apakah ia telah melindungi martabat pasien atau membahayakan hidupnya, dan tidak ada villain di ruangan ini yang bisa ia salahkan untuk keraguan yang menggerogotinya.
Di koridor IGD yang dingin, sambil menunggu kabar dari ruang operasi yang mungkin tak akan pernah sampai padanya, Gayatri menyadari bahwa Mursita benar tentang satu hal. Suatu hari ruangan akan memaksanya memilih, dan ia akan tahu jawabannya bukan dari kode etik, tapi dari apa yang tubuhnya lakukan saat tidak ada waktu untuk berpikir. Hari ini tubuhnya memilih kesetiaan pada pemahaman pasien. Tapi ia tidak yakin, dan ketidakyakinan itu, ia mulai mengerti, adalah harga yang harus dibayar oleh siapa pun yang menolak berpura-pura bahwa kaca itu tidak pernah membentuk cahaya.