Kabar itu pecah pada Selasa pagi, dan Gayatri mengetahuinya bukan dari Wulan, melainkan dari ponsel Bagas yang bergetar tanpa henti di meja makan. Adiknya menyorongkan layar itu ke arahnya, alisnya terangkat, jemarinya bergerak cepat: *Ini kamu?* Di layar ada tangkapan artikel dengan huruf tebal — dugaan salah terjemah, terdakwa Tuli, vonis yang mungkin keliru. Nama Gayatri tidak tercantum. Tapi ada satu kalimat, "juru bahasa yang menerjemahkan keterangan itu kini disebut-sebut hendak menarik pernyataannya," dan Gayatri tahu betul berapa sedikit orang yang cocok dengan kalimat sesempit itu.
Ia meletakkan sendoknya. Bubur di mangkuk sudah dingin sejak tadi.
Sepanjang hari layar-layar itu terus menyala. Di angkot, seseorang menonton video pendek berjudul *Kasus Damar: Ketika Bahasa Dikhianati* dengan suara pengisi yang dramatis, musik latar yang menghentak. Di ruang tunggu tempat ia menunggu penugasan yang kemudian dibatalkan, televisi menyiarkan potongan wawancara Wulan — tegas, artikulatif, tangannya bergerak menandai poin demi poin. Wulan tidak menyebut nama siapa pun. Wulan tidak perlu. Ia hanya bicara tentang sistem yang menaruh nyawa manusia di ujung tafsir seorang penerjemah, dan penonton yang budiman mengisi sisanya sendiri.
Gayatri menekan tombol daya di ponselnya sampai layar padam. Sesaat kemudian ia menyalakannya lagi. Rasa itu seperti menyentuh luka untuk memastikan luka masih di sana.
Ada yang menolong dalam badai ini — ia tak sanggup menyangkalnya. Pram menelepon petang itu dengan suara yang lebih ringan dari biasanya. Tekanan publik, katanya, membuat majelis tak bisa lagi memperlakukan permohonan banding sebagai berkas yang bisa didiamkan di laci. "Sekarang semua mata melihat," ujar Pram. "Itu bagus untuk Damar." Gayatri mengiyakan, karena memang benar, dan karena ia tak tahu bagaimana mengatakan bahwa "semua mata melihat" adalah persis yang membuat perutnya melilit.
Sebab mata-mata itu tidak melihat Damar. Mereka melihat sebuah cerita.
Ia menyadarinya penuh malam berikutnya, ketika Sekar mengiriminya tautan tanpa satu kata pun — hanya tautan, dingin dan telak. Sebuah unggahan telah menemukan foto Damar dari akun lama, mengaburkan sedikit wajahnya, lalu menyandingkannya dengan keterangan yang keliru soal apa yang ia perbuat. Kolom komentar penuh oleh orang-orang yang tak pernah mengenalnya, yang kini merasa berhak menghakimi atau mengasihaninya, dua-duanya sama-sama menelanjangi. Seseorang menulis: *kasihan ya, bisu, nggak bisa belain diri.* Gayatri menatap kalimat itu lama sekali. *Bisu.* Bukan Tuli. Bukan BISINDO. Bahkan istilah paling dasar pun mereka salah, dan mereka bicara seolah paham segalanya.
Ibu Damar, ia dengar dari Pram keesokan harinya, sampai mematikan ponsel selama dua hari karena tak tahan panggilan dari nomor-nomor asing. Ada yang mengaku wartawan, ada yang mengaku pendukung, ada yang datang ke gang rumah mereka membawa kamera. Perempuan itu yang selama ini menanggung kasus anaknya dalam sunyi, kini menemukan sunyinya direbut, diubah jadi tontonan yang bahkan tak memakai bahasanya.
"Kita tidak minta ini," gumam Gayatri kepada Bagas malam itu, dalam isyarat, di ruang tengah yang temaram.
Bagas menatapnya lama. *Wulan minta ini,* jawabnya. *Kamu diam-diam berharap ini.* Jeda. *Dua-duanya benar.*
Gayatri tidak membantah. Ia teringat percakapan dengan Wulan beberapa hari lalu, keraguannya sendiri yang ia ucapkan setengah hati, dan bagaimana ia diam-diam lega ketika roda itu akhirnya berputar tanpa perlu ia yang mendorong. Ia ingin kebenaran keluar. Ia hanya tidak ingin kebenaran keluar begini — sebagai tagar, sebagai wajah Damar yang diperjualbelikan untuk klik, sebagai dirinya sendiri yang perlahan berubah jadi sesuatu yang bukan dirinya.
Sebab itulah yang paling asing. Di suatu forum, seseorang menyebutnya — tidak dengan nama, tapi dengan peran — sebagai "juru bahasa yang berani melawan sistem." Kalimat itu seharusnya terdengar seperti pujian. Bagi Gayatri terdengar seperti tuduhan. Ia belum bersaksi. Ia belum melawan apa pun. Ia baru mengakui kepada satu orang bahwa ada frasa yang bisa ditafsir lain, dan kini ada orang-orang yang menobatkannya jadi pahlawan atas perbuatan yang belum ia lakukan, atas keberanian yang belum tentu ia punya. Mereka membangun patung, dan ia tahu betul betapa mudah patung dirobohkan begitu orangnya ternyata manusia biasa yang pernah keliru — yang justru keliru itulah pangkal semua ini.
Rani menelepon pada hari keempat. Suaranya rata, seperti biasa, dan justru kerataannya yang menusuk. "Kau lihat apa yang terjadi," kata Rani. "Sekali urusan kita jadi bahan tontonan, tak ada lagi yang bisa mengendalikannya. Bukan kau, bukan pengacara itu, bukan aktivis mudamu." Hening sejenak. "Aku tidak sedang menyalahkanmu. Aku hanya ingin kau tahu ongkos dari membuka pintu ini."
Gayatri menutup telepon tanpa banyak menjawab. Rani tidak salah. Itu yang membuatnya sulit. Semua orang di sekelilingnya memegang sepotong kebenaran, dan tak satu pun potongan itu cukup untuk membuatnya merasa benar.
Ia keluar ke balkon petang itu. Di seberang gang, dari jendela-jendela tetangga, cahaya biru layar berpendar satu-satu — orang-orang menonton entah apa, mungkin berita, mungkin bukan. Di suatu tempat di kota ini, ibu Damar duduk dengan ponsel yang sengaja dimatikan. Di suatu tempat, Damar sendiri, yang bahkan tak bisa mendengar riuh yang menyebut namanya, menjadi pusat dari badai yang tak akan pernah benar-benar sampai ke telinganya dalam bahasa yang ia pahami.
Gayatri menggenggam ponselnya sendiri, layarnya gelap, dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari ia membiarkannya tetap gelap. Badai itu menolong. Badai itu melukai. Ia berdiri di antara keduanya, sadar bahwa ia tak lagi memegang kendali atas cerita yang dulu ia kira miliknya — dan bahwa mungkin, sejak semula, cerita itu memang bukan miliknya untuk dikendalikan.