Wulan menaruh gawainya di meja, layar menghadap ke atas, seakan benda itu sendiri sudah cukup jadi argumen. Di layar itu sebuah utas panjang tentang seorang terdakwa Tuli di kota lain, difoto dari balik jeruji, ditandai ribuan orang. Kedai kopi kecil di gang belakang kampus itu ramai oleh mahasiswa dan dengung mesin espreso, dan Gayatri harus mencondongkan badan untuk membaca.
"Ini yang kubilang," kata Wulan. Tangannya bergerak setengah, kebiasaan yang tak pernah ia lepas meski lawan bicaranya mendengar. "Orang tergerak kalau ada wajah, ada nama. Kasus Damar punya semua yang mereka butuh. Ada rekaman. Ada mistranslation yang bisa dijelaskan dalam satu grafik. Ada pola yang sudah kaubaca sendiri di berkas-berkas lain."
Gayatri melingkarkan jari pada cangkirnya yang mulai dingin. "Dan ada Damar."
"Justru karena ada Damar." Wulan menegakkan punggung. "Selama ini yang menentukan kasusnya cuma jaksa, aparat, asosiasi—semua yang punya kepentingan supaya hasil lama bertahan. Kita lawan mereka di ruang tertutup, kita kalah pelan-pelan. Bawa ke terang, keseimbangannya berubah. Tekanan publik itu nyata. Sidang ulang saja tak akan dikabulkan kalau bukan karena ada yang mulai bicara."
Itu benar, dan kebenarannya membuat Gayatri tak nyaman. Ia sudah merasakan sendiri bagaimana sorotan dari layar—yang pernah muncul beberapa waktu lalu, samar dan tak bernama—diam-diam menggeser cara orang memperlakukan kasus ini. Tapi ia juga sudah membaca kolom-kolom komentar di utas yang kini menyala di depannya.
"Kau baca sampai bawah?" Gayatri memutar gawai itu ke arah Wulan, menggulir. "Yang ini menebak-nebak apa 'sebenarnya' yang diperbuat si terdakwa. Yang ini menyalahkan keluarganya. Yang ini menautkan alamat rumah." Ia berhenti. "Mereka pikir sedang membela. Tapi orang yang mereka bela sedang duduk di suatu tempat, tak bisa mematikan apa pun."
Wulan tidak langsung menjawab. Di luar jendela, hujan sore mulai turun, menggaris kaca.
"Kau memikirkan ongkosnya untuk mereka," kata Wulan akhirnya. "Aku memikirkan ongkosnya kalau kita diam. Dua-duanya ada harganya, Gayatri. Tidak ada pilihan yang gratis."
"Aku tahu tidak ada yang gratis." Suara Gayatri rendah. "Tapi yang membayar bukan kau, bukan aku. Ibu Damar menjual apa saja untuk ongkos pengacara. Adiknya masih sekolah. Begitu nama itu jadi tagar, ia tak bisa ditarik lagi. Kariernya bisa kutebus dengan kesaksian. Wajah keluarga yang beredar di mana-mana tidak bisa ditebus siapa-siapa."
Ia teringat menjenguk Damar tempo hari, berbahasa langsung tanpa perantara, bagaimana pemuda itu bertanya dengan isyarat kecil apakah orang-orang di luar sudah tahu, dan wajahnya waktu Gayatri ragu menjawab. Damar tidak menanyakan pembelaan. Ia menanyakan siapa saja yang sedang membicarakannya.
"Kau selalu bilang penerjemah wajib menandai ambiguitas," lanjut Gayatri. "Menandai, supaya majelis, supaya ahli, supaya orang yang berwenang menimbang bisa melihat. Itu aku mengerti. Tapi menyerahkan seluruh kasus ke keramaian yang tak menimbang apa-apa—itu bukan menandai. Itu melempar."
"Itu tidak adil." Wulan menajam sedikit, lalu menahan diri. "Aku tidak melempar siapa-siapa. Aku sudah bicara dengan dua jurnalis yang menulis soal disabilitas bertahun-tahun. Mereka tahu cara melindungi identitas. Ada cara membingkai ini sebagai persoalan sistem—tidak ada CDI, keterangan diambil terburu-buru, tak ada pengaman prosedur—tanpa menelanjangi satu keluarga."
"Dan begitu bola menggelinding, kau bisa jamin ia berhenti di tempat yang kaupilih?" Gayatri menggeleng pelan. "Aku pernah menerjemahkan sesuatu yang kukira jelas, Wulan. Aku paling tahu bagaimana rasanya kehilangan kendali atas makna setelah ia lepas dari tanganku."
Kalimat itu jatuh di antara mereka dan tak seorang pun buru-buru mengangkatnya. Wulan menatapnya lama, dan untuk sesaat kekerasan di wajahnya melunak jadi sesuatu yang lebih tua dari usianya.
"Aku tidak menyuruhmu memutuskan hari ini," katanya. "Aku cuma tidak mau kau memutuskan tidak karena takut. Ada bedanya antara melindungi Damar dan melindungi diri sendiri, dan kadang yang kedua menyamar jadi yang pertama."
Gayatri merasakan tusukan itu, karena sebagiannya benar. Ia memang takut—takut pada pemeriksaan etik yang sedang berjalan, takut namanya diobok-obok lebih dari yang sudah, takut jadi simbol dari sesuatu yang tak sanggup ia kendalikan. Tapi ia juga cukup lama bekerja di antara dua dunia untuk tahu bahwa keputusan yang benar dan ketakutan bisa menunjuk ke arah yang sama, dan itu tidak membuat yang satu membatalkan yang lain.
"Keputusan ini bukan milikku," kata Gayatri. "Itu yang membuatnya susah. Kariernya, ya, itu milikku, dan aku sudah berdamai dengan risikonya. Tapi membawa Damar ke terang—itu harus dari dia. Atau dari keluarganya. Atau dari Pram yang memahami bagaimana ini bisa memengaruhi banding. Bukan dari kita berdua di kedai kopi karena kita yakin sedang benar."
Wulan mengambil gawainya kembali, mematikan layar. Pantulan lampu kedai menghilang dari kaca itu.
"Kalau begitu tanyakan pada mereka," katanya. "Bukan aku. Tanyakan pada Pram apakah sorotan menolong banding atau merusaknya. Tanyakan pada ibu Damar apa yang sanggup ia tanggung. Aku cuma minta satu hal: jangan kaukubur pilihan ini karena kau lebih nyaman menanggungnya sendirian di dalam ruang tertutup." Ia berdiri, menyampirkan tas. "Diam juga sebuah tafsir, Gayatri. Dan tafsir itu pun bisa salah."
Ia pergi ke dalam hujan, membiarkan pintu berayun. Gayatri tetap duduk di sana, di depan cangkir dingin dan meja yang tiba-tiba terasa terlalu lebar, menimbang kata "terang"—yang seharusnya berarti melihat lebih jelas, tapi bisa juga berarti disorot sampai tak ada tempat berlindung. Di luar, lampu-lampu gang mulai menyala satu-satu, dan tak satu pun dari mereka bertanya lebih dulu pada apa yang mereka terangi.