Kopi di cangkir Laras sudah dingin jauh sebelum perempuan itu menyentuhnya. Gayatri memperhatikan jari-jari kawannya melingkari keramik tanpa niat mengangkatnya, dan dari gerak sekecil itu ia sudah tahu—sebelum sepatah kata pun diucapkan—bahwa pertemuan ini bukan pertemuan yang dulu-dulu.
Mereka duduk di sudut kedai yang biasa, meja yang sama tempat dua tahun terakhir mereka membagi jadwal, menukar cerita sesi yang berat, saling menutupi ketika salah satu harus izin di tengah penugasan panjang. Laras yang mengajari Gayatri cara menghemat tenaga di sidang berjam-jam: bergantian tiap dua puluh menit, satu mengisyarat, satu memantau, seperti dua pendayung yang tahu kapan harus menyimpan lengan. Ada bahasa antara mereka yang lebih tua dari kata.
"Aku minta maaf soal pelatihan minggu depan," kata Laras. Ia menatap gula yang tak ia aduk. "Panitia sudah cari orang lain."
"Kukira kita berdua yang pegang. Dua hari penuh, mustahil sendirian."
"Mereka pikir lebih rapi kalau satu tim yang belum—" Laras berhenti. Memilih kata seperti orang meniti papan lapuk. "Yang belum ramai namanya."
Gayatri membiarkan kalimat itu menggantung. Di luar jendela, hujan turun malas, membuat lampu jalan meleleh di aspal. Ia bisa saja pura-pura tak paham. Tapi ia sudah terlalu lelah untuk main-main dengan sopan santun.
"Yang belum ramai namanya," ulangnya pelan. "Maksudmu aku."
"Aku tidak bilang begitu."
"Kau tidak perlu."
Laras akhirnya mengangkat wajah. Dan di sana Gayatri melihat sesuatu yang lebih menyakitkan daripada permusuhan: rasa bersalah. Kawannya tidak membencinya. Kawannya sedang menyelamatkan diri, dan tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
"Kau tahu aku baru ajukan perpanjangan sertifikasi," kata Laras, suaranya turun. "Berkasnya di meja orang-orang yang sama yang sekarang buka pemeriksaan atasmu. Aku punya dua anak, Ga. KPR. Aku tidak bisa—" Ia menarik napas. "Aku tidak bisa kelihatan berdiri terlalu dekat denganmu sekarang."
Kelihatan. Kata itu menancap. Bukan berdiri di sisiku—kelihatan berdiri. Seakan yang penting bukan kebenaran, melainkan dari sudut mana orang menontonnya.
"Aku tidak minta kau membelaku," kata Gayatri. "Aku cuma butuh partner untuk pelatihan penerjemahan dasar. Itu pekerjaan biasa. Tidak ada urusannya dengan Damar."
"Semua ada urusannya dengan Damar sekarang." Laras mengucapkannya tanpa kebencian, hanya kepasrahan orang yang sudah menghitung ongkos. "Kau tidak lihat grup? Setiap kali namamu disebut, ada saja yang menambahi. Rani menulis panjang soal marwah. Ada yang japri aku, tanya benar tidak aku pernah satu tim denganmu, seolah itu penyakit yang menular."
Gayatri teringat obrolan-obrolan yang tiba-tiba sepi ketika ia masuk ruang. Undangan koordinasi yang belakangan tak lagi sampai ke ponselnya. Ia kira itu kelalaian. Ternyata bukan.
"Dan kau menjawab apa?" tanya Gayatri.
Hening sejenak. Hujan mengetuk kaca.
"Aku bilang kita cuma kenal sebatas kerja." Laras menunduk lagi. "Aku minta maaf. Itu bohong yang paling kecil yang bisa kupilih."
Ada banyak hal yang ingin Gayatri katakan. Bahwa mereka pernah menangis bersama di parkiran rumah sakit setelah menjembatani kabar duka untuk sebuah keluarga Tuli. Bahwa Laras pernah menginap di rumahnya waktu genting air pecah dan Bagas mengantar mereka berdua ke bidan. Bahwa "sebatas kerja" adalah penghapusan, bukan sekadar penjagaan jarak. Tapi ia menahannya. Menuntut kesetiaan dari orang yang sedang ketakutan hanya akan menambah satu beban lagi ke pundak yang sudah miring.
"Kalau aku jadi kau," kata Gayatri hati-hati, "mungkin aku juga hitung-hitungan begini."
Ia sungguh-sungguh. Itulah yang membuatnya perih. Ia mengerti Laras terlalu baik untuk marah dengan bersih. Sistem yang menekan mereka tidak menyodorkan penjahat untuk dibenci; ia hanya membuat orang-orang baik saling menjauh, satu per satu, demi bertahan.
"Kau tidak marah?" Laras hampir tampak kecewa, seolah amarah akan lebih mudah ditanggung ketimbang pengertian ini.
"Aku capek marah." Gayatri menghabiskan kopinya yang juga sudah dingin. "Tapi aku akan ingat, Laras. Bukan untuk membalas. Cuma ingat."
Ia berdiri, merapikan syal, meninggalkan uang di bawah tatakan seperti biasa—selalu ia yang bayar duluan, kebiasaan lama yang tak sempat ia hentikan. Dulu, tiap kali mereka berpisah di kedai ini, Laras akan mengantarnya sampai pintu, memayunginya sampai motor, melambai sampai lampu belok. Ritual kecil yang tak pernah mereka namai.
Kali ini Laras tetap duduk.
"Ga." Suara itu menghentikannya di ambang. "Kalau semua ini sudah lewat—"
"Aku tahu," potong Gayatri, tanpa berbalik penuh, agar kawannya tak melihat matanya. "Kalau semua ini sudah lewat."
Kalimat yang tak diselesaikan siapa-siapa. Keduanya paham itu bukan janji, hanya jalan keluar yang sopan.
Di luar, hujan menerima dirinya tanpa payung. Ia menyusuri trotoar pelan-pelan, membiarkan air membasahi bahu. Bukan pelatihan yang hilang malam itu—penugasan datang dan pergi, ia akan menemukan yang lain. Yang hilang adalah tangan yang dulu ia percaya akan menggantikan tangannya sendiri ketika lengannya sudah tak sanggup mengangkat, di menit kedua puluh sesi yang panjang, ketika seluruh ruang bergantung pada gerak jari yang tepat.
Ia menghitung dalam hati siapa saja yang masih tersisa. Bagas, selalu Bagas. Pram, yang terikat kepentingan kasus. Wulan, yang berdiri di sisinya karena percaya, bukan karena aman. Daftar itu memendek dengan cara yang membuat dadanya sesak. Setiap nama yang ia coret bukan karena mereka jahat, melainkan karena mereka takut—dan ketakutan mereka masuk akal, dan itulah bagian yang paling sulit dimaafkan pada keadaan, bukan pada orangnya.
Ponselnya bergetar. Grup koordinasi juru bahasa. Ia membuka layar, dan menemukan namanya baru saja dikeluarkan dari daftar—diam-diam, tanpa pengumuman, seolah ia tidak pernah ada di sana. Ada yang mengetik "sudah dirapikan keanggotaannya," lalu jempol-jempol kecil bermunculan seperti tetes hujan.
Gayatri mengunci layar. Berjalan terus. Air mengalir di pipinya, dan ia bersyukur pada hujan yang membuat tak ada yang bisa membedakan.