Surat itu datang lewat surel resmi asosiasi, tembusan ke tiga alamat yang tidak ia kenal. Gayatri membacanya di meja dapur pukul enam pagi, kopi belum sempat mengepul, dan pada baris kelima ia berhenti menyeruput. Bukan panggilan sidang etik yang sudah ia tahu akan datang. Ini sesuatu yang lebih halus dan lebih tajam: sebuah nota keberatan yang, katanya, diajukan pihak yang berkepentingan atas kredibilitas juru bahasa dalam permohonan peninjauan kasus Damar. Di lampirannya, daftar. Delapan kasus lama. Semua bertahun nama Gayatri di kolom penerjemah.
Ia mengenali nomor-nomor perkara itu seperti orang mengenali bekas luka sendiri. Mediasi ketenagakerjaan tiga tahun lalu. Keterangan saksi Tuli di kasus lalu lintas. Sesi medis yang diributkan karena keluarga pasien tak puas. Hal-hal biasa yang di masa itu ia tuntaskan tanpa cela, atau ia kira begitu. Kini semuanya dijejer ulang, dibingkai bukan sebagai rekam jejak melainkan sebagai pola kelemahan. Seolah bila cukup banyak titik dikumpulkan, akan muncul garis yang membuktikan bahwa perempuan ini memang tak pernah bisa dipercaya sejak awal.
Pram menelepon menjelang siang. Suaranya rata, cara ia bicara kalau sedang menahan sesuatu.
"Mereka tidak menyerang terjemahan Damar secara langsung," kata Pram. "Terlalu berisiko. Kalau mereka bahas isi terjemahan, kita justru punya panggung untuk membuktikan ambiguitasnya. Jadi mereka menyerang Anda."
"Saya," ulang Gayatri.
"Logikanya sederhana dan kotor. Kalau juru bahasanya bisa dibuat tampak ceroboh, tak stabil, tak kompeten—maka setiap pengakuannya soal kesalahan sendiri jadi tak bernilai. Anda mengaku keliru? Ya, karena Anda memang selalu keliru. Anda menarik terjemahan lama? Ya, karena Anda tak pernah becus dari dulu. Mereka membalik pengakuan jujur jadi bukti ketidakcakapan."
Gayatri menatap daftar delapan perkara itu di layar. Ia paham. Bila ia jujur mengakui satu kesalahan, sistem tidak akan berterima kasih atas kejujuran itu; sistem akan memakainya sebagai pintu untuk membatalkan semua yang lain, termasuk banding Damar.
"Kasus mediasi PHK itu," katanya pelan. "Yang nomor dua dari atas. Pekerja itu kalah karena saya menerjemahkan persis, tanpa melunakkan. Saya netral sampai ke tulang. Dan sekarang kasus yang sama dipakai untuk bilang saya tidak kompeten?"
"Mereka tidak butuh konsisten," jawab Pram. "Mereka butuh keraguan."
Sore itu ia pergi ke kantor asosiasi, bukan karena dipanggil, tapi karena tak sanggup diam. Rani ada di sana, di ruang rapat kecil dengan seorang pengurus yang wajahnya ia kenal samar. Percakapan terputus saat Gayatri masuk. Ada jeda yang tak enak, jenis jeda yang memberi tahu bahwa namanya baru saja disebut.
"Aku dengar ada nota keberatan," kata Gayatri. Ia berusaha menahan getar di suaranya. "Yang mengorek kasus-kasus lamaku."
Rani mengatur napas. "Bukan asosiasi yang mengajukan itu."
"Tapi asosiasi meneruskannya. Menembuskannya. Memberi cap resmi."
"Kami wajib memproses setiap keberatan yang masuk prosedur." Rani berkata itu seperti membaca pasal. "Kalau kami menolak memprosesnya, orang akan bilang kami menutupi anggota sendiri. Kau paham posisi kami."
"Posisi kalian," Gayatri mendengar dirinya berkata, "adalah membiarkan rekam jejak seorang juru bahasa dijadikan senjata untuk membatalkan banding seorang pemuda Tuli. Bukan soal aku, Bu. Kalau mereka berhasil bikin aku tampak tak becus, Damar yang bayar."
Pengurus di sudut itu berdeham. "Justru karena itu," katanya, "lebih baik semua ini tidak dibawa ke ruang majelis sama sekali. Kompetensi anggota diuji di depan hakim—itu mencoreng seluruh profesi. Bukan cuma kau."
Di situ Gayatri mengerti bentuk sesungguhnya dari tekanan ini. Bukan sekadar mendiskreditkannya. Ini cara mengirim pesan kepada setiap juru bahasa yang menonton: lihat, inilah yang terjadi bila kau mengakui tanganmu sendiri keliru. Mereka akan bongkar seluruh hidupmu. Diam lebih aman. Marwah profesi dijaga dengan cara memastikan tak seorang pun berani jujur.
Malamnya ia membuka arsip pribadinya. Map-map lama, catatan sesi, salinan berkas yang ia simpan bertahun-tahun karena ia jenis orang yang tak bisa membuang apa pun. Ia telusuri delapan perkara itu satu per satu, bukan untuk membela diri, tapi untuk mengukur sendiri seberapa jauh mereka benar. Ada satu, ia akui, yang memang lemah—sesi medis dengan register terlalu tinggi untuk pasien, di mana ia sekarang tahu isyarat ruang tertentu bisa ia baca lebih hati-hati. Tapi tujuh sisanya bersih. Kompeten. Bahkan pada beberapa, ia bekerja lebih teliti dari yang dituntut.
Justru itu yang membuat dadanya sesak. Bukan karena tuduhan itu benar, tapi karena kebenaran tak lagi jadi ukuran. Rekam jejak yang bagus pun bisa dibingkai jadi jelek asal ada niat membingkainya. Netralitas yang ia jaga mati-matian di kasus PHK itu—yang membuat seorang pekerja kalah, yang membuatnya insomnia berbulan—kini dipakai melawannya seolah bukti kecerobohan. Tak ada jalan yang benar. Ia jujur, dihukum. Ia netral, dihukum. Sistem tidak sedang mencari kesalahan; sistem sedang mencari alasan.
Ia mengirim pesan pendek ke Wulan sebelum tidur. Mereka menyerang rekam jejakku. Delapan kasus.
Balasan datang cepat, seperti biasa. Bagus. Kalau mereka repot-repot mengorek delapan kasus lama, artinya mereka tak punya cara membantah yang satu itu. Mereka takut, Yatri. Orang yang yakin tidak perlu mempermalukanmu.
Gayatri menatap layar itu lama. Ia tidak merasa menang. Tapi untuk pertama kali sejak surel pagi itu, ia merasa sesuatu yang keras dan tenang mengendap di dalamnya, menggantikan panik. Mereka mengobok-obok seluruh hidupnya untuk membuktikan ia tak layak dipercaya. Yang tak mereka duga: setelah dua puluh tahun menerjemahkan hidup orang lain, ia justru paling paham beda antara suara yang mencari kebenaran dan suara yang cuma ingin menang. Dan ia tahu, dari cara daftar itu disusun, siapa yang sedang berbicara.
Ia menutup map terakhir, mematikan lampu meja, dan membiarkan kalimat Damar dulu—isyarat ruang yang salah ia baca—berputar sekali lagi di kepalanya sebelum tidur tak juga datang.