Pesan pertama datang pada Selasa pagi, sebelum Gayatri sempat menuang kopi. Nomor tak dikenal, tanpa nama, hanya deretan angka yang berakhir ganjil. Isinya pendek: Pikirkan baik-baik sebelum bicara di depan majelis. Banyak yang akan rugi, tidak cuma kamu. Ia membacanya dua kali, lalu meletakkan ponsel telungkup di meja seolah dengan begitu kalimat itu tidak bisa lagi menatapnya balik. Kopi tetap ia tuang. Uapnya naik, dan ia memandanginya sampai dingin.
Ia tidak membalas. Rani pernah mengajarinya, dulu, dalam konteks yang sama sekali berbeda: kalau ada pihak yang mencoba menarikmu ke dalam percakapan yang tak kaupilih, cara paling aman adalah tidak masuk. Maka Gayatri tidak masuk. Ia menghapusnya — lalu, setelah ragu sebentar, mengembalikannya dari folder terhapus dan menyimpannya di satu berkas bernama datar, hanya tanggal. Entah untuk apa. Barangkali karena Pram pernah bilang, di lain hal, bahwa yang ditulis selalu lebih berat timbangannya daripada yang diingat.
Siangnya, di ruang tunggu sebuah klinik tempat ia dijadwalkan menjembatani seorang ibu Tuli dan dokter kandungan, seorang perempuan yang tak ia kenal duduk di sebelahnya dan bicara pelan tanpa menoleh, seolah pada dinding. "Saya dengar Mbak yang di kasus itu," katanya. "Hati-hati. Kadang orang yang mau tampil paling bersih malah yang paling banyak nutupi." Lalu perempuan itu dipanggil masuk lebih dulu, dan Gayatri tidak pernah tahu apakah kalimat tadi ditujukan padanya atau hanya kebetulan yang jatuh keliru. Ia menjembatani sesi ibu itu dengan tangan yang, ia sadari, sedikit lebih lambat dari biasanya. Ibu itu tidak mengeluh. Dokter tidak menyadari apa-apa. Hanya Gayatri yang tahu bahwa ia sempat, satu detik, kehilangan kata untuk plasenta dan harus mengejarnya kembali.
Panggilan datang malam-malam. Selalu nomor berbeda, selalu diangkat oleh keheningan lebih dulu, seakan ada yang menunggu ia bicara duluan. Sekali ia dengar tarikan napas. Sekali ada suara televisi jauh di latar, acara masak, tawa penonton yang direkam. Ia tak pernah mendengar ancaman. Justru itu yang melelahkan — tidak ada yang bisa ia laporkan, tidak ada kalimat yang bisa ia kutip pada siapa pun sebagai bukti. Hanya rasa bahwa ada orang, di suatu tempat, yang tahu jam berapa ia biasa lelah dan memilih jam itu untuk menelepon.
Ia mulai mematikan nada dering. Lalu ia sadar bahwa mematikannya pun sebuah kemenangan kecil bagi mereka, siapa pun mereka, karena artinya ia sudah menyesuaikan hidupnya. Ia menyalakannya kembali. Ia benci betapa banyak keputusan sepele yang tiba-tiba jadi soal prinsip.
Desas-desus bekerja lebih licin. Ia tak melihatnya langsung; ia hanya merasakan tepinya. Seorang kenalan lama, sesama juru bahasa, membalas pesan koordinasi jadwalnya dengan setengah kalimat dan tanpa emoji yang biasa ia bubuhkan. Sebuah undangan pelatihan yang dulu pasti sampai ke mejanya, kali ini tidak. Di grup profesi, sebuah utas soal "menjaga kepercayaan publik terhadap juru bahasa" muncul tanpa menyebut nama, dan setiap orang tahu, dan tak seorang pun perlu menyebut. Gayatri membaca komentar-komentarnya sampai habis, mencari dirinya di sela baris, dan menemukannya di mana-mana justru karena tak disebut sama sekali.
Ia menimbang untuk bercerita pada Pram, lalu mengurungkannya. Pram akan menganggapnya bagian dari pola, akan mencatatnya, akan menyusunnya jadi sesuatu yang berguna untuk banding, dan Gayatri belum ingin pesan-pesan itu berubah jadi amunisi. Ia belum ingin mereka jadi apa-apa. Ia hanya ingin mereka berhenti, dan ia tahu keinginan itu kekanak-kanakan.
Wulan yang akhirnya menebak, dari cara Gayatri terlalu cepat menutup ponsel saat mereka bertemu untuk membahas berkas. "Kamu dapat kiriman," kata Wulan. Bukan pertanyaan.
Gayatri tidak menyangkal. "Tidak ada yang mengancam apa pun," katanya. "Itu yang bikin capek. Kalau ada yang bilang 'awas kamu', aku bisa marah. Ini cuma... dingin. Seperti orang menaruh tangan di punggungmu di keramaian dan mendorong pelan, terus-menerus, sampai kamu sendiri yang capek berdiri."
Wulan diam sebentar. "Mereka tidak butuh kamu takut," katanya kemudian. "Mereka cuma butuh kamu lelah. Orang lelah lebih gampang mundur daripada orang takut. Dan mundur selalu bisa dibilang keputusan sendiri."
Kalimat itu menempel pada Gayatri sepanjang perjalanan pulang. Ia menyadari betapa cerdiknya bentuk tekanan ini: tak ada yang menyuruhnya berhenti. Setiap pesan seakan hanya menganjurkan ia berpikir, hati-hati, mempertimbangkan orang lain. Kata-kata yang, di mulut Rani, adalah kebajikan profesi; di layar dari nomor tak bernama, jadi jerat. Ia tidak bisa membenci kalimat-kalimat itu tanpa sedikit membenci sebagian dirinya sendiri yang juga percaya pada kehati-hatian.
Malam itu ia duduk di lantai kamar dengan lampu setengah, memutar bandul kecil di rantai kunci Bagas yang dulu ia pinjam dan lupa kembalikan. Ponsel bergetar sekali di atas kasur. Ia tidak mengambilnya. Getaran itu berhenti, lalu sunyi memenuhi kamar seperti air yang perlahan naik. Ia membiarkan dirinya lelah, sungguh-sungguh lelah, tanpa buru-buru mengubahnya jadi keteguhan. Ia pikir ia berutang kejujuran itu pada dirinya: mengakui bahwa ini menggerus, bahwa ada bagian dalam dirinya yang, jam dua pagi, benar-benar mempertimbangkan untuk diam saja dan membiarkan semuanya lewat.
Tapi mempertimbangkan bukan memutuskan. Ia tahu bedanya sekarang, setelah berbulan-bulan belajar duduk dengan hal-hal yang tak nyaman tanpa langsung menyelesaikannya. Ia mengambil ponsel, membuka berkas berisi tanggal-tanggal itu, dan menambahkan satu baris lagi — bukan untuk Pram, bukan untuk siapa-siapa, hanya catatan bahwa malam ini pun ia masih di sini. Lalu ia menaruhnya kembali, telungkup, dan mematikan lampu. Getaran berikutnya, kalau datang, akan menemukannya sudah tidur — atau setidaknya berbaring diam, yang untuk sekarang cukup mirip.